25.5 C
Jakarta

Rembulan di Atas Bukit Pajangan (bagian ke-71)

Baca Juga:

# Sayang, Khawatir atau Keduanya

Mendung menggantung akut di langit. Diprediksi hujan akan deras. Membasahi bumi. Benar juga. Sore itu habis Ashar, air bagai dimuntahkan dari langit. Nampaknya merata. Meski tidak lama. Namun hujan sore yang diwarnai kilat menyambar itu, terasa ikut membasahi hatiku. Meski tidak kuyub benar, namun terasa basah. Sebelumnya hati ini sempat gundah, mendengar kabar Rohman tidak mencapai target menghafal mengaji. Ada apa dengannya. Adakah masalah dengan teman-temannya, atau dengan ustadznya. Banyak pikiran bersliweran menganggu. Namun aku adem-kan sendiri, dengan berpikir bahwa namaya anak pasti semangatnya naik turun. Jangankan anak, orang tua saja kadang, bahkan sering dihinggapi rasa malas.

Maka dalam waktu tiga menit, perasaan gundah, resah bahkan ada bau-bau marah, berubah menjadi empati. Kangen. Karena ternyata dampak tidak mencapai target bacaan tersebut kami tidak mendapatkan jatah phone. Ini yang membuat kepala nyut-nyut. Namun lagi-lagi perasaan galau itu aku coba tahan dan telan dengan banyak melakukan aktivitas. Makin aku mencoba melupakan Rohman, makin lekat bayangannya mengikuti aku. Ketika sudah sampai pada titik kepasrahan yang dalam. Minggu ini tidak ada jatah phone untuk Rohman.Tiba-tiba HP jadulku berdering.

“Pak…”suaranya terdengar serak dari sebrang phone. Aku kaget. Senang.
“Iya, kamu le…bagaimana sehat?”
“Sehat pak…”
Aku jadi lupa, kalau informasinya tidak mendapatkan jatah phone minggu ini. Tidak lama bicara di HP, ternyata aku ingat pesan itu. “Katanya gak dapat jatah phone…” kataku.
“Boleh kok,” jawabnya singkat. Tapi aku tidak ingin dicap sebagai orang tua/wali yang tidak tahu diri, maka aku tidak perpanjang obrolan support lewat HP tanpa wajah alias non-VC itu. Aku sudah merasa senang. Namun disudut hati yang dalam aku merasa bersalah. Meski tidak seratus persen.

Namun yang aku heran. Suara Rohman di phone terasa sangat kentara : parau dan gemetar. Mau menangis. Ada ada? Belum dapat jawaban yang jelas. Phone sengaja kami akhiri, karena takut alasan tadi.Tidak biasanya Rohman menangis. Meski tidak deras air matanya. Biarlah itu bagian dari pendewasaan diri, jauh dari orang tua. Mandiri di atas Bukit Pajangan. Doaku dalam hati, tiada henti, “baik-baik disana nak,”

Meski usianya sudah 13 tahun, dan baru mimpi basah, tanda kalau dia sudah dewasa secara agama, namun aku merasa dia  kadang masih kolokan. Manja. Aku memakluminya. Meski demikian Rohman banyak tahan bantingnya. Itulah mengapa jauh-jauh hari sebelum lulus SD/MI, sudah aku programkan masuk di pondok. Yang selama ini dikenal sebagai wahana menempa sifat kemandirian itu.

Sayang atau khawatir

Dua kata yang beda tipis dalam mengartikannya. Terlalu sayang, dikira khawatir, tidak ada rasa khawatir, dikira tidak sayang  sama anak. Kata para pakar parenting, yang aku dengar di media sosial atau bahwa kadang dengar langsung ceramahnya, harus bisa menempatkan rasa sayang dan khawatir itu berimbang. “ Ada saatnya kita sayang dengan anak, namun ada saatnya anak kita lepas agar mandiri, tidak cengeng. Supaya kelak, saat dewasa menjadi generasi yang tangguh. Tahan banting. Orang tua mempunyai peran yang signifikan untuk mewujudkannya. Orang tua jugalah yang menjadikan anak yang tadinya kuat menjadi lembek. Lemah.” Itu setidaknya yang pernah aku dengar. Secara teoritis aku setuju. Bahkan setuju banget. Namun ketika dihadapkan dengan kejadian empiris dilapangan. Saat anak jauh dari orang tua, tiba-tiba lihat ada perubahan sikap. Apa ya tidak boleh khawatir sebagai orang tua.

“Doakan saja dari rumah,” kata ustadz ketika satu saat suasana galau ini aku sampaikan.
Sudah. Namanya orang tua.

Tiba-tiba anganku melayang-layang jauh dan jatuh diusia pubertas aku usia SMP, seusia Rohman. Meski tidak semua ingat benar, hanya beberapa potongan adegan yang masih aku ingat. Ada yang berupa kenangan indah. Manis, hingga membuatku tersenyum sendiri. Ada juga kenangan semi pahit yang membuat dahiku berkerut. Kenangan pahit banget aku kira tidak ada.

