30 C
Jakarta

I’tikaf Jadi Penawar Bising Krisis Global

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM — Wakil Ketua Majelis Pembina Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Faozan Amar, mengajak umat Islam menjadikan i’tikaf sebagai jalan menemukan ketenangan batin di tengah berbagai krisis global. Pesan tersebut disampaikan saat ceramah tarawih di Masjid Al Falah Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Selasa (10/3/2026), bertepatan dengan malam ke-22 Ramadan 1447 Hijriah.

Dalam tausiyah bertema “I’tikaf di Tengah Bisingnya Krisis Global”, Faozan menilai dunia saat ini dipenuhi berbagai ketidakpastian, mulai dari konflik geopolitik, tekanan ekonomi global, hingga ketegangan antarnegara. Kondisi tersebut, menurutnya, kerap memengaruhi ketenangan batin manusia.

“Dunia hari ini terasa sangat bising. Setiap hari kita disuguhi kabar tentang konflik geopolitik, tekanan ekonomi global, hingga ketegangan antarnegara. Dalam situasi seperti itu, i’tikaf menjadi ruang untuk menenangkan hati sekaligus menjernihkan pikiran,” ujar Faozan di hadapan jamaah.

Selain aktif di Muhammadiyah, Faozan juga merupakan Associate Professor di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA). Ia menekankan bahwa i’tikaf tidak hanya memiliki makna ibadah spiritual, tetapi juga menjadi sarana refleksi mendalam bagi manusia modern.

Menurutnya, dalam kesunyian masjid seseorang memiliki kesempatan untuk mengevaluasi diri dan memperbaiki orientasi hidup. Ia menilai banyak keputusan keliru dalam kehidupan pribadi maupun organisasi sering muncul karena pikiran yang dipenuhi tekanan dan kekhawatiran.

“Dalam keheningan i’tikaf, manusia belajar menata kembali hati dan pikirannya. Dari situ lahir ketenangan, dan dari ketenangan itulah muncul kejernihan dalam mengambil keputusan,” katanya.

Faozan juga mengaitkan nilai i’tikaf dengan perspektif manajemen strategi. Dalam dunia kepemimpinan modern dikenal istilah strategic retreat, yakni proses menepi sejenak dari kesibukan untuk melakukan refleksi dan menyusun langkah yang lebih matang.

“I’tikaf mengajarkan bahwa berhenti sejenak bukan berarti mundur. Justru dari jeda itulah seseorang dapat melihat persoalan dengan lebih jernih,” jelasnya.

Ia menambahkan, sepuluh malam terakhir Ramadan merupakan momentum penting bagi umat Islam untuk melakukan spiritual upgrading. Melalui peningkatan kualitas ibadah, umat diharapkan memiliki ketahanan moral dan spiritual dalam menghadapi tantangan zaman.

“Ketika dunia semakin gaduh, umat Islam diajarkan menemukan ketenangan melalui kedekatan kepada Allah. I’tikaf adalah cara menjaga kejernihan hati di tengah badai kehidupan,” tutur Faozan.

Ceramah tarawih tersebut berlangsung khidmat dan diikuti jamaah dari berbagai kalangan masyarakat Bendungan Hilir dan sekitarnya. Kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa Ramadan bukan hanya momentum ibadah ritual, tetapi juga waktu terbaik untuk memperkuat ketenangan batin dan kebijaksanaan dalam menjalani kehidupan. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!