25.6 C
Jakarta

Temuan Baru dari Tim Peneliti Australia Seputar Vaksin COVID-19

Must read

“Koen Waras”, Sekadar Menggugah Kesadaran

Pandemi Covid-19 masih belum berakhir, bahkan grafiknya semakin naik. Sejumlah daerah dinyatakan sebagai zona merah, bahkan hitam. Korban terus berjatuhan. Sementara masyarakat tampaknya mulai abai...

Buku harus Bersaing dengan Teknologi Digital

PURWOKERTO, MENARA62.COM -- Sabtu 28 November kemarin, mantan wartawan Arys Hilman Nugraha dilantik sebagai Ketua Umum Ikatan Peberbit Indonesia (IKAPI) periode 2020-2025. Ia terpilih...

XL Axiata Raih Penghargaan Marketeers Youth Choice Brand of The Year 2020

JAKARTA, MENARA62.COM -- Mendekati penghujung tahun 2020, PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) kembali mendapatkan pengakuan dari masyarakat atas kualitas produknya. Melalui ajang Marketeers...

Alumni Belanda Berbagi Pemikiran Terkait Penanganan Covid-19 pada WINNER 2020

JAKARTA, MENARA62.COM - Penguatan kerjasama di pelbagai bidang dan lintas disiplin keilmuan di tengah dan pasca pandemic Covid-19 menjadi salah satu isu yang dibahas...

JAKARTA, MENARA62.COM — Para ahli masih berusaha membuat vaksin untuk mencegah penularan wabah novel coronavirus. Ada penelitian baru di Australia yang mengembangkan virus hidup untuk membantu mendiagnosis dan menahan penularannya. Bagaimana perkembangannya?

Vaksin novel coronavirus, bagaimana kelanjutannya?

Sampai saat ini sebenarnya vaksin untuk mencegah novel coronavirus atau COVID-19 masih belum ditemukan. Namun, dikarenakan jumlah kasus kini mencapai lebih 40.000 dan menelan lebih dari 900 korban jiwa, para ilmuwan di seluruh dunia sedang berusaha mempercepat perkembangan pembuatan vaksin.

Salah satu negara yang memiliki kemajuan yang cukup pesat adalah Australia. Seperti yang dilansir dari laman University of Sydney, tim peneliti dari New South Wales telah berhasil menumbuhkan virus dari penderita COVID-19.

Pertumbuhan virus ini dilakukan sebagai salah satu upaya untuk memahami diagnosis dan cara mencegah penularannya.

Tim yang terdiri dari 10 ilmuwan dan ahli patologi serta dokter dari University of Sydney ini telah bekerja sepanjang waktu untuk mengembangkan replika virus. Di dalam penelitian tersebut, mereka mengisolasi virus hidup dari pasien berusia 43 tahun di rumah sakit Westmead.

Isolasi virus ini bertujuan agar dapat dilakukan tes yang tepat dan membantu mengembangkan vaksin.

Dengan demikian, proses pembuatan vaksin novel coronavirus mungkin dapat dipercepat hingga memakan waktu beberapa bulan saja. Selain itu, temuan ini juga diharapkan dapat membantu peneliti memahami mengapa virus dapat mengembangkan penyakit paru yang cukup parah.

Oleh karena itu, mari berharap semoga para peneliti dapat menemukan vaksin untuk mencegah coronavirus agar wabah ini dapat dihentikan.

Proses pembuatan vaksin

Setelah mengetahui perkembangan vaksin terhadap novel coronavirus, mungkin sebagian dari Anda ingin mengetahui bagaimana proses pembuatan vaksin.

Pembuatan vaksin dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari melemahkan virus, menggunakan sebagian bakteri, hingga menonaktifkan virus. Berikut ini terdapat beberapa jenis pembuatan vaksin yang biasa dilakukan oleh tim peneliti, termasuk novel coronavirus.

1. Melemahkan virus

Salah satu proses pembuatan vaksin yang mungkin juga dapat terjadi pada kandidat vaksin novel coronavirus adalah dengan melemahkan virus.

Umumnya, pada proses ini virus akan dilemahkan, sehingga mereka tidak bereproduksi dengan baik dalam tubuh. Biasanya, proses ini digunakan pada vaksin untuk campak, rubella, influenza, dan cacar air.

Hal ini dikarenakan virus normalnya tidak menyebabkan penyakit dengan mereproduksi dirinya sendiri dalam tubuh manusia. Di sisi lain, virus alami akan memperbanyak jumlahnya ribuan kali ketika infeksi terjadi.

Virus vaksin memang tidak dapat memperbanyak jumlahnya dalam waktu singkat, melainkan hanya kurang dari 20 kali. Walaupun demikian, virus ini menduplikasi selnya dengan baik untuk menginduksi sel yang melindungi tubuh dari infeksi tersebut di kemudian hari.

Dengan begitu, virus dapat menjadi lemah dan tidak menggandakan jumlahnya dalam waktu yang singkat ketika ‘disisipi’ virus vaksin.

