33.1 C
Jakarta

Risma Soroti Darurat Mental, Gabung Komunitas Hipnotis

Baca Juga:

SURABAYA, MENARA62.COM – Isu kesehatan mental di Indonesia kembali menjadi sorotan. Mantan Menteri Sosial RI 2020–2024, Tri Rismaharini, menegaskan bahwa Indonesia tengah menghadapi kondisi darurat kesehatan mental yang membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak.

Hal tersebut disampaikan Risma saat dikukuhkan sebagai anggota kehormatan Perkumpulan Komunitas Hipnotis Indonesia dalam agenda Silaturahmi Nasional dan Seminar Nasional Hipnosis 2026 di Surabaya, Sabtu–Minggu (25–26/4/2026).

Dalam forum yang dihadiri ratusan praktisi hipnosis dari dalam dan luar negeri itu, Risma menekankan bahwa kesehatan mental bukanlah kemewahan, melainkan hak dasar setiap manusia.

“Saya baru mengetahui ada komunitas sebagus PKHI. Jutaan masyarakat memerlukan uluran tangan para ahli hipnoterapi, karena banyak dari mereka tidak hanya butuh bantuan materi, tetapi juga didengarkan,” ujar Risma.

Indonesia Hadapi Krisis Kesehatan Mental

Risma mengungkapkan, persoalan kesehatan mental di Indonesia selama ini kerap luput dari perhatian. Minimnya jumlah tenaga profesional seperti psikiater serta kuatnya stigma sosial membuat banyak masyarakat enggan mencari pertolongan.

Pengalaman lapangan selama menjabat sebagai Menteri Sosial hingga Wali Kota Surabaya menjadi dasar kuat pernyataannya. Ia menyebut berbagai persoalan sosial seperti kemiskinan, kekerasan dalam rumah tangga, hingga penelantaran anak kerap berakar dari luka psikologis yang tidak tertangani.

“Banyak ibu mengalami depresi pascamelahirkan, remaja korban perundungan, hingga lansia yang kesepian. Mereka semua membutuhkan pendampingan mental,” tegasnya.

PKHI Perkuat Peran Hipnoterapi

Ketua Umum PKHI, Avifi Arka, menyebut pengukuhan Risma sebagai bentuk apresiasi atas kepeduliannya terhadap kesehatan mental masyarakat.

PKHI sendiri merupakan organisasi profesi dengan lebih dari 16 ribu praktisi hipnoterapi yang telah berkiprah selama 12 tahun dan menjadi mitra pemerintah di bidang hipnosis. Organisasi ini juga bekerja sama dengan Universitas Gadjah Mada dalam pengembangan Transpersonal Clinical Hypnotherapy.

Dalam seminar tersebut, Guru Besar Psikologi UGM, Kwartarini Wahyu Yuniarti, menekankan pentingnya integrasi pendekatan psikologis berbasis bukti dengan hipnoterapi agar intervensi lebih efektif.

Sementara itu, Pukovisa Prawiroharjo dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menjelaskan keterkaitan hipnoterapi dengan ilmu saraf (neurosains), termasuk peran neuroplastisitas dalam proses penyembuhan mental.

Ekspansi Global Gerakan Kesehatan Mental

Tak hanya di dalam negeri, PKHI juga memperluas jangkauan organisasi hingga ke mancanegara. Dalam Silatnas tersebut, dilantik pengurus daerah dan luar negeri di sejumlah negara seperti Jepang, Australia, Inggris, Arab Saudi, Malaysia, dan Timor Leste.

Ketua Pelaksana kegiatan, Donny, menyebut ekspansi ini sebagai langkah strategis untuk memperluas akses layanan kesehatan mental bagi diaspora Indonesia.

“Gerakan ini bukan sekadar organisasi, tetapi misi sosial untuk memastikan kesehatan mental dapat diakses semua kalangan,” ujarnya.

Seruan untuk Aksi Nyata

Risma pun mengajak para praktisi hipnoterapi untuk turun langsung ke masyarakat akar rumput, tidak hanya melayani kalangan perkotaan.

Ia menegaskan bahwa kepercayaan publik terhadap hipnoterapi harus dibangun melalui pendekatan ilmiah dan dampak nyata di masyarakat.

“Kesehatan mental, seperti pendidikan dan kesehatan fisik, bukan hak istimewa. Ini adalah hak semua orang,” pungkasnya. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!