SOLO, MENARA62.COM — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id memperkuat komitmen dakwah dan pemberdayaan masyarakat di wilayah 3T melalui Safari Dakwah dan Pembinaan Mualaf di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.
Kegiatan yang digelar 11–15 Agustus 2026 tersebut dilaksanakan Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS bersama Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Rombongan dipimpin Kepala Pondok Shabran UMS KH. Yayuli, S.Ag., M.P.I., bersama Ahmad Mardalis, S.E., MBA., dan Muk Andhim, S.Pd., M.Pd.
Perjalanan menuju Kepulauan Mentawai menjadi tantangan tersendiri. Rombongan terlebih dahulu menempuh perjalanan dari Solo ke Padang, kemudian melanjutkan perjalanan laut menggunakan kapal Mentawai Fast menuju Pulau Sipora Utara.
Selama sekitar empat jam, kapal menghadapi gelombang besar di Samudra Hindia. Namun, kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat rombongan untuk menjalankan misi dakwah dan pembinaan masyarakat.
“Atas izin Allah SWT, rombongan akhirnya mendarat dengan selamat di Pulau Sipora Utara. Salah satu pulau berpenghuni dari sekian ratus pulau di Kabupaten Kepulauan Mentawai. Setibanya di tanah kepulauan, kehangatan persaudaraan langsung terasa,” ujar Yayuli, Kamis (20/8/2026).
Puluhan Mualaf Dapat Pembinaan
Rombongan UMS disambut Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kepulauan Mentawai. Hadir Ketua PDM Rudi, S.Pi., M.Si., Sekretaris PDM Jakfar, S.Ag., dan Bendahara PDM Muhammad Agus, S.Ag.
Jakfar dan Agus merupakan alumni Pondok Shabran UMS yang kini mengabdikan diri di Kepulauan Mentawai. Keduanya turut mendampingi masyarakat setempat dalam mengenal dan memahami Islam.
Saat ini, tercatat lebih dari 80 kepala keluarga (KK) mualaf yang rutin mendapatkan pembinaan keagamaan.
Kehadiran rombongan Pondok Shabran UMS sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat pembinaan tersebut sekaligus memantau perkembangan dakwah yang selama ini dijalankan para alumni.
Salah satu agenda utama digelar melalui Tabligh Akbar bertema penguatan akidah di Masjid At-Taqwa Sipora Utara. Sekitar 40 mualaf hadir mengikuti tausiah yang disampaikan KH. Yayuli.
Di sela-sela kegiatan, Ahmad Mardalis mendorong jamaah untuk terus menuntut ilmu sekaligus memanfaatkan teknologi secara bijak.
“Kita harus terus menuntut dan menyebarkan ilmu, salah satunya dengan bijak memanfaatkan media handphone di genggaman,” ujarnya.
Rombongan juga menyerahkan bantuan sembako dan buku-buku bertema Islam kepada para mualaf. Bantuan tersebut menjadi simbol kepedulian sekaligus memperkuat ikatan persaudaraan antara warga Mentawai dan keluarga besar UMS.
Mualaf Mentawai: UMS Membawa Harapan
Salah seorang mualaf, Ibu Mega, mengungkapkan rasa syukurnya atas kehadiran rombongan dari UMS.
“Terima kasih kami haturkan kepada Universitas Muhammadiyah Surakarta dan Pondok Shabran khususnya yang telah jauh-jauh mendatangi kami di sini. Dulu kami hanya mengenal hutan dan lautan, tapi hari ini kami bersyukur dapat mengenal lebih dalam tentang Islam,” tuturnya.
Menurut Mega, kehadiran UMS bukan hanya membawa bantuan material, tetapi juga memberikan penguatan spiritual dan rasa persaudaraan.
“UMS tidak hanya datang membawa bantuan, namun juga harapan. Ustaz telah mengajari kami bahwa menjadi muslim itu tidak sendirian,” katanya.
Safari dakwah juga diisi khutbah Jumat yang disampaikan Sekretaris Pondok Shabran UMS, Muk Andhim, dengan tema “Islam adalah Agama Kasih Sayang”.
“Mari kita selalu mengingat akan indahnya saling mengasihi dan saling mengulurkan tangan dalam kebaikan,” ujar Muk.
Alumni Shabran Pilih Lanjutkan Pengabdian
Selain pembinaan mualaf, rombongan melakukan monitoring dan evaluasi terhadap alumni Pondok Shabran UMS yang mengabdikan diri di Mentawai.
Salah satu kisah pengabdian datang dari Muhammad Agus. Setelah menyelesaikan masa pengabdian selama satu tahun sebagai bagian dari kewajiban purna studi UMS, Agus memilih memperpanjang masa pengabdiannya.
Memasuki tahun kedua, ia tetap bertahan karena melihat masyarakat masih membutuhkan pendampingan intensif. Di tengah aktivitas dakwah, Agus juga melanjutkan pendidikan pascasarjana secara daring melalui beasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU).
“Pengalaman mengabdi selama satu tahun ini telah membentuk kepribadian saya. Bagi seorang kader Muhammadiyah, kita harus siap berjihad di manapun medan juangnya, laksana anak panah yang melesat dari busurnya,” ungkap Agus, alumni Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir UMS.
Ketua PDM Kepulauan Mentawai, Rudi, mengapresiasi sinergi yang terjalin antara UMS, Pondok Shabran, dan Muhammadiyah di Mentawai.
“Harapan saya agar kolaborasi ini terus berlanjut, mengingat besarnya kontribusi alumni UMS bagi syiar Islam di Kepulauan Mentawai selama ini,” ujarnya.
Safari dakwah tersebut menjadi bagian dari upaya UMS menjaga keberlanjutan pembinaan masyarakat di wilayah 3T. Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, rombongan kembali ke Solo dengan membawa pesan bahwa jarak dan luasnya samudra bukan penghalang untuk merawat ukhuwah dan dakwah.
Yayuli juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang mendukung kegiatan, di antaranya BPH UMS, Lembaga Pengembangan Pondok, Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPIK), Lazismu UMS, LDK PP Muhammadiyah, LDK PWM Sumatera Barat, dan PDM Kepulauan Mentawai.
“Hubungan antara UMS, para alumni, dan masyarakat Mentawai harus terus dirawat meski rombongan telah kembali ke Solo,” pesan Yayuli. (*)

