KUALA LUMPUR, MENARA62.COM — Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Malaysia menggelar pengajian spesial bertajuk “Falsafah Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail” di Rumah HAMKA Malaysia, Selasa malam (26/5/2026). Kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi spiritual sekaligus penguatan peran Muhammadiyah bagi diaspora Indonesia di Negeri Jiran.
Pengajian menghadirkan Rektor Universitas Muhammadiyah Riau sekaligus Vice Chancellor Universiti Muhammadiyah Malaysia, Saidul Amin, sebagai pembicara utama. Hadir pula Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur, R. Ahmad Romadhoni Surya Putra, jajaran PCIM dan PCIA Malaysia, serta warga Muhammadiyah dan diaspora Indonesia.
Dalam pemaparannya, Saidul Amin mengulas makna ibadah kurban melalui konsep “Trilogi Peradaban”. Menurutnya, kisah Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Siti Hajar bukan sekadar sejarah keagamaan, tetapi model peradaban yang relevan sepanjang masa.
“Ibrahim adalah simbol pemimpin berintegritas, yang ucapan dan tindakannya selaras serta rela berkorban demi umat. Ismail melambangkan generasi cerdas dan taat di jalan Allah. Sedangkan Siti Hajar adalah sosok perempuan tangguh, penyangga peradaban dan tiang negara,” ujarnya.
Ia menegaskan, lahirnya generasi unggul sangat dipengaruhi kualitas pendidikan keluarga dan keteladanan orang tua. Karena itu, pendidikan karakter harus dimulai dari rumah.
“Jika ingin memiliki generasi seperti Ismail, maka orang tua harus menjadi seperti Ibrahim dan Siti Hajar. Karakter anak adalah cerminan dari didikan orang tuanya,” tegasnya.
Dalam ceramahnya, Saidul Amin juga menyoroti konsep halim yang dinilai kerap luput dipahami masyarakat. Ia menjelaskan, Nabi Ibrahim memohon anak yang saleh, namun Al-Qur’an justru memberikan kabar tentang anak yang halim atau penyabar.
“Soleh itu ibarat nasi, sebuah hasil akhir atau produk jadi. Sedangkan halim itu ibarat padi, sebuah benih atau proses. Allah memberikan Nabi Ismail sifat halim sebagai bahan baku utama, karena tanpa kesabaran dalam berproses seseorang tidak akan pernah mencapai derajat kesalehan yang sejati,” katanya.
Menurut Saidul Amin, kesalehan tidak lahir secara instan, melainkan melalui ujian dan proses panjang yang ditempa dengan kesabaran.
“Kesalehan itu tidak lahir tiba-tiba. Ada proses panjang, ada ujian, ada latihan kesabaran. Itulah yang sering dilupakan orang,” imbuhnya.
Ia juga mengulas kedalaman spiritual Nabi Ibrahim ketika menerima perintah Allah melalui mimpi atau ar-ru’ya. Menurutnya, kesediaan Nabi Ibrahim menjalankan perintah tersebut menunjukkan tingkat keyakinan iman yang sangat tinggi.
“Melaksanakan perintah melalui mimpi membutuhkan hakulyakin, kepastian iman yang luar biasa. Nabi Ibrahim adalah pribadi yang sangat peka secara spiritual, mampu membedakan mana mandat langit dan mana sekadar bisikan biasa,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Malaysia, Fauzi Fatkhur, memaparkan perkembangan organisasi, termasuk hadirnya Rumah HAMKA sebagai sekretariat resmi PCIM Malaysia berkat dukungan Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Ia juga menyoroti peran Universiti Muhammadiyah Malaysia dalam memperluas kaderisasi hingga ke Perlis serta pengembangan PT Suryamu di bidang renovasi, travel, dan pendidikan.
“Ke depan, fokus utama kami adalah pembentukan task force pendirian Sekolah Muhammadiyah di Malaysia sebagai bagian dari ikhtiar dakwah dan pendidikan berkelanjutan,” jelas Fauzi.
Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Kuala Lumpur, R. Ahmad Romadhoni Surya Putra, turut mengapresiasi kontribusi Muhammadiyah dalam penguatan pendidikan karakter masyarakat Indonesia di Malaysia.
Menurutnya, sinergi pemerintah dan organisasi masyarakat menjadi kekuatan penting dalam membangun generasi Indonesia yang unggul dan berakhlak.
Acara diawali dengan salat Magrib berjamaah dan lantunan takbiran, kemudian ditutup dengan salat Isya berjamaah serta ajakan berpartisipasi dalam program kurban tahunan PCIM Malaysia. (Ulin/Soleh)
