JAKARTA, MENARA62.COM — Keberhasilan organisasi nirlaba dalam menghimpun dana sosial tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengajak masyarakat berdonasi, tetapi juga bagaimana lembaga membangun kepercayaan publik secara berkelanjutan.
Hal tersebut menjadi pembahasan utama dalam kuliah umum bertema “Community and International Relation: Manajemen Strategi Penggalangan Dana Pada Organisasi Nirlaba” yang menghadirkan Faozan Amar, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (UHAMKA), di Universitas Nasional (UNAS), Jakarta, Kamis (18/6/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Program Studi Bahasa Korea Fakultas Bahasa dan Sastra UNAS bersama Pusat Studi Kajian Korea Selatan serta didukung Euroasia Foundation tersebut diikuti mahasiswa sebagai upaya memperluas wawasan mengenai strategi organisasi modern dan tantangan dunia kerja.
Ketua Program Studi Bahasa Korea Fakultas Bahasa dan Sastra UNAS, Rurani Adinda, mengatakan kehadiran dosen tamu dari luar kampus menjadi strategi untuk memperkaya perspektif mahasiswa.
“Kuliah umum dengan menghadirkan dosen tamu dari luar bertujuan meningkatkan wawasan mahasiswa terkait isu-isu aktual dan strategis dalam menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompleks,” ujarnya.
Dalam paparannya, Faozan Amar menegaskan bahwa penggalangan dana sosial bukan sekadar aktivitas menghimpun dana, melainkan proses membangun hubungan dan kepercayaan masyarakat.
“Penggalangan dana sosial bukan sekadar mengumpulkan dana, tetapi membangun kepercayaan masyarakat. Ketika kepercayaan tumbuh, dukungan publik akan datang dengan sendirinya,” jelas Faozan yang juga Wakil Ketua Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PP Muhammadiyah.
Faozan yang pernah berkunjung ke Korea Selatan pada 2024 menjelaskan terdapat lima strategi utama yang menjadi kunci keberhasilan fundraising organisasi nirlaba.
Pertama, kapabilitas organisasi. Menurutnya, lembaga harus memiliki sumber daya manusia berkualitas, manajemen profesional, serta sistem kerja yang efektif. Organisasi yang dikelola dengan baik akan lebih mudah memperoleh kepercayaan masyarakat.
Kedua, religiusitas. Nilai keagamaan, keikhlasan, dan kepercayaan umat menjadi modal sosial penting dalam mendorong partisipasi masyarakat untuk mendukung kegiatan sosial.
Ketiga, digital fundraising. Di era teknologi, organisasi nirlaba dituntut mampu memanfaatkan platform digital, baik melalui aplikasi, website, maupun kolaborasi dengan berbagai layanan pembayaran dan donasi digital.
Keempat, reputasi lembaga. Faozan menyebut reputasi merupakan aset yang dibangun melalui konsistensi, transparansi, serta akuntabilitas. Semakin baik reputasi sebuah lembaga, semakin kuat pula kepercayaan publik.
Kelima, dukungan tokoh publik. Kehadiran tokoh agama maupun figur publik yang memiliki pengaruh luas dinilai mampu memperkuat kampanye sosial dan meningkatkan keterlibatan masyarakat.
Kuliah umum berlangsung interaktif melalui sesi diskusi dan tanya jawab. Mahasiswa mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya strategi penggalangan dana, pembangunan jejaring komunitas, serta hubungan internasional dalam perkembangan organisasi masa kini.
Faozan yang merupakan Doktor Ilmu Manajemen itu menilai masa depan organisasi nirlaba akan sangat bergantung pada kemampuan lembaga beradaptasi dengan teknologi, menjaga kepercayaan masyarakat, dan membangun kolaborasi yang luas.
“Di situlah letak kunci keberhasilan penghimpunan dana sosial yang berkelanjutan,” pungkasnya. (*)

