KLATEN, MENARA62.COM – Guru tidak boleh terjebak dalam rutinitas yang membuat semangat mengajar memudar. Sebaliknya, pendidik harus terus bertumbuh, mengembangkan kompetensi, serta menjadikan profesi guru sebagai amanah untuk melahirkan generasi unggul.
Pesan itu disampaikan Ust. Pujiono, S.Pd., S.Si., M.M., Mudir PonpesMU Manafi’ul ‘Ulum Canden, Sambi, Boyolali, saat menjadi narasumber dalam Sarasehan Keluarga Besar SMK Negeri 1 Ngawen Gunungkidul bertema “Keluarga Menguatkan, STEMSANGA Membanggakan: Bersama Menjaga Harmoni, Bersinergi Meraih Prestasi” di Trucuk, Klaten, Jumat (7/8/2026).
Kegiatan yang berlangsung di kediaman Samsu Sartono, S.Pd., itu dihadiri Kepala SMK Negeri 1 Ngawen Gunungkidul Drs. Sriyono, M.Ds., beserta keluarga besar sekolah.
Dalam pemaparannya, Pujiono mengingatkan bahwa profesi guru bukan sekadar pekerjaan yang dijalani setiap hari, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
“Jangan sampai guru terjebak dalam rutinitas harian. Pergi pagi-pagi, pulang petang, begitu setiap hari. Tahu-tahu kita sudah tua,” ujarnya.
Menurutnya, guru perlu terus merefleksikan makna profesinya. Alih-alih hanya memikirkan apa yang diperoleh dari pekerjaan, guru semestinya bertanya tentang kontribusi yang telah diberikan kepada peserta didik dan masyarakat.
Tiga Sikap Guru Profesional
Dalam sarasehan tersebut, Pujiono mengajak para guru mensyukuri profesinya melalui tiga sikap utama.
Pertama, tidak menzalimi profesi. Guru harus menjalankan tugas secara maksimal dan tidak sekadar menggugurkan kewajiban mengajar.
“Anak-anak berhak mendapatkan guru terbaik yang kita mampu berikan,” tegasnya.
Kedua, terus mengembangkan kompetensi. Menurutnya, perkembangan teknologi, perubahan karakter peserta didik, hingga hadirnya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) menuntut guru untuk terus belajar.
Ia menilai guru yang tidak mengalami perkembangan dalam lima hingga sepuluh tahun perlu melakukan evaluasi diri agar tetap relevan dengan kebutuhan pendidikan masa kini.
“Guru hebat bukan guru yang merasa sudah hebat, tetapi guru yang tidak pernah berhenti belajar dan memperbaiki diri,” katanya.
Ketiga, menerima ketentuan Allah SWT dengan ikhlas. Setiap guru memiliki perjalanan, tantangan, dan rezeki yang berbeda sehingga perlu dijalani dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.
Prestasi Harus Beriringan dengan Karakter
Selain peningkatan kompetensi, Pujiono juga mengingatkan pentingnya membangun budaya sekolah yang harmonis, saling menguatkan, dan berorientasi pada pengabdian.
Menurutnya, keberhasilan sekolah tidak hanya diukur dari banyaknya prestasi, tetapi juga dari karakter para pendidiknya.
“Jangan hanya mengejar sekolah berprestasi, tetapi mari membangun guru yang berprestasi sekaligus berkarakter. Jangan hanya hebat di dunia, tetapi juga selamat di akhirat,” ujarnya.
Ia optimistis SMK Negeri 1 Ngawen Gunungkidul mampu terus berkembang di bawah kepemimpinan Sriyono melalui kolaborasi seluruh warga sekolah.
“Insya Allah, guru-guru SMK Negeri 1 Ngawen adalah guru-guru hebat. Hebat dalam mengajar, hebat dalam mendidik, hebat dalam memberi keteladanan, dan yang paling penting hebat dalam menjalankan amanah Allah,” tutup Pujiono.
Sarasehan tersebut menjadi momentum refleksi bagi keluarga besar SMK Negeri 1 Ngawen bahwa profesi guru merupakan jalan pengabdian. Di tengah rutinitas yang terus berulang, semangat belajar, keteladanan, dan profesionalisme harus terus tumbuh demi menghadirkan pendidikan yang berkualitas. (*)
