29.6 C
Jakarta

Milad ke-47, IIM Surakarta Bidik Kampus Global

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM — Institut Islam Mamba’ul ‘Ulum (IIM) Surakarta menegaskan komitmennya menuju universitas Islam kelas dunia dalam Sidang Senat Terbuka dan Orasi Ilmiah Milad ke-47 yang digelar di Hotel Dana Surakarta, Rabu (13/5/2026).

 

Momentum milad kali ini menjadi refleksi perjalanan panjang IIM Surakarta sekaligus penegasan arah baru transformasi kelembagaan menuju perguruan tinggi Islam yang unggul, modern, dan berdaya saing global.

 

Rektor IIM Surakarta, Dr. Edy Muslimin, S.Ag., M.S.I., dalam laporan refleksi kepemimpinannya menyampaikan bahwa usia 47 tahun menjadi fase penting bagi kampus untuk menentukan arah masa depan.

 

“Empat puluh tujuh tahun bukan usia yang pendek bagi sebuah institusi pendidikan Islam. Hari ini, IIM Surakarta sedang berdiri pada satu titik sejarah yang sangat menentukan,” ujar Edy Muslimin.

 

Ia menegaskan, transformasi menuju universitas Islam kelas dunia bukan sekadar perubahan nama atau status kelembagaan, melainkan perubahan kualitas akademik, tata kelola, riset, hingga reputasi global.

 

Dalam paparannya, Edy menjelaskan perjalanan panjang IIM Surakarta dimulai sejak embrio awal tahun 1962 sebagai UII Cabang Surakarta, kemudian berkembang menjadi Universitas Islam Surakarta (UNIS), STAIMUS, hingga kini menjadi IIM Surakarta yang memasuki fase transformasi global.

 

Menurutnya, dalam satu setengah tahun terakhir, kampus menunjukkan perkembangan signifikan di berbagai bidang. Transformasi pembelajaran berbasis Outcome-Based Education (OBE) mulai berjalan dengan capaian penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) berbasis OBE mencapai 98 persen dan implementasi pembelajaran student-centered sebesar 93 persen.

 

Selain itu, atmosfer akademik dinilai semakin hidup melalui peningkatan seminar, kuliah tamu, dialog publik, hingga kegiatan kokurikuler mahasiswa. Digitalisasi sistem akademik melalui SIAKAD, SISTER, dan SINTA juga mulai diperkuat sebagai bagian dari tata kelola modern berbasis teknologi.

 

“IIM bukan kampus yang kekurangan energi. Justru sebaliknya, IIM sedang bergerak cepat,” tegasnya.

 

Meski demikian, Edy mengakui masih terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi secara objektif. Salah satunya adalah peningkatan daya saing, kualitas penelitian, publikasi ilmiah, hingga penguatan prestasi mahasiswa.

 

Ia juga menyoroti ketergantungan perguruan tinggi terhadap biaya pendidikan mahasiswa sebagai sumber utama pendapatan yang dinilai menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan institusi.

 

Menurutnya, perguruan tinggi unggul harus memiliki diversifikasi sumber pendapatan melalui riset, kerja sama strategis, inovasi, serta pengembangan unit usaha akademik.

 

Dalam pidatonya, Edy turut mengingatkan ancaman terbesar perguruan tinggi saat ini adalah terlihat aktif secara internal namun lemah secara eksternal.

 

“Kampus terlihat aktif, tetapi tidak kompetitif. Program banyak, tetapi dampaknya kecil,” katanya.

 

Karena itu, IIM Surakarta kini menargetkan transformasi yang lebih mendalam, mulai dari peningkatan kualitas lulusan, penguatan konsorsium riset produktif, kolaborasi internasional berdampak, hingga penguatan keberlanjutan finansial kampus.

 

Edy optimistis, dengan kepemimpinan yang visioner dan kolaboratif, IIM Surakarta mampu melakukan “lompatan peradaban akademik” menuju panggung global. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!