30 C
Jakarta

Puasa sebagai Audit Diri, Refleksi Akuntabilitas Spiritual

Baca Juga:

BANDUNG, MENARA62.COM – Kaprodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Bandung Iman Harjono menyampaikan bahwa filosofi akuntansi dapat dimaknai sebagai sarana audit diri yang mendalam bagi setiap insan. Khususnya pada bulan Ramadhan yang sarat dengan refleksi spiritual.

Ia menegaskan bahwa nilai-nilai utama dalam profesi akuntan seperti integritas, transparansi, dan akuntabilitas memiliki keselarasan yang kuat dengan ajaran Islam. Oleh karena itu, Ramadhan menjadi momentum penting untuk menghidupkan nilai tersebut, tidak hanya dalam profesi, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Iman, akuntansi tidak semata-mata berbicara tentang angka dan laporan keuangan, melainkan juga dapat menjadi metafora kehidupan. Setiap manusia, sebagaimana akuntan, sejatinya memiliki “laporan amal” yang kelak akan diperiksa secara rinci tanpa adanya toleransi revisi.

“Sebagaimana laporan keuangan harus jujur dan akurat, demikian pula hidup manusia akan diperiksa Allah dengan catatan yang sempurna, tanpa ada yang terlewat,” ujarnya saat mengisi Kajian Ramadhan di YouTube UM Bandung pada Jumat (20/02/2026).

Ia mengaitkan hal tersebut dengan pesan Al-Qur’an yang menggambarkan pencatatan amal secara menyeluruh, baik yang kecil maupun besar. Kesadaran ini, lanjutnya, seharusnya menumbuhkan sikap kehati-hatian dalam bertindak karena setiap ucapan dan perbuatan memiliki konsekuensi spiritual.

Lebih jauh, Ramadhan diposisikan sebagai audit internal spiritual sebelum tibanya hari hisab di akhirat. Dalam praktik perusahaan, audit internal dilakukan untuk memastikan kesiapan sebelum audit eksternal, dan prinsip serupa berlaku dalam kehidupan manusia selama Ramadhan.

Dalam refleksi akuntansi kehidupan, Iman memperkenalkan konsep neraca amal, di mana aset diibaratkan sebagai salat, sedekah, ilmu yang bermanfaat, kejujuran, dan amanah. Sebaliknya, liabilitas berupa dosa lisan, kelalaian, manipulasi, dan kurangnya amanah menjadi beban yang mengurangi nilai amal.

Menutup refleksinya, Iman menekankan bahwa nilai seseorang tidak ditentukan oleh jabatan atau prestasi duniawi, melainkan oleh kualitas amal dan integritas yang dijaga sepanjang hidup. Ia berharap Ramadhan benar-benar menjadi momentum untuk menambah aset amal, mengurangi liabilitas dosa, dan mempersiapkan diri menghadapi pertanggungjawaban akhir di hadapan Allah. (FA)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!