30 C
Jakarta

Kajian Ramadhan di Masjid Luluah Gatak: Prof Suranto UMS Jelaskan Puasa sebagai Jalan Menuju Ampunan Allah

Baca Juga:

SUKOHARJO, MENARA62.COM – Suasana penuh khidmat mewarnai kegiatan kajian Ramadhan menjelang berbuka puasa yang digelar di Masjid Luluah, Klaseman, Kecamatan Gatak, Kabupaten Sukoharjo, Ahad (8/3/2026). Ratusan jamaah dari berbagai kalangan hadir untuk menambah wawasan keislaman sekaligus memperdalam makna ibadah puasa di bulan suci.

Kajian yang dimulai pukul 16.30 WIB tersebut mengangkat tema “Puasa: Bulan Penuh Ampunan” dengan menghadirkan narasumber Prof. Dr. Ir. H. Suranto, ST, MM, MSi, Direktur Sekolah Vokasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Dalam tausiyahnya, Prof Suranto menegaskan bahwa puasa tidak hanya dimaknai sebagai menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Lebih dari itu, puasa merupakan proses pembinaan spiritual yang mendalam bagi setiap Muslim.

Menurutnya, ibadah puasa melatih manusia untuk mengendalikan hawa nafsu, memperkuat kesabaran, serta menumbuhkan keikhlasan dalam menjalankan perintah Allah SWT.

“Puasa adalah latihan spiritual yang membentuk karakter manusia agar mampu mengendalikan diri, lebih sabar, serta semakin dekat dengan Allah,” jelasnya di hadapan para jamaah.

Ramadhan Momentum Meraih Ampunan

Dalam kajian tersebut juga disampaikan bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan penuh ampunan. Pada bulan ini, Allah SWT membuka pintu rahmat seluas-luasnya bagi umat manusia yang ingin memperbaiki diri.

Setiap amal kebaikan yang dilakukan selama Ramadhan akan dilipatgandakan pahalanya. Selain itu, doa-doa juga lebih mudah dikabulkan.

Karena itu, umat Islam dianjurkan memanfaatkan bulan suci ini dengan memperbanyak ibadah, membaca Al-Qur’an, mempererat silaturahmi, serta meningkatkan kepedulian sosial kepada sesama.

Salah satu peserta kajian, H. Hasim Asyari, mengaku sangat terinspirasi dengan materi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Menurutnya, kajian tersebut memberikan dorongan kuat bagi jamaah untuk lebih mendekatkan diri kepada Al-Qur’an.

“Materinya sangat inspiratif. Kita diingatkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya dibaca, tetapi juga harus dipahami dan diamalkan agar menjadi amal saleh yang membawa manfaat bagi sesama,” ungkapnya.

Puasa Membentuk Karakter dan Kepedulian Sosial

Moderator kajian, M. Taufik, juga mengingatkan jamaah agar selalu bersyukur atas berbagai nikmat yang diberikan Allah SWT. Ia mengajak jamaah untuk mengisi hari-hari Ramadhan dengan aktivitas yang bermanfaat dan menjadikan diri sebagai pribadi yang berakhlak mulia.

Dalam kajian tersebut dijelaskan pula bahwa puasa memiliki peran penting dalam pembentukan karakter manusia. Melalui ibadah ini, seseorang belajar menahan diri dari berbagai hal yang dilarang, melatih disiplin waktu, serta menumbuhkan empati terhadap mereka yang hidup dalam keterbatasan.

Nilai-nilai tersebut diharapkan mampu membentuk pribadi yang lebih peduli terhadap sesama dan lingkungan sekitar.

Selain itu, Ramadhan juga menjadi momentum terbaik untuk memperbanyak amal saleh serta memohon ampun atas segala kesalahan yang pernah dilakukan.

Para jamaah juga diajak untuk terus menjaga semangat ibadah setelah Ramadhan berakhir, sehingga kebiasaan baik yang terbentuk selama bulan suci dapat terus dilanjutkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kajian Ramadhan di Masjid Luluah tersebut ditutup dengan doa bersama, memohon agar bulan suci Ramadhan benar-benar menjadi momentum perubahan menuju pribadi yang lebih taat, lebih bersyukur, serta lebih dekat kepada Allah SWT. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!