Di antara yang manis adalah saat usia SMP, pertama kali aku berani bicara di depan umum. Tepatnya di depan kelas. Mungkin bagi orang lain, itu bukan prestasi, bahkan bukan sesuatu banget yang harus dikenang. Namun bagi aku, berani bicara di depan umum adalah prestasi besar, setelah sebelumnya aku termasuk anak yang introvet, culun, gak PD, kuper  dan masih banyak sebutan lainnya. Tepatnya sejak kelas 2 aku sudah mulai berani ngomong di hadapan teman-teman sekelas, di hadapan bapak ibu guru. Kelas 1 SMP (kalau sekarang kelas 7). Kelas 7 masih takut. Setiap ada tugas pidato dari guru bahasa Indonesia, membuat keringat dingin bercucuran, sebesar butir jagung. Maka kadang buat alasan palsu, dengan tidak masuk sekolah karena sakit. Atau terlambat. Oh ya aku masih ingat juga, saat disuruh adzan, maka kaki ini bergetar dengan kerasnya. Adzan grogi? Iya. Begitulah. Aku sendiri heran dengan diriku. Kenapa adzan saja sampai grogi. Dengan jelas aku melihat lututku bergetar secara ritmik, berimbas suara yang memang sudah tidak bagus, menjadi parau dan parah. Lalu dari mana keberanian itu datang?

Aku ingat benar. Aku bertanya kepada kakak kelas. Kebetulan dia pernah jadi ketua OSIS (IPM), namanya Kuswanto. Secara fisik, hampir sama denganku, kecil. Cuma cakepan Kuswanto dikit. Tapi kalau sudah bicara di depan umum, duh, gak ada habis-habisnya. Menarik dan menyenangkan. Gak nampak grogi-nya. Enjoy. Mengalir. Apa resepnya? Perlahan-lahan aku coba dekati Kuswanto ini. Dia punya kakak kandung, kebetulan di sekolah yang sama, namanya Kuswanti. Juga pinter bicara. Tapi aku tidak berani bertanya dengan Kuswanti, selain beda jenis, aku lebih akrab dengan Kuswanto, kala itu.

Ternyata tidak mudah mencari Kuswanto. Di sela-sela istirahat saja, dia masih rapat. Giliran aku tunggu di luar ruang, bel masuk. Pelajaran dimulai. Setelah beberapa hari menanti, aku coba cegat Kuswanto persis di depan kantin sekolah.
“Mas minta waktu sebentar dong,” rengekku.

“Boleh, ada apa mas, tumben ini,” jawabnya dengan senyumnya. Meski aku tahu, dia capek. Nampak dari sorot matanya. Siang itu. Lepas dhuhur. Lainnya sudah pulang, aku minta waktu Kuswanto untuk ngobrol di kantin sekolah. Tema obrolan fokus seputar : cara meningkatkan adrenalin berbicara di depan umum.

“Kamu kan jago-nya,” pujiku. Sambil aku sodorkan, segelas es teh manis, yang aku bon dari bu kantin. Dan Kletikan. Makanan kesukaannya.
“Ah, kamu..aku mah biasa saja. Ngomong di depan, seperti yang kamu lihat,” Kuswanto merendah. Tapi aku tidak putus asa untuk mengorek kiatnya. Akhirnya Kuswanto cerita, kalau kemampuan bicara didepan umum, tidak didapatnya secara instan. Mendadak. Dia juga belajar dari para seniornya.

“Ketika kita bicara di depan, cobalah berpikir, bahwa mereka itu, audience itu sedang menanti apa yang akan kita sampaikan. Bukan mengolok-olok. Mengejek. Namun sebaliknya, kehadiran kita dinantikan. Dengan demikian maka, secara perlahan kita akan PD,” katanya mengawali.
“ Kiat kedua dan seterusnya adalah berlatih. Mencoba. Itu saja, Mas,” kata Kuswanto menutup ceramahnya. Setelah menghabiskan es tehnya hingga tandas, kamipun pulang. Itulah awal bekal, aku berani di depan umum yang hingga sekarang masih susah untuk aku transferkan kepada Rohman.
********

“Nanti kalau pak imam, gak datang, kamu yang imam ya le,? Pintaku satu saat.
“Gak mau, pak. Grogi,” Ini jawaban Rohman, yang mengingatkan ku-cara memangkas dan memupus grogi dan tidak berani. Namun akupun tidak mau memaksakannya dengan keras. Khawatir dia ngambek dan tidak mau ngaji.
“Aku adzan saja pak, kalau pas pulang. Yang iqamah bapak atau yang lain,” kata Rohman.

Suara Adzan Rohman inilah yang sering membuat aku rindu, dia di rumah. Namun kali ini aku mendapat kabar kalau Rohman tidak dapat jatah phone lantaran tidak bisa memenuhi target. Aku masih menunggu jawaban pasti ketika dia nanti pulang. Waktu menunggu hingga akhir tahun inilah, aku bergulat dalam hati : antara sayang atau khawatir. ( Sekian )

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!