25 C
Jakarta

Tetap Eksis Menyusui ASI Eksklusif di Masa Wabah Covid-19

Baca Juga:

 

Oleh : Sri Mintarsih,S.Kep.,Ns.,M.Kes. *)

SOLO, MENARA62.COM– Pada triwulan pertama di tahun 2020, tepatnya tanggal 14 Maret 2020, pemerintah Indonesia menyatakan kejadian luar biasa (KLB) wabah Covid-19, atau yang disebut dengan istilah Pandemi Covid-19, wabah disebabkan oleh Virus Corona baru (SARS-Cov-2) yang berasal dari Wuhan, Cina, dengan cepat menyebar ke seluruh penjuru dunia, tak terkecuali Indonesia, yaitu pada awal tahun 2020-an dinyatakan sebagai wabah secara resmi oleh pemerintah pada bulan Maret 2020, tepatnya tanggal 14 Maret 2020 sampai sekarang ini belum berakhir. WHO menyatakan bahwa wabah ini merupakan darurat kesehatan masyarakat dunia.

Masalah Kesehatan yang terjadi secara global ini, membawa dampak yang luar biasa. Walaupun orang yang beresiko tertular penyakit ini pada umumnya adalah orang dewasa, tidak menutup kemungkinan wanita hamil dan menyusui juga terinfeksi Covid 19. Beberapa hasil penelitian menyatakan belum ada yang menyatakan bahwa menyusui merupakan metode penularan virus. Penelitian yang dilakukan sebelumnya terhadap 38 wanita hamil dengan Covid-19, tidak menemukan bukti bahwa wanita hamil yang terinfeksi Covid-19 bisa menularkan melalui intrauterine atau transplasenta kepada janinnya. Cara yang bisa dilakukan untuk mencegah penularan Covid-19 adalah  memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak, dan yang paling penting dengan meningkatkan imunitas tubuh.

Bayi yang lahir pada masa pandemi, maka bayi harus diberikan ASI Eksklusif untuk meningkatkan imunitas pada tubuhnya, karena kandungan ASI yang sangat baik terhadap peningkatan imunitas.   Air susu ibu (ASI) merupakan satu-satunya makanan terbaik untuk bayi usia 0-6 bulan, karena ASI mempunyai komposisi gizi yang lengkap dan dapat memenuhi kebutuhan nutrisi bayi usia 0-6 bulan. Itulah sebabnya program pemberian ASI eksklusif untuk bayi 0-6 bulan  sangat penting bagi bayi,  sehingga  para  ahli  menyarankan agar  ibu  menyusui  bayinya  selama 6 bulan sejak kelahiran yang dikenal dengan istilah ASI eksklusif dan dilanjutkan sampai bayi berusia 2 tahun. ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja  sejak  bayi  dilahirkan  sampai  bayi berusia 6 bulan tanpa mendapatkan tambahan cairan lain seperti susu formula, air jeruk, air teh, madu, air putih, serta tanpa  memberikan  makanan  tambahan lain  seperti  pisang,  biskuit, bubur  susu, nasi tim, dan sebagainya. Pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan dianjurkan oleh pedoman internasional yang didasarkan pada bukti ilmiah tentang banyaknya manfaat ASI bagi daya tahan hidup bayi, pertumbuhan dan perkembangannya, karena  ASI memberi  semua  energi  dan zat gizi yang dibutuhkan bayi selama 6 bulan pertama hidupnya. ASI  eksklusif  telah  diketahui  memiliki banyak manfaat terhadap bayi. ASI merupakan sumber gizi yang sangat ideal dengan komposisi yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan bayi.   ASI   dapat   meningkatkan   daya   tahan   tubuh   bayi, meningkatkan kecerdasan, serta  meningkatkan  jalinan  kasih  sayang  antara  ibu  dan  bayi. Risiko  morbiditas  berkurang  hingga  mendekati  70%  saat  seorang  anak mendapatkan ASI eksklusif.

Menyusui di masa pandemi ini perlu diperhatikan hal-hal yg penting, yaitu ASI eksklusif tetap diberikan oleh ibu kepada bayinya, walaupun ibu sedang terpapar virus ini sekalipun. Edukasi yang ada  terkait menyusui pada masa  pandemi adalah bahwa ibu harus menyusui bayinya dengan kontak kulit dan kulit seperti biasa, tidak boleh dihentikan, apabila ibu terpapar virus maka ibu menggunakan masker bedah agar tidak menularkan virus bayi melalui percikan air liur, apabila ibu tidak kuat menyusui karena sakit dan kondisi lemah, maka ibu diharapkan memerah ASInya agar bayinya tetap menerima ASI dari ibunya. ASI bisa diberikan oleh orang lain yang sehat, dengan cara diberikan melalui sendok. Bayi yang mendapatkan ASI, akan mempunyai imunitas yang kuat dan terlindung dari SARS-COV-2. Manfaat pemberian ASI eksklusif lebih besar dari potensi tertular virus. WHO menyatakan bahwa ibu dan bayi tidak boleh dipisahkan karena Covid-19, kecuali sangat mendesak, namun masih banyak ibu yang tidak bisa menyusui karena terpapar Covid-19 dan menjalani isolasi. Komisi kesehatan Cina menganjurkan agar segera melanjutkan menyusui setelah menjalani isolasi selama 14 hari, karena Virus korona tidak ditularkan melalui ASI.

