26.3 C
Jakarta

Tahun 2018 Diprediksi Tahun Ketidakpastian Global

Baca Juga:

JAKARTA, 7 DESEMBER 2017 – HSBC Indonesia dan Putera Sampoerna Foundation (PSF) melalui Sampoerna University (SU) hari ini kembali menyelenggarakan Indonesia Economic and Financial Sector Outlook (IEFSO) 2018, bertopik “Keeping Momentum for Productive Investment”, dengan para pembicara seperti Wahyoe Soedarmono, Ekonom sekaligus Ketua Program Studi Manajemen dan Manajer Program Kerjasama HSBC-PSF di Fakultas Bisnis, Sampoerna University, Ali Setiawan (Managing Director & Head of Global Markets, HSBC Indonesia), Inka B. Yusgiantoro (Peneliti Eksekutif Senior, Otoritas Jasa Keuangan), serta Faisal Basri (Ekonom Senior).

Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) riil sejak 2014 lalu terus berada di kisaran 5%. Konsumsi oleh sektor privat dan rumah tangga juga belum banyak mengalami perubahan sejak awal 2017. Faktor-faktor penyebabnya masih belum konklusif.

“Walaupun demikian, kami memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai sebesar 5,17-5.24% pada 2017, dan 5.3-5.4% pada 2018 mendatang, jika inflasi di kisaran 3.0-4.0% dan suku bunga riil di level 10%”, kata Wahyoe Soedarmono.

Wahyoe juga menekankan bahwa 2018 masih akan menjadi tahun yang dibayangi ketidakpastian ekonomi global, meskipun pertumbuhan ekonomi diprediksi meningkat. Hal ini kemudian dapat mendorong peningkatan defisit neraca transaksi berjalan, sehingga menyebabkan instabilitas makroekonomi, mengingat struktur modal asing yang masuk ke Indonesia masih didominasi investasi portofolio jangka pendek daripada investasi asing langsung (foreign direct investment).

Selain itu, dari sisi domestik, pertumbuhan utang luar negeri dari pemerintah juga menunjukkan tren peningkatan. Pertumbuhan utang luar negeri pemerintah mencapai posisi tertinggi, yaitu 46% selama 2015-2017, disusul oleh utang luar negeri sektor swasta selain institusi keuangan (36%) di periode yang sama. Peningkatan utang luar negeri oleh pemerintah mempunyai dua implikasi penting.

Di satu sisi, ruang fiskal akan meningkat, sehingga mendorong belanja pemerintah, misalnya untuk infrastruktur dan sektor produktif lainnya, sehingga mendorong investasi swasta dan pertumbuhan ekonomi (efek “crowding-in”).

Namun di sisi lain, peningkatan utang luar negeri pemerintah dapat meningkatkan suku bunga, sehingga menghambat investasi sektor swasta (efek “crowding-out”).

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!