KARANGANYAR, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menyelenggarakan kegiatan Baitul Arqam Dosen UMS pada Kamis-Sabtu, 18-20 Juni 2026 di SD Muhammadiyah Baitul Falah Bancak, Mojogedang, Karanganyar. Kegiatan kaderisasi ini mengangkat tema “Penguatan Ideologi Persyarikatan untuk Mendukung Transformasi Progresif Berkelanjutan”.
Kegiatan Baitul Arqam ini diikuti sebanyak 45 peserta yang terdiri dari 25 dosen putra dan 20 dosen putri. Para peserta mendapatkan pembinaan ideologi, pemahaman Muhammadiyah, serta pengalaman langsung berinteraksi dengan warga persyarikatan di tingkat cabang dan ranting.
Ketua Lembaga Pengembangan Persyarikatan, Pengkaderan dan Alumni (LP3A) UMS, Dr. Bambang Sukoco, S.H., M.H., menyampaikan bahwa pelaksanaan Baitul Arqam periode kepemimpinan Rektor UMS Prof. Harun Joko Prayitno, M.Hum., memiliki konsep yang berbeda dibandingkan sebelumnya. Kegiatan tidak dilaksanakan di hotel, melainkan ditempatkan langsung di lingkungan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
“Baitul Arqam kali ini kita tempatkan di AUM yang sedang berkembang agar peserta bisa merasakan dan menjiwai bagaimana menjadi warga persyarikatan,” ujar Bambang Sukoco saat memberikan sambutan pada pembukaan Baitul Arqam, Kamis (18/6/2026).
Menurutnya, konsep tersebut bertujuan agar para dosen UMS dapat memahami bahwa perjalanan besar UMS tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui proses panjang perjuangan warga Muhammadiyah dalam membangun amal usaha.
Ia mencontohkan, pada masa awal berdirinya UMS, jumlah tenaga pengajar dan karyawan masih sangat terbatas. Namun melalui semangat pengabdian dan keberkahan perjuangan, UMS mampu berkembang menjadi salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah yang besar.
“UMS yang besar hari ini tidak tiba-tiba. Ada proses panjang yang dilakukan oleh para pendahulu. Nilai perjuangan itu yang perlu kita rasakan dan tanamkan,” ungkapnya.
Bambang menegaskan bahwa bekerja di lingkungan Muhammadiyah bukan hanya berkaitan dengan aspek profesionalitas, tetapi juga menjadi bagian dari ibadah dan pengabdian untuk kemajuan umat.
“Berhikmat di amal usaha itu satu tarikan napas. Selain ikhtiar ekonomi, ada nilai ibadah sebagaimana tujuan Muhammadiyah untuk menghantarkan masyarakat menuju kebaikan,” jelasnya.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, Pengkaderan, dan Alumni UMS, Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag., mengatakan Baitul Arqam menjadi instrumen penting dalam menyatukan pemahaman dan gerak seluruh warga kampus.
Ia menjelaskan, organisasi membutuhkan kesamaan nilai dan pemahaman agar dapat berjalan bersama. Karena itu, penguatan ideologi persyarikatan menjadi landasan penting dalam mendukung transformasi progresif UMS.
“Transformasi progresif membutuhkan aspek nilai dan ideologi yang dipahami seluruh warga kampus sebagai pijakan untuk bergerak bersama,” katanya. (*)