Agar bayi usia 0-6 bulan mendapatkan nutrisi optimal maka para ibu menyusui harus memberikan ASI eksklusif kepada bayinya, maka ibu menyusui perlu diberikan edukasi terkait pengetahuan tentang manfaat ASI, penularan penyakit Covid-19 dan gejala yang ditimbulkan, cara / teknik menyusui yang aman saat pandemi / ibu yang terinfeksi virus, makanan yang perlu dikonsumsi untuk ibu menyusui, agar program pemberian edukasi kepada ibu menyusui bisa berjalan dengan optimal, maka perlu keterlibatan kader melalui edukasi.

Edukasi yang ada  terkait menyusui pada masa  pandemi adalah bahwa ibu harus menyusui bayinya dengan kontak kulit dan kulit seperti biasa, tidak boleh dihentikan, apabila ibu terpapar virus maka ibu menggunakan masker bedah agar tidak menularkan virus bayi melalui percikan air liur, apabila ibu tidak kuat menyusui karena sakit dan kondisi lemah, maka ibu diharapkan memerah ASInya agar bayinya tetap menerima ASI dari ibunya, ASI bisa diberikan oleh orang lain yang sehat, dengan cara diberikan melalui sendok. Bayi yang mendapatkan ASI, akan mempunyai imunitas yang kuat dan terlindung dari SARS-COV- 2. Manfaat pemberian ASI ekslusif lebih besar dari potensi tertular virus corona (Lubbe et al., 2020). WHO menyatakan bahwa ibu dan bayi tidak boleh dipisahkan karena Covid-19, kecuali sangat mendesak, namun masih banyak ibu yang tidak bisa menyusui karena terpapar Covid-19 dan menjalani isolasi  (Brown & Shenker, 2021), dianjurkan tetap melanjutkan menyusui setelah menjalani isolasi selama 14 hari, karena Virus korona tidak ditularkan melalui ASI.

 

Menyusui Di Masa Pandemi

Pemerintah dan WHO mendorong ibu untuk tetap menyusui bayinya selama masa pandemi ini. WHO (2020) menyatakan bahwa beberapa studi tidak menunjukan bahwa virus Covid-19 dapat ditularkan lewat air susu ibu, bahkan pada ibu yang positif atau diduga terinsifeksi. Kedua, menyusui dan kontak kulit (skin to skin) secara signifikan dapat mengurangi risiko kematian pada bayi. Lalu ketiga, besarnya manfaat memberikan ASI eksklusif jauh melebihi daripada potensi risiko penularan penyakit Covid-19.

ASI tetap perlu diberikan pada anak meski ibu menyusui terinfeksi virus Corona, baik dengan cara menyusui secara langsung atau pun dengan cara pemberian menggunakan pipet. Bayi itu justru mendapatkan benefit jika diberikan ASI dari ibunya yang ternyata positif Covid-19. Karena ASI itu sudah mengandung antibodi. Justru ketika dipisahkan dari ibu belum tentu juga ada jaminan bahwa anaknya itu tidak tertular dari orang yang mengurusnya. Ibu yang menyusui terpapar Covid-19 dengan gejala berat, maka hal yang disarankan bayi tetap menerima ASI perah. ASI perah yang sudah ada, bisa diberikan kepada bayi menggunakan pipet, sloki, atau pun sendok kecil. Jangan memberi ASI perah menggunakan dot agar anak nantinya tidak kebingungan pada saat diberi ASI secara langsung oleh sang ibu. Ketika nanti ibunya sudah sehat, jika diberi pakai dot sekitar 2-3 minggu masa isolasi itu pas mau diberi secara langsung anaknya menolak karena bingung pada bentuk putting. Pada saat menjalankan isolasi mandiri, anak dan orang tua tidak perlu dipisahkan.  Meski demikian orang tua yang positif harus tetap taat menggunakan masker mengikuti saran yang disampaikan Kementerian Kesehatan yaitu sebanyak dua lapis saat melakukan isolasi mandiri bersama keluarganya. Untuk meminimalkan stress pada bayi, karena prinsipnya anak- anak ini mengalami stress saat dipisahkan orang tuanya. Dititipkan ke pengasuh lain pun belum tentu tidak berisiko terpapar, jadi tidak perlu dipisahkan antara orang tua dan anak. Asalkan selama isolasi mandiri orang tua menggunakan masker terus sehingga potensi penyebaran ke anak- anaknya semakin mengecil (Yen, 2021).

