YOGYAKARTA, MENARA62.COM – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengajak umat Islam menjadikan Tahun Baru Hijriah 1 Muharram 1448 sebagai momentum memperkuat kemandirian di berbagai bidang kehidupan. Menurutnya, makna hijrah tidak berhenti pada perayaan seremonial, tetapi harus diwujudkan melalui perubahan nyata menuju kondisi umat yang lebih maju.
Haedar menyampaikan bahwa spirit hijrah yang dicontohkan Rasulullah SAW merupakan proses transformasi dari keterbelakangan menuju kemajuan yang membawa kemaslahatan luas. Karena itu, hijrah perlu dimaknai sebagai upaya membangun kekuatan umat agar mampu menghadapi tantangan zaman.
“Hijrah mengandung makna perubahan dari keadaan umat Islam yang tertinggal menuju kemajuan yang lebih baik dan berdampak luas. Di situlah makna kemandirian sebagai bagian dari spirit hijrah dan kandungan ajaran Islam,” ujar Haedar, Senin (15/6).
Menurutnya, kemandirian menjadi hal penting agar umat Islam mampu memberikan manfaat lebih besar kepada masyarakat. Ia menjelaskan, umat perlu memiliki kemampuan, sumber daya, dan daya saing agar tidak selalu bergantung kepada pihak lain.
Haedar menilai tantangan yang masih dihadapi umat Islam Indonesia adalah lemahnya kemandirian, terutama dalam bidang ekonomi dan politik kebangsaan. Padahal, umat Islam sebagai bagian besar dari masyarakat memiliki potensi besar untuk membangun kekuatan kolektif yang berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
“Kemandirian, otonomi, independensi, dan istilah lain yang sejenis merupakan kesanggupan untuk berdiri sendiri dengan keberanian dan tanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan,” jelasnya.
Ia menegaskan, pembangunan kemandirian harus berjalan seiring dengan penguatan iman, ibadah, dan akhlak. Keberagamaan yang kuat, menurutnya, perlu melahirkan kesalehan transformatif yang menghadirkan kejujuran, keadilan, kedamaian, serta kemaslahatan sosial.
Lebih lanjut, Haedar mengajak umat Islam untuk aktif mengembangkan sektor ekonomi, bisnis, dan kewirausahaan. Selain memperkuat usaha mikro, kecil, dan menengah, umat juga perlu berani mengembangkan sektor strategis seperti industri, perkebunan, pertambangan, hingga teknologi informasi secara profesional dan amanah.
“Umat Islam mesti berbisnis yang halalan thayyiban dengan profesionalitas tinggi. Bisnis mikro, kecil, dan menengah harus diberdayakan secara masif. Sektor strategis juga perlu digarap umat Islam secara amanah dan profesional,” tegasnya.
Haedar juga mengingatkan bahwa organisasi keagamaan memiliki peran lebih luas, bukan hanya dalam penguatan ibadah dan keimanan, tetapi juga dalam membangun kehidupan sosial, ekonomi, dan kebudayaan.
Mengutip pemikiran Jalaluddin Rumi, Haedar menekankan pentingnya keterlibatan umat yang saleh dalam kehidupan publik. “Jika orang-orang saleh pasif di dunia, jangan salahkan manakala orang-orang zalim berkuasa,” ungkapnya.
Di akhir pernyataannya, Haedar berharap Tahun Baru Hijriah 1448 menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperkuat kemandirian sekaligus memperluas kolaborasi. Kemandirian, menurutnya, bukan berarti menutup diri, melainkan tetap membangun kerja sama demi kemaslahatan bersama.
“Melalui momentum hijrah, umat Islam semakin menemukan kekuatan kemandirian menuju kualitas sebagai khaira ummah atau umat terbaik,” pungkas Haedar. (*)

