BANDUNG, MENARA62.COM — Kekayaan hayati Indonesia dinilai menyimpan peluang besar untuk dikembangkan menjadi sumber inovasi di bidang kesehatan, pangan, kosmetik, hingga produk perawatan diri. Potensi tersebut menjadi sorotan Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung dalam kuliah umum dan diskusi kolaborasi riset.
Kegiatan bertajuk “Natural-Based Innovation: Opportunities for Pharmaceutical, Functional Food, Cosmetics and Personal Care Products Research and Development” digelar di Auditorium KH Ahmad Dahlan, UM Bandung, Kamis (13/8/2026).
Forum yang diikuti dosen dan mahasiswa UM Bandung itu menghadirkan akademisi Universiti Putra Malaysia (UPM), Yaya Rukayadi. Diskusi membahas peluang pengembangan bahan alam melalui pendekatan ilmiah sekaligus membuka perspektif mengenai pentingnya kolaborasi lintas institusi.
Wakil Rektor III UM Bandung Ahmad Diponegoro mengatakan kehadiran akademisi dengan pengalaman penelitian internasional diharapkan dapat memperluas wawasan sivitas akademika dan membuka peluang kerja sama baru.
“Apa yang diberikan oleh Profesor Yaya yang sudah berpengalaman di mancanegara dapat menjadi inspirasi kita untuk kolaborasi riset, kolaborasi penelitian, dan pengabdian,” kata Ahmad.
Ia berharap kuliah umum tersebut tidak berhenti sebagai forum transfer pengetahuan. Menurutnya, diskusi yang telah dibangun perlu ditindaklanjuti melalui penelitian bersama maupun program pengabdian kepada masyarakat.
“Kami berharap kegiatan ini ada diskusi yang sangat baik untuk kita manfaatkan,” ujarnya.
Ahmad kemudian secara resmi membuka kegiatan Guest Lecture & Discussion on Research Collaboration tersebut.
Tanaman Terlupakan Punya Potensi Riset
Dalam paparannya, Yaya menjelaskan bahwa pemanfaatan bahan alam memiliki cakupan luas. Tidak hanya untuk pengembangan obat, bahan alami juga berpotensi dikembangkan menjadi functional food, kosmetik, produk personal care, bahan sanitasi, hingga pengawet alami.
Salah satu konsep yang diperkenalkan adalah neglected plants, yakni tanaman yang relatif kurang mendapatkan perhatian dalam pengembangan riset meskipun berpotensi memiliki kandungan nutrisi maupun aktivitas biologis yang bermanfaat.
Menurut Yaya, beragam tanaman dan pangan lokal Indonesia dapat menjadi sumber penelitian yang bernilai. Kenikir, sawo, oncom, dage, buah buni, hingga tanaman yang lekat dengan tradisi masyarakat Sunda disebut memiliki peluang untuk dikaji lebih mendalam.
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) menjadi salah satu contoh tanaman yang dibahas. Tanaman yang telah lama digunakan masyarakat tersebut memiliki sejumlah komponen aktif, termasuk kurkuminoid dan xanthorrhizol, yang masih menjadi objek penelitian.
Contoh lain adalah daun salam (Syzygium polyanthum). Tanaman yang dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia itu berpeluang dikaji melalui penelitian aktivitas antimikroba, termasuk potensinya sebagai food grade sanitizer dan natural food preservative.
Riset Ilmiah Jadi Kunci Hilirisasi
Meski memiliki potensi besar, pemanfaatan bahan alam tidak dapat hanya mengandalkan pengalaman empiris atau popularitas suatu tanaman.
Pengembangan produk tetap membutuhkan penelitian sistematis, pengujian aktivitas biologis, kajian keamanan, serta pembuktian ilmiah. Tahapan tersebut diperlukan agar produk yang dikembangkan benar-benar memberikan manfaat dan memenuhi standar yang dibutuhkan.
Perspektif tersebut mempertemukan kearifan lokal dengan sains modern. Kekayaan tanaman yang selama ini dekat dengan kehidupan masyarakat dapat menjadi sumber pertanyaan ilmiah sekaligus objek penelitian untuk menghasilkan inovasi baru.
Bagi UM Bandung, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperluas wawasan sivitas akademika sekaligus membuka ruang kolaborasi penelitian dan pengabdian dengan akademisi maupun institusi lain.
Kolaborasi riset diharapkan mampu mendorong penelitian kampus tidak berhenti pada publikasi ilmiah, tetapi berkembang menjadi inovasi yang memiliki manfaat nyata dan peluang hilirisasi.
Dengan pendekatan ilmiah, tanaman lokal yang selama ini kurang mendapat perhatian berpotensi dikembangkan menjadi sumber pengetahuan, inovasi, dan solusi bagi kesehatan serta kesejahteraan masyarakat.
Dari kearifan lokal lahir pertanyaan ilmiah. Dari riset yang serius, tumbuh inovasi yang bermanfaat. (HMA)

