SLEMAN, MENARA62.COM
Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman, Yogyakarta, menggelar kegiatan Silaturahmi Syawal yang dirangkaikan dengan pamitan haji 1447 Hijriah pada Minggu (12/4/2026) di Masjid Agung Sleman. Kegiatan ini berlangsung khidmat dan dihadiri ribuan jamaah dari berbagai unsur Muhammadiyah se-Kabupaten Sleman.
Turut hadir dalam acara tersebut Anggota Fraksi PAN DPRD DIY Raden Inoki AP serta Anggota Fraksi PAN DPRD Sleman Respati Agus Sasangka. Keduanya dikenal sebagai kader Muhammadiyah yang aktif berkiprah di ranah politik praktis.
Dalam wawancara usai acara, Raden Inoki AP menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaannya dapat hadir dalam momentum silaturahmi tersebut. Ia menilai kegiatan ini bukan sekadar tradisi pasca-Idulfitri, tetapi juga sebagai penguat nilai-nilai perjuangan Muhammadiyah di tengah dinamika zaman.
“Alhamdulillah saya bahagia dapat hadir dalam Silaturahmi Syawal PDM Sleman kali ini. Apa yang disampaikan Ketua PDM agar kita selalu kuat dan semangat menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus merawat semangat bermuhammadiyah dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa nilai-nilai tersebut juga relevan dalam praktik politik. Menurutnya, kader Muhammadiyah yang terjun ke dunia politik harus mampu menjawab tantangan zaman yang terus berubah dengan cepat, baik dalam aspek sosial maupun ekonomi digital.
“Termasuk dalam jalan politik praktis, kita juga didorong untuk tanggap terhadap perubahan cepat yang terjadi saat ini. Dinamika kehidupan sosial, perkembangan ekonomi digital, hingga perubahan mekanisme pelaksanaan dam menjadi contoh nyata. Kami harus responsif agar pemerintah dapat hadir memastikan semua berjalan sesuai aturan serta memberi implikasi ekonomi bagi kesejahteraan rakyat,” tambahnya.
Sementara itu, dalam tausiyahnya, Muhammad Rofiq Mudakir mengangkat tema pentingnya umat Islam memahami perkembangan teknologi dan ekonomi modern. Ia mencontohkan fenomena aset digital seperti kripto yang kini mulai diakui memiliki nilai ekonomi di berbagai belahan dunia.
Menurutnya, perkembangan tersebut perlu disikapi dengan bijak melalui kajian mendalam agar umat tidak tertinggal sekaligus tetap berada dalam koridor syariah. Ia juga menyinggung perubahan mekanisme pelaksanaan dam bagi jamaah haji yang kini dapat dilakukan di Indonesia sebagai bagian dari adaptasi kebijakan dan efisiensi.
“Fenomena kripto atau aset digital menunjukkan bahwa sesuatu yang dahulu tidak dianggap bernilai, kini bisa memiliki nilai ekonomi yang signifikan. Muhammadiyah telah melakukan kajian dan mampu menangkap peluang-peluang kemajuan teknologi ini,” jelasnya dalam tausiyah.
