28.9 C
Jakarta

UAD Latih Pembatik Menggunakan Warna Alami

Baca Juga:

YOGYAKARTA, MENARA62.COM — Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melalui
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) bekerjasama dengan Joglo Bale Agung Cendana memberi pelatihan pembatik menggunakan warna alami, Senin (14/6/2021). Pelatihan ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas batik yang dihasilkan pembatik di Kelurahan Semaki, Kapanewon Umbulharjo, Kota Yogyakarta.

Utik Bidayati SE, MM, Wakil Rektor Bidang Keuangan, Kehartabendaan, dan Administrasi Umum mengatakan selama ini pewarnaan alami batik membutuhkan waktu yang lama sekali. Sehingga proses pewarnaan ini membuat pembatik tidak telaten, selain itu, orang yang pesan pun menjadi tidak sabar.

“Dua bulan hingga enam bulan, pewarnaan batik baru selesai. Setelah jadi, model sudah ganti. Ini satu tantangan yang harus dijawab pak Zahrul dkk. Bagaimana warna alami itu bisa diproses lebih cepat,” kata Utik Bidayati pada pembukaan ‘Pelatihan Batik Tulis dan Teknologi Pewarna Alami’ di Yogyakarta, Senin (14/6/2021).

Lebih lanjut Utik menjelaskan selama ini penggunaan pewarna alami yang dilakukan di Joglo Bale Agung Cendana membutuhkan bahan berkilo-kilo. Selain itu, juga harga yang cukup mahal, untuk satu warna membutuhkan bahan perwarna alami sekitar Rp 700-800 ribu. Hasilnya, pun belum tentu memuaskan karena warna yang tidak cerah. “Cara lama ini harus diubah menjadi lebih sedikit bahan pewarna yang digunakan, lebih cerah warnanya (tidak mbladus atau seperti barang lawasan),” kata Utik.

Menurut Utik, kerjasama LPPM UAD dan Joglo Bale Agung Cendana ini merupakan satu sinergi yang luar biasa. Pelatihan ini diharapkan bisa menghasilkan batik berkualitas, warna cerah dan harga relatif mahal. “Untuk menjual batik dengan harga mahal harus ada link dengan penyuka batik. Batik Semaki perlu diperkenalkan melalui website, baik nasional maupun internasional,” harap Utik.

Sedang pengelola Joglo Bale Agung Cendana, Ir Wawan Edi BSc mengatakan kehadiran UAD diharapkan dapat mengubah cara pewarnaan batik yang telah diterapkannya. Di bale Agung, satu warna butuh 8 kilogram bahan, kalau dikalikan Rp 44.000/kilogramnya, maka butuh dana Rp 352.000 untuk satu warna. Kalau satu batik butuh tiga warna bisa mencapai sekitar Rp 700 – 800 ribu. “Mudah-mudahan kehadiran UAD, tiga warna bisa Rp 100 ribu,” kata Wawan Edi.

Sementara Gusti Kanjeng Bendara Raden Ayu Adipati Paku Alam (Gusti Putri), Wakil Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) DIY juga mengungkan terima kasih kepada UAD yang telah memberikan pelatihan pewarnaan batik alami. Menurut Gusti Putri, pewarna alami itu gampang-gampang susah, tetapi kalau tekun dan disiplin bisa.

Gusti Putri yang juga isteri Wakil Gubernur DIY ini juga seorang pembatik. Batik karya Gusti Putri dijual paling sedikit Rp 20 juta/lembar. “Kenapa tinggi sekali, karena saya tidak mau melawan/menyaingi pembatik-pembatik Yogyakarta. Jadi saya up tinggi sekali batik saya dan laku. Mengapa dengan harga tinggi laku, karena saya detil sekali. Setiap motif hanya 10 lembar, gambar saya ambil dari naskah-naskah kuno Kadipaten Puro Pakualaman,” katanya.

Pelatihan ini diinisiasi diinisiasi Dr Ir Zahrul Mufrodi, ST, MT, IPM (Ketua), Bambang Robi’in, ST, MEng, dan Rachma Tia Evitasari, ST, MEng. sebagai anggota. Zahrul menjelaskan, program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi dan branding produk batik tulis pewarna alami pada Bale Agung Cendana Batik Tulis Yogyakarta.

“Saat ini tim dari UAD mengembangkan proses mordanting menggunakan kitosan. Kitosan berasal dari kulit udang, sehingga ramah lingkungan. Berdasarkan hasil penelitian, penambahan kitosan akan meningkatkan warna yang terserap pada kain, sehingga warna yang dihasilkan menjadi lebih gelap. Penggunaan kitosan meningkatkan penyerapan zat warna ke dalam kain sehingga diharapkan proses pewarnaan menjadi lebih cepat dan tidak memerlukan pencelupan berkali-kali,” jelas Zahrul.

Zahrul mengungkapkan, batik yang banyak beredar di masyarakat saat ini adalah batik dengan pewarna sintetis atau napthol. Limbah air dari penggunaan napthol dapat mencemari air dan lingkungan. Berbeda dengan batik dengan pewarna alami yang memiliki warna yang unik dan kalem. Selain itu, Pewarna alami juga umumnya merupakan zat antioksidan aktif.

“Penyuluhan dan pelatihan ini bertujuan agar para pengrajin batik paham proses-proses yang terjadi pada pewarnaan kain. Untuk medapatkan warna pada kain proses yang dilalui tidak hanya mencelupkan kain ke dalam pewarna. Ada proses awal dengan menambahkan bahan mordan yang berfungsi untuk menjembatani kain dengan pewarna alami, umumnya mordan yang digunakan adalah mordan logam seperti tawas, tunjung, dan kapur,” terangnya.

- Advertisement -

Menara62 TV

- Advertisement -

Terbaru!