34.3 C
Jakarta

97 Persen Santri I’dad Shabran UMS Capai Target Hafalan

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Pondok Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta ums.ac.id (UMS) mencatat prestasi membanggakan pada Haflah Akhirussanah Program I’dad Angkatan 2025. Sebanyak 31 dari 32 mahasantri atau 97 persen berhasil memenuhi target hafalan minimal 10 juz Al-Qur’an, bahkan dua di antaranya menuntaskan hafalan 30 juz.

 

Capaian tersebut mendapat apresiasi dari Ketua Asosiasi Pengelola Asrama Mahasiswa Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (ASLAMA PTMA), Dra. Muamaroh, M.Hum., Ph.D., saat menghadiri Haflah Akhirussanah yang digelar di Ruang Seminar Gedung Induk Siti Walidah UMS, Rabu (8/7/2026).

 

Program I’dad merupakan pembinaan intensif selama satu tahun yang memadukan pendidikan tahfiz Al-Qur’an dan penguatan kemampuan bahasa Arab sebagai bekal kader Muhammadiyah sebelum memasuki jenjang perkuliahan di Fakultas Agama Islam (FAI) UMS.

 

Mahasantri yang mengikuti program berasal dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, hingga Sulawesi Tenggara. Keberagaman tersebut menunjukkan luasnya jangkauan kaderisasi Pondok Shabran UMS.

 

Selain sukses memenuhi target hafalan, para mahasantri juga menunjukkan kemampuan bahasa Arab yang membanggakan. Mayoritas memperoleh predikat Jayyid Jiddan (sangat baik) dan Jayyid (baik), sementara beberapa peserta berhasil meraih nilai tertinggi dengan predikat Mumtaz.

 

Suasana haflah semakin semarak saat digelar sesi uji publik hafalan Al-Qur’an. Para tamu undangan, mulai dari pimpinan Pondok Shabran, pimpinan Fakultas Agama Islam UMS, alumni, hingga undangan lainnya, diberi kesempatan menguji hafalan mahasantri secara langsung.

 

Berbagai pertanyaan mengenai ayat Al-Qur’an mampu dijawab dengan lancar oleh para mahasantri. Penampilan tersebut mendapat apresiasi, termasuk dari Kepala Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir FAI UMS, Dr. Kharis Nugraha, Lc., M.Ud., yang mengaku terkesan dengan kualitas hafalan peserta.

 

Ketua ASLAMA PTMA, Muamaroh, menegaskan haflah bukanlah akhir perjalanan para mahasantri, melainkan awal perjuangan mereka sebagai kader Muhammadiyah di perguruan tinggi.

 

“Hari ini bukanlah akhir dari perjuangan kalian. Justru ini menjadi langkah awal untuk memulai perjuangan yang sebenarnya dalam menempuh pendidikan di tingkat perguruan tinggi. Kelak kalian akan menghadapi berbagai tantangan yang tidak kalian temukan sebelumnya. Jadi, istiqamah adalah kata kuncinya,” ujarnya, Jumat (17/7/2026).

 

Ia menilai Program I’dad merupakan inovasi kaderisasi yang patut diapresiasi karena mampu melahirkan calon intelektual Muslim yang memiliki bekal hafalan Al-Qur’an dan kemampuan bahasa Arab.

 

“Program I’dad ini merupakan terobosan yang membanggakan. Ke depan, saya optimistis Pondok Shabran UMS akan melahirkan kader-kader Muhammadiyah yang lebih siap menghadapi berbagai persoalan keumatan dengan bekal bahasa Arab yang mumpuni dan hafalan Al-Qur’an yang kuat,” katanya.

 

Sementara itu, Kepala Pondok Shabran UMS, KH Yayuli, S.Ag., M.P.I., mengungkapkan rasa syukur atas capaian para mahasantri angkatan IV.

 

Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi motivasi bagi pondok untuk terus meningkatkan kualitas pembinaan, baik dari sisi program maupun pendampingan.

 

“Kami sangat bersyukur atas capaian para mahasantri hari ini. Harapan kami, mereka terus menjaga bahkan meningkatkan hafalan, baik dari segi kualitas maupun kuantitas, serta mengamalkan ilmu yang telah dipelajari,” ungkapnya.

 

Salah seorang mahasantri, Dzulkifi Adil Imamiyyah, mengaku terharu dapat menyelesaikan Program I’dad. Ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh pembina, khususnya Faizin Mubarok Ahmad, S.Pd., dan Ustazah Asma’, S.Pd., yang dinilai sabar dan istiqamah mendampingi para mahasantri selama proses pembinaan.

 

Usai menyelesaikan Program I’dad, seluruh mahasantri akan melanjutkan studi sarjana di Fakultas Agama Islam UMS pada Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), Hukum Ekonomi Syariah (HES), dan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IQT).

 

Haflah Akhirussanah pun menjadi lebih dari sekadar seremoni penutupan. Momentum tersebut menandai lahirnya kader-kader muda Muhammadiyah yang siap melanjutkan pendidikan tinggi dengan bekal hafalan Al-Qur’an, kemampuan bahasa Arab, serta komitmen untuk berkontribusi bagi umat dan bangsa. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!