close

JAKARTA, MENARA62.COM– Kurikulum pendidikan saat ini terlalu teknis administratif dan cenderung berorientasi pada urusan pekerjaan. Artinya, kata Rektor Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka) Prof Suyatno, kurikulum pendidikan masih diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dunia kerja, belum untuk membangun peradaban.

“Jadi orientasi kurikulum pendidikan kita masih pada lulusan belum pada kehidupan jangka panjang. Apalagi perjalanan sesudah kematian,” jelas Rektor di sela seminar nasional bertajuk Kurikulum Kehidupan: Menuju Revolusi Pendidikan yang digelar di Aula Uhamka, belum lama ini.

Mengutip pernyataan Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela, bahwa pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia. Namun supaya bisa mengubah dunia tentu seseorang harus pandai dan itu lanjut Rektor membutuhkan kurikulum yang bagus.

Rektor juga mengingatkan bahwa Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara telah memberikan pandangan bahwa pendidikan haruslah sesuai dengan kepentingan rakyat, nusa dan bangsa. Ada kepentingan hidup kebudayaan dan kemasyarakatan dalam arti yang luas.

“Bahkan Bapak Ki Hajar Dewantara sudah mewanti-wanti dalam pendidikan kita akan bertemu dengan perbedaan anak didik, perbedaan bakat termasuk latar belakang sosial ekonomi. Ada daerah pertanian, perdagangan, nelayan dan lainnya. Semua unsur itu harus menjadi pertimbangan dalam penyusunan kurikulum dan proses pendidikan,” tambah Rektor.

Sementara itu Direktur Institut Indonesia Bermutu (IIB) Zulfikri Anas mengatakan keresahannya dengan apa yang terjadi saat ini. Dulu masyarakat Indonesia dikenal sebagai orang yang santun, ramah, saling menghormati satu sama lain, jujur, peduli pada sesama, religius. Tetapi kini menjadi bringas, sifat humanis makin menjauh.

“Saya tidak paham dengan apa yang terjadi pada dunia pendidikan kita,” katanya.

Menurutnya, semua ini merupakan produk sistem pendidikan dan sekaligus menjadi kontra produktif bagi dunia pendidikan itu sendiri. Perilaku yang terjadi adalah hasil sebuah sistem.

“Semua itu tidak terlepas dari apa yg di sebut dengan “dunia pendidikan”.  Kita semua jadi mempertanyakan, apa sesungguhnya yang telah terjadi di dunia pendidikan kita,” tutup Zulfikri Anas.