SOLO, MENARA62.COM – Masa pensiun kerap dibayangi kekhawatiran kehilangan rutinitas, peran sosial, hingga perubahan kondisi emosional. Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id mendorong para guru untuk melihat masa purna tugas bukan sebagai akhir, melainkan awal dari fase kehidupan baru.
Dorongan itu diwujudkan melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Menyambut Pensiun dengan Bahagia dan Berdaya” yang digelar Fakultas Psikologi UMS bersama Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Bayat dan Kelompok Kerja Kepala Sekolah dan Madrasah (K3SM) Muhammadiyah Bayat, Klaten.
Kegiatan yang berlangsung di SMP Muhammadiyah 7 Bayat, Sabtu (5/9/2026), tersebut diikuti 20 guru berusia 50 tahun ke atas dari enam sekolah dan madrasah Muhammadiyah di Kecamatan Bayat.
Program tersebut dirancang untuk membantu para pendidik mempersiapkan kondisi psikologis menjelang masa pensiun. Bukan sekadar membahas kesiapan administratif, peserta diajak memahami perubahan kehidupan yang mungkin muncul setelah tidak lagi menjalankan aktivitas sebagai guru.
Dosen Fakultas Psikologi UMS sekaligus Ketua PkM, Bayu Suseno, S.Psi., M.Psi., Psikolog, mengatakan pensiun membawa sejumlah perubahan yang perlu dipersiapkan sejak dini.
Menurut dia, perubahan tersebut dapat menyentuh berbagai aspek kehidupan, mulai dari kondisi fisik, peran sosial, hingga rutinitas sehari-hari.
“Pensiun bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari fase kehidupan baru. Kunci utama dalam menyambutnya adalah kesiapan mental dan penerimaan diri,” ujar Bayu, Senin (14/9/2026).
Ia menjelaskan, kesiapan mental penting agar guru tidak mengalami guncangan ketika memasuki masa purna tugas. Dengan mengenali perubahan yang akan dihadapi, para pendidik diharapkan mampu membangun pola hidup baru yang tetap produktif dan bermakna.
“Dengan mengenali perubahan yang akan terjadi dan menyiapkan mental secara matang, para guru dapat menjalani masa purna tugas dengan tenang, bahagia, dan tetap berdaya,” katanya.
Guru disiapkan menghadapi perubahan
Dalam pelatihan tersebut, Bayu juga memberikan strategi persiapan mental bagi peserta. Materi diarahkan untuk membantu guru mengelola perubahan dan mempertahankan kestabilan emosional setelah memasuki masa pensiun.
Pendekatan ini dinilai penting mengingat profesi guru tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan, tetapi juga membentuk identitas dan rutinitas kehidupan sehari-hari.
Karena itu, masa transisi menuju pensiun perlu dipandang sebagai proses adaptasi. Para guru didorong untuk menerima perubahan sekaligus menyiapkan aktivitas baru yang dapat menjaga kualitas hidup setelah purna tugas.
Ketua PCM Bayat, Suparta, S.E., menyambut positif program pendampingan psikologis tersebut. Menurut dia, kegiatan itu memberikan nilai tambah bagi para tenaga pendidik di lingkungan persyarikatan Muhammadiyah.
“Kegiatan menyiapkan masa pensiun ini sangat penting dan bermanfaat bagi para guru sekolah Muhammadiyah agar dapat menyambut masa pensiun tanpa kecemasan,” ujar Suparta.
Ia berharap kolaborasi antara Fakultas Psikologi UMS, PCM Bayat, dan K3SM Muhammadiyah Bayat tidak berhenti pada kegiatan tersebut.
“Kami sangat mendukung program ini dan berharap kerja sama strategis ini dapat terus dilanjutkan di waktu-waktu selanjutnya,” katanya.
Menjaga kualitas hidup hingga purna tugas
Fakultas Psikologi UMS menempatkan pendampingan psikologis bagi guru menjelang pensiun sebagai bagian dari kontribusi perguruan tinggi kepada masyarakat.
Melalui program tersebut, para pendidik tidak hanya dipersiapkan untuk menghadapi berakhirnya masa kerja, tetapi juga diarahkan agar mampu menjalani fase kehidupan berikutnya secara lebih sehat, tenang, dan bermakna.
Bagi para guru Muhammadiyah di Bayat, pensiun diharapkan bukan menjadi titik berhentinya kontribusi. Sebaliknya, masa purna tugas dapat menjadi kesempatan untuk menjalani kehidupan dengan peran baru dan tetap memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. (*)