Ibu menyusui tetap bisa memberikan air susu ibu alias ASI kepada bayinya, meski sedang dalam kondisi positif Covid-19.

Menurut Ketua Satuan Tugas (Satgas) ASI Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Elizabeth Yohmi mengatakan meskipun sedang terinfeksi Covid-19, ibu bisa menyusui bayinya. Syaratnya, dengan melakukan protokol pencegahan penularan Covid-19. Ibu dengan suspek, ibu dengan terkonfirmasi Covid-19, ibu dengan gejala ringan, kita tetap melakukan IMD (inisiasi menyusui dini), yang penting tenaga kesehatannya menggunakan alat pelindung diri (APD) Level 3, ibu bisa tetap melakukan IMD, ibu menggunakan masker bedah, yang penting bayinya dalam kondisi bugar.

Menurut Yohmi (2021),  ibu yang menyusui bayinya harus dilanjutkan dengan tindakan pencegahan infeksi Covid-19 yang diperlukan, yakni ibu memakai masker saat menyusui atau memerah ASI, mencuci tangan secara efektif selama 20 detik sebelum menyusui. Tindakan protokol pencegahan berikutnya adalah menjaga ventilasi lingkungan dan kebersihan benda yang disentuh, mencuci pakaian pada suhu 60-90 derajat Celsius dengan detergen, minum banyak cairan, diet seimbang dan tidur teratur. Pada kondisi klinis ibu dengan sakit ringan/sedang, di mana keluarga dan tenaga kesehatan memilih mengurangi risiko penularan dan mempertahankan kedekatan ibu dan bayi, maka dapat diberikan ASI perah, tapi tetap dengan menerapkan protokol pencegahan penularan infeksi. Pada kondisi klinis ibu tidak bergejala/ringan dan atau sarana dan prasarana terbatas atau tidak memungkinkan perawatan terpisah, pemberian ASI bisa dilakukan dengan cara menyusui langsung dengan melakukan protokol pencegahan infeksi.

Dalam keadaan sedang menjalani isolasi mandiri, ibu tetap bisa menyusui bayinya dengan cara menyusui langsung atau memberikan ASI perah dengan tetap melakukan protokol pencegahan infeksi. Ibu yang sedang melakukan isolasi mandiri juga bisa melakukan kontak fisik dengan bayi setelah mencuci tangan dan membersihkan area kulit yang bersentuhan dengan bayi dan tetap menggunakan masker saat merawat bayi. Bayi yang ibunya sedang melakukan isolasi mandiri bisa mendapatkan ASI donor apabila kondisi ibu tidak memungkinkan untuk menyusui atau memerah ASI, dan harus dipastikan ASI donor aman, sehingga tidak ada penularan penyakit melalui ASI donor (Yohmi,2021).

Ada 10 langkah keberhasilan menyusui saat pandemi berdasarkan evidence base practices yang dapat mendukung proses menyusui di sarana kesehatan (Rusli, 2021) tujuannya adalah menciptakan layanan kesehatan maternitas yang ramah bayi dan juga memastikan ASI eksklusif saat di dan sampai pulang dari fasilitas kesehatan bahkan setelahnya. 10 langkah tersebut antara lain:

  1. Kebijakan faskes untuk mendukung ibu menyusui dengan tidak mempromosikan susu formula bagi bayi, botol dot maupun empeng, membuat panduan layanan dukungan menyusui dan menjaga kesinambungan dukungan menyusui.
  2. Peningkatan kompetensi nakes dengan melatih staf faskes agar kompeten untuk mendukung ibu menyusui dan menilai pengetahuan dan ketrampilan nakes.
  3. Berdiskusi dengan ibu hamil dan keluarganya tentang pentingnya manajemen menyusui.
  4. Memfasilitasi kontak kulit dini ibu bayi selama minimal 1 jam dan mendorong ibu untuk memulai menyusui dini segera setelah melahirkan pada usia bayi kurang dari 1 jam.
  5. Dukung ibu memulai menyusui dini dan mempertahankan menyusui dan mengatasi masalah menyusui yang umum.
  6. Bayi hanya diberi ASI saja tanpa tambahan makanan atau minuman lain kecuali atas indikasi medis.
  7. Memungkinkan ibu dan bayi tetap dirawat bersama selama 24 jam setelah melahirkan.
  8. Dukung ibu mengenali dan merespon saat bayi menunjukkan tanda lapar.
  9. Memberi konseling pada ibu tentang penggunaan, bahaya dan resiko pemberian botol, dot dan empeng.
  10. Care after discharge”, Berkoordinasi saat ibu pulang; ke mana dan di mana bisa didapatkan bantuan dukungan menyusui tepat waktu berkesinambungan; saat sudah dirumah.

