SOLO, MENARA62.COM – Program Profesi Dokter Gigi (PPDG) Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id kembali mencatat prestasi membanggakan dengan meraih kelulusan 100 persen pada Uji Kompetensi Nasional (UKOMNAS) bagi peserta first taker. Sebanyak 31 mahasiswa dinyatakan lulus dalam satu kali kesempatan (one shot), sekaligus menjadi capaian kelima berturut-turut bagi PPDG FKG UMS.
Dekan FKG UMS, Dr. drg. Noor Hafida Widyastuti, Sp.KG., menyampaikan bahwa keberhasilan tersebut merupakan hasil dari sistem pembinaan dan pendampingan yang telah terintegrasi dalam kurikulum program profesi.
“Alhamdulillah ini sudah kelima kali untuk Prodi Profesi FKG UMS mendapatkan hasil 100 persen one shot. Jadi lulus semua untuk mahasiswanya,” ujarnya, Jumat (22/5).
Ia menjelaskan, sebelum mengikuti UKOMNAS, mahasiswa terlebih dahulu mendapatkan pembekalan intensif selama satu bulan. Dalam masa tersebut, mahasiswa memperoleh mentoring dari dosen di masing-masing bidang ilmu untuk memperkuat pemahaman materi sekaligus membahas soal-soal yang kerap muncul dalam ujian kompetensi.
“Dosen memberikan pembekalan dan mentoring, termasuk pembahasan soal-soal yang mungkin pernah keluar di ujian kompetensi. Jadi mahasiswa bisa mengetahui bagian yang masih kurang dan diperdalam kembali,” jelas Noor Hafida.
Menurutnya, program mentoring tersebut bukan pendampingan tambahan, melainkan sudah menjadi bagian dari kurikulum Program Profesi Dokter Gigi UMS. Mahasiswa yang telah memenuhi seluruh syarat akademik dan klinis wajib mengikuti ujian komprehensif sebelum memasuki tahap mentoring persiapan UKOMNAS.
Dalam pelaksanaannya, UKOMNAS terdiri atas dua jenis ujian, yakni Computer Based Test (CBT) dan Objective Structured Clinical Examination (OSCE). CBT menguji kemampuan kognitif mahasiswa, sedangkan OSCE berfokus pada keterampilan klinis melalui simulasi tindakan medis.
Noor Hafida menjelaskan bahwa tantangan terbesar mahasiswa biasanya muncul saat menghadapi ujian OSCE. Dalam ujian tersebut, peserta harus menyelesaikan simulasi klinis di delapan stase berbeda dalam waktu terbatas dengan pengawasan langsung dari penguji.
“Mahasiswa harus bisa mengelola rasa grogi dan menyelesaikan instruksi dengan baik dalam waktu sekitar 10 menit di setiap stase,” tuturnya.
Selain menjalani pembelajaran akademik, mahasiswa profesi FKG UMS juga menjalankan praktik klinis di Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Soelastri. Di sana, mahasiswa diwajibkan memenuhi berbagai requirement klinis melalui penanganan pasien secara langsung sesuai target yang telah ditentukan pada tiap semester.
Program profesi FKG UMS sendiri ditempuh selama empat semester atau dua tahun. Namun, menurutnya, terdapat sejumlah mahasiswa yang mampu menyelesaikan seluruh persyaratan akademik dan klinis dalam waktu kurang dari dua tahun.
“Alhamdulillah ada mahasiswa yang bisa menyelesaikan kurang dari dua tahun, sekitar satu tahun tujuh atau delapan bulan,” katanya.
Keberhasilan tersebut juga menunjukkan luasnya sebaran mahasiswa PPDG FKG UMS yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Berdasarkan data sebaran asal mahasiswa, peserta UKOMNAS berasal dari sejumlah provinsi seperti Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Riau, Lampung, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tenggara, Sumatera Selatan, hingga Sumatera Barat.
Noor Hafida mengapresiasi perjuangan mahasiswa serta dukungan seluruh sivitas akademika FKG dan UMS dalam mempertahankan capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan kelulusan 100 persen tidak lepas dari kerja sama berbagai pihak, termasuk ikhtiar spiritual melalui doa bersama menjelang ujian.
“Kami berharap keberhasilan ini bisa berkelanjutan dan untuk ujian-ujian selanjutnya bisa mendapatkan hasil yang memuaskan seperti ini, yaitu 100 persen one shot,” pungkasnya. (*)
