33.9 C
Jakarta

Atlet Papua Barat Daya Siap Taklukkan Muhammadiyah Games

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Perjalanan panjang dari Indonesia Timur tidak menyurutkan semangat Nur Rahman untuk tampil dalam cabang olahraga pencak silat pada The 1st Muhammadiyah Games 2026 di Universitas Muhammadiyah Surakarta https://www.ums.ac.id/ (UMS). Atlet Tapak Suci dari Universitas Muhammadiyah Sorong (UNAMIN) itu datang bersama dua rekannya, Sanjung Sederhana dan Rizkya Eka Bunga Aldilah Maateka, didampingi pembina mereka, Wahyudi.

 

Mahasiswa UNAMIN itu mengatakan dirinya mulai menekuni Tapak Suci sejak duduk di bangku kelas lima sekolah dasar. Awalnya ia belum bersekolah di Muhammadiyah, namun kecintaannya terhadap pencak silat terus tumbuh hingga akhirnya aktif bertanding ketika masuk sekolah Muhammadiyah.

 

“Saya mulai ikut Tapak Suci sejak kelas lima SD. Waktu SMP baru masuk sekolah Muhammadiyah dan mulai ikut tanding,” katanya, Sabtu (16/5).

 

Menurut Rahman, tantangan terbesar atlet dari Indonesia Timur bukan hanya soal latihan, tetapi juga akses dan perjalanan yang panjang menuju arena pertandingan. Ia mengungkapkan rombongannya baru tiba di Surakarta pada malam hari sebelum pertandingan dimulai yaitu Kamis, (14/5).

 

“Tantangan terbesar ya perjalanan kita. Sampai sini fisik sudah lemas karena baru tadi malam sampai. Sampai penginapan jam satu malam, pagi langsung timbang. Jadi kita main memang kurang fit,” ungkapnya.

 

Meski demikian, keterbatasan tidak menghalangi semangatnya untuk terus berprestasi. Ia bahkan pernah mengikuti kejuaraan dunia pencak silat di Malang dan berhasil meraih sejumlah prestasi di tingkat regional maupun nasional.

 

“Kalau nasional baru pertama kali juara satu di Makassar Championship. Kalau di provinsi sudah beberapa kali ikut, tapi sering gugur di semifinal. Alhamdulillah kemarin di Pomprov Papua Barat Daya bisa juara satu,” jelasnya.

 

Rahman juga menyoroti keterbatasan fasilitas latihan di wilayah timur Indonesia. Menurutnya, atlet di Papua harus mengeluarkan biaya besar hanya untuk mendapatkan perlengkapan latihan yang sebagian besar dikirim dari Pulau Jawa.

 

“Kalau di sini perlengkapannya lengkap dan dekat. Kalau di sana harus pesan dari Jawa dan biaya kirimnya besar sekali. Matras saja bisa sekitar Rp 250 ribu per pieces, belum ongkos kargo yang bisa sampai belasan juta,” katanya.

 

Tak hanya itu, biaya perjalanan menuju Surakarta juga menjadi tantangan tersendiri bagi atlet dari Indonesia Timur.

 

“Tiket pesawat kami sekitar Rp4 juta per orang,” tambahnya.

 

Meski menghadapi banyak keterbatasan, Nur Rahman menegaskan bahwa atlet-atlet dari Indonesia Timur tetap memiliki kekuatan dalam hal mental dan fisik.

 

“Mungkin kalau teknik kita masih tertinggal dibanding di Jawa. Tapi kalau fisik sama mental, insyaallah kita bisa menang,” tuturnya.

 

Ia berharap keikutsertaannya dalam The 1st Muhammadiyah Games mampu menjadi motivasi bagi atlet-atlet muda dari daerah untuk terus berkembang dan percaya diri membawa nama daerah serta kampus mereka di tingkat nasional.

 

“Motivasi terbesar saya ingin juara di sini untuk membanggakan kampus dan teman-teman saya di sana,” pungkasnya. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!