Beberapa manfaat dari menyusui, terutama di masa pandemi ini adalah (Satgas Penangan Covid, 2020):

  1. ASI mengandung imunnoglobulin, antiviral factors, sitokin, dan leukosit yang dapat membantu bayi mempertahankan diri dari serangan virus atau bakteri patogen dan meningkatkan sistem imun bayi. Kandungan ini semakin bertambah seiring pertambahan usia balita
  2. Hormon oksitosin yang distimulir oleh kegiatan menyusui dapat mengurangi stress pada ibu dan membantu menjaga kesehatan mental ibu.
  3. ASI adalah sumber makanan baik yang aman dan terjamin kualitas dan ketersediannya bahkan pada krisis global , dan merupakan cara yang hemat tanpa membebani anggaran rumah tangga.

Pada kondisi dengan Covid-19, ibu diharapkan dapat menerapkan beberapa protokol misalnya dengan:

  1. Gunakan masker ketika menyusui
  2. Cuci tangan sebelum dan sesudah sentuh bayi
  3. Rutin membersihkan permukaan yang disentuh dengan disinfektan
  4. Menerapkan etika batuk dan bersin

Jika ibu merasa kurang sehat dikarenakan tertular COVID-19, terdapat beberapa opsi untuk tetap dapat memberikan ASI kepada bayinya, yaitu:

  1. Memerah ASI dengan menggunakan pompa ASI atau dengan tangan setelah dicuci. ASI yang diperah juga dapat diberikan dengan cangkir dan sendok yang bersih.
  2. Mendapatkan donor ASI
  3. Relaktasi
  4. Selalu mencuci alat pompa ASI, wadah ASI perah, dan peralatan minum bayi secara rutin.
  5. Jika batuk saat payudaranya terbuka, maka ibu perlu mencuci payudaranya dengan sabun dan air hangat setidaknya 20 detik sebelum menyusui. Ibu tidak perlu mencuci payudaranya setiap akan menyusui.
  6. Jika masih merasa kurang yakin, konsultasikan kepada bidan, dokter, atau konselor mengenai ASI.

Kesimpulan

  1. Bayi tetap bersama ibu, tidak perlu dipisahkan, karena akan menambah stress bagi keduanya.
  2. Bayi harus tetap diberikan ASI, walau ibu terpapar Covid 19, dengan menggunakan protokol kesehatan, bila kondisi tidak memungkinkan bisa diperikan ASI perah, dianjurkan tidak menggunakan dot, karena setelah masa isolasi mandiri selesai, dikhawatirkan bayi akan mengalami bingung putting.
  3. Produksi ASI selama menyusui di masa pandemi, harus selalu ditingkatkan dengan nutrisi yang bagus, istirahat yang cukup, meminimalkan stress, tetap tenang, psikologis tetap terjaga, sehingga produksi ASI tidak mengalami perubahan karena stress kondisi akibat pandemi.
  4. Tetap diperlukan dukungan oleh orang orang terdekat, keluarga, suami, petugas kesehatan/kader kesehatan dan teman  untuk memberikan dukungan semangat, sehingga ibu bisa melewati masa isolasi nya dengan baik, tidak ada komplikasi lain.
  5. Selalu cuci tangan, sebelum dan sesudah menyusui, menggunakan masker dan berdoa selalu.

Referensi :

  1. Ibrahim, F., Rahayu, B., & Tinggi. (2021). Analisis Faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif. Jurnal Ilmiah Kesehatan Sandi Husada: JIKSH, 10(1), 18–24.
  2. Munaiseche, M. M., Wagey, F., & Mayulu, N. (2021). Implementasi kebijakan pemberian air susu ibu eksklusif di Puskesmas. Indonesian Journa; of Public Health Community Medicine, 2(1), 10–14.
  3. Utami Roesli, dr. (2021), https://www.suara.com/health/2021/08/12/150209/10-langkah-keberhasilan-ibu-menyusui-saat-pandemi-covid-19
  4. Wulandari, M. A. (2020). Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Dengan Pemberian Asi Eksklusif. http://eprints.ums.ac.id/id/eprint/86292
  5. Yen Tan Shot,dr, https://jateng.suara.com/read/2021/07/01/170413/saat-ibu-menyusui-terpapar-covid-19-pakar-sebut-asi-masih-aman-diberikan-ke-bayi?page=2 

*) Dosen Prodi S1 Keperawatan ITS PKU Muhammadiyah Surakarta

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!