Keuntungan dari cara ini adalah satu atau dua dosis menawarkan kekebalan terhadap virus seumur hidup. Namun, vaksin dengan melemahkan virus ini biasanya tidak dapat diberikan kepada orang dengan sistem imun yang lemah, seperti penderita kanker atau AIDS.

2. Mematikan virus

Selain melemahkan virus, pembuatan vaksin yang mungkin juga terjadi pada novel coronavirus adalah dengan mematikan virus secara keseluruhan.

Penggunaan cara ini biasanya dilakukan dengan senyawa kimia tertentu agar virus tidak dapat mereproduksi dirinya sendiri atau menyebarkan infeksi penyakit.

Vaksin polio, hepatitis A, influenza (shot), dan rabies dibuat dengan metode ini karena virus masih ‘terlihat’ oleh tubuh, sehingga dibantu oleh sistem kekebalan tubuh Anda.

Manfaat dari pembuatan vaksin dengan mematikan virus ini adalah tidak menyebabkan efek samping dan dapat diberikan kepada orang dengan sistem imun yang lemah. Akan tetapi, peneliti masih perlu melihat berapa dosis aman yang dibutuhkan setiap individu untuk mencapai kekebalan terhadap infeksi virus.

3. Memakai bagian dari virus coronavirus

Tahukah Anda dalam proses pembuatan vaksin novel coronavirus para peneliti memakai bagian dari virus untuk memahami diagnosisnya?

Salah satu metode pembuatan vaksin ini mengambil satu hingga beberapa bagian dari virus untuk digunakan sebagai vaksin. Normalnya, cara ini digunakan pada pembuatan vaksin hepatitis B, HPV, dan herpes zoster.

Vaksin yang terdiri dari protein dan berada di permukaan virus ini cukup efektif untuk perlindungan terhadap penyakit tertentu.

4. Menggunakan sebagian bakteri jenis tertentu

Tidak hanya menggunakan bagian dari virus, pembuatan vaksin juga dapat memakai satu atau beberapa bagian dari bakteri jenis tertentu. Metode pembuatan vaksin ini mungkin dapat efektif untuk novel coronavirus, tetapi perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan hal ini.

Pada jenis bakteri tertentu bisa menyebabkan penyakit dengan menciptakan protein yang berbahaya, yaitu toksin. Vaksin dapat dibuat dengan mengambil racun dan mematikannya dengan senyawa kimia tertentu.

Jika hal tersebut terjadi, tentu virus tidak lagi dapat menimbulkan penyakit. Jenis vaksin yang dibuat melalui cara ini adalah vaksin difteri dan tetanus.

Selain itu, vaksin juga dapat dibuat dari lapisan bakteri atau polisakarida. Lapisan gula ini digunakan sebagai perlindungan terhadap infeksi, tetapi metode ini tidak cukup efektif pada anak-anak.

Hal ini dikarenakan anak tidak dapat membuat respon kekebalan tubuh yang baik terhadap lapisan gula bakteri, melainkan diperlukan juga protein yang tidak berbahaya. Pembuatan vaksin dengan lapisan gula dan protein bakteri ini biasa dipakai dalam vaksin HiB (influenza tipe B) dan pneumokokus.

Proses pembuatan vaksin, terutama novel coronavirus, sangat rumit dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan temuan dari tim peneliti Australia ini dapat menyingkat proses pembuatan vaksin. ( – hellosehat.com)

- Advertisement -

More articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -

Latest article

“Koen Waras”, Sekadar Menggugah Kesadaran

Pandemi Covid-19 masih belum berakhir, bahkan grafiknya semakin naik. Sejumlah daerah dinyatakan sebagai zona merah, bahkan hitam. Korban terus berjatuhan. Sementara masyarakat tampaknya mulai abai...

Buku harus Bersaing dengan Teknologi Digital

PURWOKERTO, MENARA62.COM -- Sabtu 28 November kemarin, mantan wartawan Arys Hilman Nugraha dilantik sebagai Ketua Umum Ikatan Peberbit Indonesia (IKAPI) periode 2020-2025. Ia terpilih...

XL Axiata Raih Penghargaan Marketeers Youth Choice Brand of The Year 2020

JAKARTA, MENARA62.COM -- Mendekati penghujung tahun 2020, PT XL Axiata Tbk (XL Axiata) kembali mendapatkan pengakuan dari masyarakat atas kualitas produknya. Melalui ajang Marketeers...

Alumni Belanda Berbagi Pemikiran Terkait Penanganan Covid-19 pada WINNER 2020

JAKARTA, MENARA62.COM - Penguatan kerjasama di pelbagai bidang dan lintas disiplin keilmuan di tengah dan pasca pandemic Covid-19 menjadi salah satu isu yang dibahas...

Dunia Harus Tahu Persoalan Bangsa Palestina Belum Selesai

JAKARTA, MENARA62.COM – Adara Relief Internasional kembali menghadirkan tokoh-tokoh pemuda Palestina untuk menceritakan kondisi negara tersebut sejak kaum zionis Israel menjajahnya. Kali ini Husammuddin...