SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui tim program SMOGRA menggelar sosialisasi pendidikan lingkungan di ruang kelas 1B SD Muhammadiyah 24 Gajahan Surakarta, Senin (4/5/2026). Kegiatan ini bertujuan menanamkan kesadaran sejak dini kepada siswa dan guru untuk lebih peduli terhadap pengelolaan lingkungan, khususnya sampah.
Ketua tim, Dr. Rini Kuswati, dalam sambutannya menegaskan bahwa program SMOGRA dirancang bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan gerakan berkelanjutan yang mampu menggerakkan perilaku pro-lingkungan di kalangan siswa dan guru. Ia menyampaikan bahwa aplikasi yang dikenalkan dalam program ini diharapkan dapat menjadi alat edukatif untuk mengarahkan kebiasaan positif dalam menjaga bumi.
“Merawat lingkungan adalah kewajiban bersama. Guru dan siswa memiliki peran penting sebagai contoh nyata agar generasi mendatang tidak kekurangan sumber daya,” ujarnya.
Rini juga menyoroti pentingnya kesadaran kolektif dalam menghadapi tantangan kerusakan lingkungan yang semakin kompleks. Ia mengaitkan hal tersebut dengan agenda global Sustainable Development Goals (SDGs) yang mendorong masyarakat untuk menerapkan perilaku ramah lingkungan dan tidak eksploitatif terhadap alam.
Dalam konteks lokal, ia menyinggung persoalan penumpukan sampah di Kota Surakarta yang membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat. Menurutnya, pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tetapi perlu dimulai dari unit terkecil seperti keluarga dan sekolah.
Program SMOGRA sendiri memfokuskan edukasi pada siswa sekolah dasar sebagai agen perubahan. SD Muhammadiyah 24 dinilai menjadi contoh awal karena telah mempraktikkan pengelolaan sampah rumah tangga secara sederhana. Melalui program ini, siswa diajak memilah sampah sejak dari rumah dan membawanya ke sekolah untuk dikelola lebih lanjut.
Namun, data partisipasi menunjukkan tantangan tersendiri. Dari total 107 siswa, jumlah yang membawa sampah ke sekolah mengalami penurunan dari 50 siswa pada hari pertama, menjadi 40, kemudian 30, hingga hanya 8 siswa di tahap akhir. Penurunan ini menjadi catatan penting bagi tim untuk memperkuat strategi pendekatan.
“Program ini tidak bersifat memaksa, tetapi menumbuhkan kesadaran. Di sinilah peran guru sangat penting sebagai motivator agar siswa tetap konsisten,” jelas Rini.
Ke depan, sekolah direncanakan tidak hanya menjadi tempat pengumpulan sampah, tetapi juga pusat pengolahan yang menghasilkan pupuk organik. Hasil tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan oleh sekolah maupun masyarakat, bahkan berpotensi menjadi nilai ekonomi tambahan.
Program ini juga melibatkan nilai-nilai keagamaan sebagai landasan. Rini menegaskan bahwa dalam perspektif Islam, kebersihan merupakan bagian dari iman, sehingga kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari ibadah dan misi kebaikan.
Sosialisasi ditutup dengan sesi pengenalan sistem aplikasi oleh narasumber lain serta diskusi interaktif bersama peserta. Tim berharap dukungan berkelanjutan dari guru dan sekolah dapat memperkuat implementasi program SMOGRA sebagai gerakan nyata menjaga lingkungan sejak usia dini. (*)

