29.6 C
Jakarta

Ruang Shalat di Bandara dan Mushalla MAWU UoW

Baca Juga:

Terlepas dari benar atau tidaknya informasi di Airport Sydney mengenai ruang shalat. Informasi yang menyebar di berbagai group WA, intinya mengatakan bahwa ruang shalat akan dialihkan fungsinya. Hal ini karena pihak manajemen menganggap ruang shalat di bandara tersebut tidak dipakai untuk shalat, atau mungkin jarang dipakai.

Di lain pihak, sudah ada sanggahan tentang kebenaran informasi ini. Pihak bandara internasional Sydney tidak pernah mengeluarkan informasi yang demikian. Tentu kalau benar akan ditutup, adalah satu kerugian bagi umat Islam dilihat dari aspek dakwah.

Memang shalat di Bandara Sydney, tidak begitu familiar. Tidak sama dengan bandara di Indonesia atau Malaysia, yang selalu penuh pun kadang berjubel. Selain karena jumlah umat Islam yang terbatas menggunakan bandara, pun ada faktor penyebab lain.

Berbeda dengan di negara kita, umat Islam sebagian besar di sini sudah familiar mengamalkan panduan jamak jamak qasar dalam perjalanan. Jadi sebelum berangkat dari rumah, sudah shalat duluan di rumah. Atau shalat di pesawat misalnya. Sementara bagi sebagian Muslim Nusantara, hal ini kadang masi diperdebatkan.

Bahkan di Australia, orang bisa shalat dimana saja berada, sepanjang tidak mengganggu orang lain. Di area parkir, lorong antar bangunan, ruang tunggu, taman, atau tempat lainnya. Jadi di sini orang tak mesti ke ruang salat atau masjid. Itulah sebabnya antara lain, mengapa ruang shalat di bandara kadang tidak ada isinya.

Shalat Jamak

Di Indonesia, masih banyak orang yang tidak mengamalkan shalat jamak. Apalagi dengan mempertimbangkan ketentuan jarak sekian puluh kilometer. Tidak terbiasa juga shalat di pesawat atau ruang tunggu. Jadi kalau shalat, ya harus di mushalla bandara atau masjid. Sehingga tempat itu tetap ramai.

Memang ada baiknya, jika umat Islam yang menggunakan fasilitas bandara, berkenan sejenak singgah di ruang shalat. Paling tidak shalat sunnah. Tentu ini memerlukan waktu dan tenaga, juga kesiapan mental. Karena apa, kalau ruang shalat ramai, bisa jadi itu adalah bagian dari gerakan dakwah.

Pray room

Ada satu pengalaman penulis di Mushalla atau pray room MAWU University of Wollongong. Selama hampir dua tahun ini, kecuali lockdown, kami sering salat di sini. Bahkan sampai Isya, saya ajak anak-anak dan ibunya. Sering pula saya sendiri, tidak ada orang. Terutama salat Isya atau akhir pekan.

Selain ke Masjid Omar Wollongong, mengapa saya harus ke Masjid MAWU? Padahal kadang sepi. Ini karena ada pesan dari Presiden MAWU kepada saya, Brother Bader, Student Arab Saudi. Awal-awal dia selalu ajak saya agar lebih sering salat ke MAWU. Bahkan dia telepon ke saya, menyuruh datang. Ketika selesai Magrib, dia ingatkan lagi untuk datang Isya. Ada kalanya kami berdua. Jika saya tidak datang, dia sendiri salat di situ.

Katanya, Mushalla MAWU ini harus selalu diisi dengan salat. Ini dulu perjuangan besar sehingga pihak UoW menyediakannya. Status mushalla ini adalah pray room. Jadi bukan mushalla. Karena status tersebut, siapa saja, agama apa saja boleh berdoa di situ.

Oleh karena itu katanya, kita umat Islam harus selalu mengisinya, berdoa setia saat. Jangan sampai ada waktu salat tidak terisi. Sebab kalau ada waktu yang tidak terisi, dan pihak universitas mengetahuinya, maka bisa saja dipakai untuk kegiatan lain. Termasuk jika ada agama lain yang mau memakainya.

Status bangunan pray room itu memang milik universitas dan berada di dalam kampus. Dibangun dengan dana kampus, dikelola dan fasilitasinya di tangani oleh kampus. Umat Islam hanya memakainya saja. Itu pun hanya untuk salat, tidak boleh untuk hal lain.

Sehingga peraturan yang berlaku di sini adalah aturan kampus. Memang selama ini bangunan ini dikelola oleh Student Muslim untuk salat. Namun demikian, tidak bisa dilarang jika ada pihak lain yang ingin meminjam memakainya untuk kegiatan ibadah mereka.

Gwynneville, (27/11/2021)

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!