JAKARTA, MENARA62.COM – Beragam karya grafis terpajang di lantai dua Rumah Cetak Balekambang, Kramat Jati, Jakarta Timur. Drawing, aquatint, mezzotint, kolagraf, dry point hingga digital print memenuhi ruang galeri berukuran 40 meter. Seniman RW Mulyadi, yang telah lama menguasai berbagai teknik grafis, menampilkan puluhan karya dengan kekhasan visualnya.
“Kalau saya bosan menggunakan lino, saya beralih ke dry point atau etching. Saya tak mau hanya menangani satu teknik saja,” ujar Mulyadi, Kamis (12/3/2026). Ia menekankan bahwa setiap teknik memiliki karakter dan kesulitan tersendiri, termasuk mezzotint yang bertolak dari gelap ke terang.
Karya-karyanya banyak menonjolkan kesan hitam putih. Menurutnya, dalam grafis, gelap bukan sekadar blok warna, melainkan hasil pertemuan garis-garis. Proses berkarya pun dilakukan dua kali: membuat cetakan, lalu mencetak hasilnya sebagai karya final. “Bahkan saya pun tak merasa tabu menggunakan digital karena setiap zaman teknik berubah. Meski berangkat dari lukis, saya sudah grafis sejak lama,” tambahnya.
Pameran karya RW Mulyadi yang dibuka 13 Februari 2026 bertepatan dengan hari kelahirannya, menjadi ajang wisata visual dengan ragam teknik grafis.
Dari Pasar Seni Ancol ke Rumah Cetak Balekambang
RW Mulyadi telah malang melintang di dunia seni rupa sejak 1975 di Pasar Seni Ancol, bersama seniman seperti Hatta Hambali dan Amrus Natalsya. Pada 1986, ia membeli lahan seluas 800 meter di Balekambang dan menjadikannya rumah, studio, sekaligus galeri.
Kini, Rumah Cetak Balekambang difokuskan sebagai ruang diskusi, workshop, dan galeri yang rutin menggelar pameran. “Nama itu tetap saya pertahankan. Setelah pameran karya saya, galeri akan terbuka untuk semua seniman, dari grafis, patung, fotografi, hingga seni rupa lainnya. Tinggal menghubungi manajemen galeri, bukan lewat saya. Saya fokus berkarya saja,” pungkasnya.

