SOLO, MENARA62.COM – Inovasi dalam dunia pendidikan dasar kembali hadir dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id. Melalui disertasinya, Erna Zumrotun mengembangkan bahan ajar Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) yang terintegrasi dengan budaya lokal dan pendekatan STEAM sebagai upaya mendorong pembelajaran holistik di sekolah dasar. Disertasi tersebut ia presentasikan saat ujian promosi doktor dari program studi Pendidikan program Doktor yang digelar pada Kamis, (30/4).
Penelitiannya ini dilatarbelakangi oleh keterbatasan bahan ajar IPAS di sekolah dasar yang dinilai masih bersifat umum, kurang kontekstual, serta belum mengakomodasi integrasi budaya lokal. Kondisi tersebut menyebabkan pembelajaran menjadi kurang bermakna dan belum sepenuhnya relevan dengan kehidupan nyata siswa.
Erna menjelaskan bahwa integrasi pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) dengan budaya lokal menjadi solusi strategis untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual, integratif, dan menyeluruh.
“Pembelajaran tidak hanya fokus pada pengetahuan, tetapi juga mengaitkan dengan realitas sosial dan budaya siswa,” ujar Erna yang baru menyandang gelar doktornya, Jumat (1/5).
Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan model ADDIE yang mencakup lima tahap, yakni analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Subjek penelitian melibatkan guru dan siswa kelas V sekolah dasar di Kabupaten Jepara.
Erna mengungkapkan hasil penelitian menunjukkan bahwa guru membutuhkan bahan ajar IPAS yang mampu mengintegrasikan muatan IPA dan IPS sekaligus mengakomodasi konteks budaya lokal. Berdasarkan kebutuhan tersebut, Erna mengembangkan bahan ajar cetak bertajuk IPAS Pesona Jepara yang terdiri dari empat bab tematik.
“Bahan ajar ini dirancang dengan memadukan konten IPAS, kearifan lokal Jepara, serta aktivitas pembelajaran berbasis STEAM yang mendorong keterlibatan aktif siswa. Hasil validasi dari para ahli menunjukkan bahwa produk yang dikembangkan masuk dalam kategori sangat layak dengan skor rata-rata 3,83 atau setara 95,75 persen,” paparnya.
Tidak hanya layak secara akademik, bahan ajar ini juga terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Uji efektivitas menunjukkan nilai N-Gain rata-rata sebesar 0,86 pada skala kecil, serta peningkatan kategori sedang hingga tinggi pada uji skala besar di dua sekolah.
Temuan ini menegaskan bahwa bahan ajar yang kontekstual dan terintegrasi mampu meningkatkan kualitas pembelajaran. Selain itu, pendekatan holistik yang diusung juga membantu siswa memahami materi secara lebih menyeluruh dan relevan dengan kehidupan mereka.
Melalui disertasinya, bahan ajar IPAS Pesona Jepara diharapkan dapat menjadi sumber belajar pendamping bagi guru dalam mengoptimalkan pembelajaran IPAS di sekolah dasar, sekaligus memperkuat integrasi budaya lokal dalam pendidikan. (*)

