JAKARTA, MENARA62.COM – Muhammadiyah mendorong adanya pembenahan menyeluruh dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Langkah ini dilakukan agar program strategis nasional tersebut tetap berjalan sesuai tujuan, yakni meningkatkan kualitas gizi masyarakat dan mencetak generasi Indonesia yang sehat serta berdaya saing.
Melalui Badan Pelayan dan Pemenuhan Gizi Muhammadiyah (BPPGM), Muhammadiyah menegaskan komitmennya untuk menjadi mitra strategis dalam pelaksanaan MBG secara amanah, profesional, transparan, dan akuntabel.
Program MBG dipandang sebagai bagian dari upaya penting dalam membangun sumber daya manusia Indonesia. Pemenuhan gizi yang baik dinilai menjadi fondasi lahirnya generasi yang sehat, kuat, cerdas, dan produktif.
Direktur BPPGM Muhammadiyah, M. Nurul Yamin, mengatakan Muhammadiyah tidak memandang MBG hanya sebagai program penyediaan makanan, tetapi sebagai investasi jangka panjang bagi pembangunan bangsa.
“Program makan bergizi merupakan salah satu ikhtiar penting dalam menyiapkan generasi penerus bangsa yang sehat, cerdas, dan memiliki daya saing tinggi. Gizi yang baik bukan sekadar kebutuhan dasar, tetapi merupakan prasyarat mutlak terwujudnya generasi yang kuat, produktif, dan mampu membawa Indonesia menuju kemajuan,” ujar Yamin, Rabu (17/6).
Menurutnya, berbagai kritik dan dinamika yang muncul terkait pelaksanaan MBG harus menjadi momentum untuk memperkuat sistem pengelolaan program.
Muhammadiyah mendorong penguatan tata kelola, peningkatan profesionalisme sumber daya manusia, serta pengawasan yang dilakukan secara berkelanjutan agar manfaat program dapat dirasakan masyarakat secara maksimal.
Dengan jaringan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang luas di bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial, Muhammadiyah memiliki pengalaman serta kapasitas untuk mendukung pelaksanaan program strategis tersebut.
Partisipasi Muhammadiyah dalam MBG juga menjadi bagian dari penguatan nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan yang menempatkan pelayanan sosial, pemberdayaan masyarakat, dan kemaslahatan umat sebagai bagian penting dari gerakan dakwah.
Yamin menjelaskan, terdapat tiga pilar utama yang harus menjadi standar dalam pengelolaan MBG Muhammadiyah. Pertama, keamanan pangan yang memastikan makanan halal, tayib, dan aman dikonsumsi.
Kedua, tata kelola yang amanah dan profesional. Ketiga, pembangunan ekosistem yang berkelanjutan agar program tidak hanya berjalan dalam jangka pendek, tetapi memberikan dampak luas bagi masyarakat.
“Keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari kualitas sistem yang dibangun,” tegasnya.
Karena itu, penguatan kapasitas pengelola, pengawasan berkala, serta transparansi menjadi bagian penting dalam memastikan keberlanjutan program.
Muhammadiyah berharap MBG dapat menjadi sarana menghadirkan manfaat luas bagi masyarakat sekaligus memperkuat pembangunan generasi Indonesia yang unggul di masa depan. (*)

