MADIUN, MENARA62.COM – Kisah Fantiana Maria Mo’ong atau akrab disapa Suster Fanti menjadi gambaran tentang toleransi dan prestasi akademik di Universitas Muhammadiyah Jawa Timur (UMJT). Biarawati asal Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), itu baru saja menyelesaikan ujian skripsi di Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial (Kesos) UMJT.
Suster Fanti dinyatakan lulus setelah mengikuti ujian skripsi pada Senin (7/9/2026). Ia mengangkat penelitian berjudul “Pola Asuh Demokratis untuk Anak Down Syndrome”.
Ujian tersebut berlangsung di Ruang Rapat I Kampus I UMJT dengan dosen penguji Nuril Endi Rahman, M.A. dan Muh. Niam, M.Kesos. Sementara pembimbing skripsinya adalah Qoni’ah, M.Kesos.
“Ya sudah lulus setelah saya melakukan riset dengan bimbingan dosen Prodi Kesejahteraan Sosial UMJT yang sabar membimbing riset kami,” ujar Suster Fanti seusai ujian.
Dalam skripsinya, Suster Fanti membahas sejumlah aspek penting dalam penerapan pola asuh demokratis bagi anak dengan down syndrome. Di antaranya kasih sayang dan dukungan emosional, komunikasi dua arah, disiplin yang mendidik, kebebasan yang terarah, serta penghargaan atas keberhasilan anak.
Menurutnya, pola asuh yang tepat dapat membantu mengikis stigma negatif terhadap anak dengan down syndrome. Dukungan keluarga dan lingkungan juga penting agar anak dapat berkembang menjadi pribadi yang mandiri dan diterima di tengah masyarakat.
“Dengan pola asuh demokratis seperti ini diharapkan dapat menghilangkan label negatif soal anak down syndrome. Dengan pola asuh yang benar nantinya anak down syndrome bisa mandiri dan bisa diterima,” jelasnya.
Riset di Panti Asuhan
Suster Fanti menyelesaikan proses penyusunan skripsi selama sekitar enam bulan. Dari periode tersebut, tiga bulan digunakan khusus untuk melakukan penelitian.
Penelitian dilakukan di Panti Asuhan Bhakti Luhur Madiun. Di tempat tersebut terdapat enam anak dengan down syndrome. Namun, Suster Fanti mengambil tiga anak sebagai sampel penelitian.
“Saya melakukan penelitian anak down syndrome yang ada di Panti Asuhan Bhakti Luhur Madiun. Di sana ada enam anak down syndrome, tapi saya ambil sampel tiga saja,” katanya.
Selain berstatus mahasiswa UMJT, Suster Fanti juga merupakan guru di SLB Bhakti Luhur Madiun yang dikelola Yayasan Bhakti Luhur Madiun. Pengalaman tersebut turut memperkuat ketertarikannya mengangkat isu pola asuh anak dengan down syndrome sebagai tema penelitian.
Dalam ujian skripsi, terdapat sejumlah catatan perbaikan, terutama berkaitan dengan sistematika penulisan dan penambahan pada bagian latar belakang. Meski demikian, Suster Fanti tetap dinyatakan lulus.
“Tadi ada sedikit evaluasi di sistematika penulisan, ada tambahan latar belakang yang harus ditulis. Jadi ada sedikit revisi. Tadi dinyatakan lulus langsung,” tuturnya.
Dengan kelulusan ujian skripsi tersebut, Suster Fanti telah menuntaskan seluruh mata kuliah yang harus ditempuh di Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial UMJT.
Jika seluruh proses administrasi dan akademik berjalan lancar, ia berpeluang mengikuti wisuda sarjana UMJT periode 2026 yang dijadwalkan pada Desember mendatang.
Yang menarik, Suster Fanti menyelesaikan studi dengan capaian akademik tinggi. Ketika ditanya mengenai IPK terakhir, ia menyebut angka 3,90.
Berpeluang Jadi Lulusan Terbaik
Capaian tersebut membuat Suster Fanti masuk dalam pembicaraan sebagai salah satu kandidat lulusan terbaik UMJT. Namun, predikat tersebut belum dapat dipastikan karena masih harus dibandingkan dengan capaian mahasiswa lainnya serta sejumlah ketentuan akademik.
Kaprodi Ilmu Kesejahteraan Sosial UMJT, Qoni’ah, M.Kesos, mengakui capaian akademik Suster Fanti sangat baik.
“Mantap (dapat IPK tinggi). Tapi nanti saya lihat dulu (nilai dari mahasiswa lain). Misalnya Rani IPK 3,7 atau 3,8, tetap Rani yang jadi terbaik karena Rani lulus di semester 8,” jelas Qoni’ah.
Rani yang dimaksud Qoni’ah adalah Maria Regina Asal Jawang, mahasiswa Katolik yang juga menempuh studi di Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial UMJT.
Keduanya menjadi sosok yang menarik dalam perjalanan akademik UMJT. Selain sama-sama berasal dari kalangan mahasiswa Katolik, baik Suster Fanti maupun Rani memiliki rekam jejak akademik dan kegiatan lintas agama selama menjadi mahasiswa.
Bukti Kampus Terbuka bagi Semua
Salah satu pengalaman yang mempertemukan keduanya adalah ketika mereka lolos seleksi Muhammadiyah Youth Interfaith Leadership Program (MY-ILP) di Denpasar, Bali, pada akhir Januari 2025.
MY-ILP merupakan program pelatihan kepemimpinan lintas agama bagi mahasiswa non-Muslim yang berkuliah di Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah (PTMA). Program tersebut diselenggarakan Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis (LKKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Keikutsertaan Suster Fanti dalam program tersebut sekaligus memperlihatkan ruang dialog dan pembelajaran lintas iman yang terbuka di lingkungan UMJT.
Perjalanan Suster Fanti menjadi mahasiswa Katolik di kampus Muhammadiyah juga menunjukkan bahwa pendidikan tinggi dapat menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan keberagaman, prestasi, dan nilai kemanusiaan.
Kini, setelah menyelesaikan ujian skripsi dengan IPK sementara 3,90, Suster Fanti tinggal menanti tahapan akhir menuju wisuda.
Perjalanan akademiknya tidak hanya berbicara tentang capaian angka, tetapi juga tentang bagaimana ilmu kesejahteraan sosial dapat digunakan untuk membangun lingkungan yang lebih inklusif, khususnya bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus. (MJK/*)
