31 C
Jakarta

Ponpes Raudlatul Muhibbin Uji Santri Qira’at Sab’ah

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga warisan keilmuan Islam melalui penyelenggaraan Ujian Qira’at Sab’ah bagi para santri. Ujian yang digelar pada Rabu (1/7/2026) itu menggunakan Kitab Faidhul Barokat fi Sabi’il Qira’at karya KH Arwani Kudus sebagai rujukan utama dalam proses evaluasi.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari sistem pembelajaran pesantren untuk memastikan santri tidak hanya mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, tetapi juga menguasai ilmu Qira’at Sab’ah yang kini semakin jarang dipelajari secara mendalam.

Para peserta merupakan santri yang telah menyelesaikan tahapan pembelajaran Qira’at Sab’ah. Mereka diuji kemampuan memahami tujuh qira’at mutawatirah, menguasai kaidah ushul dan farasy, menjelaskan perbedaan riwayat para imam qira’at, hingga mempraktikkan bacaan sesuai sanad keilmuan yang diterima dari para guru.

Suasana ujian berlangsung khidmat sejak selepas Magrib hingga menjelang tengah malam. Santri membaca ayat demi ayat sesuai qira’at yang ditentukan, kemudian menjawab berbagai pertanyaan dari dewan penguji terkait teori, kaidah, wajah-wajah bacaan, hingga dasar ilmiah setiap perbedaan qira’at.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta, Dr. KH. Ahmad Muhammad Mustain Nasoha, mengatakan ilmu Qira’at Sab’ah merupakan salah satu mahkota keilmuan Al-Qur’an yang memiliki kedudukan tinggi dalam tradisi Islam. Karena itu, pesantren berkomitmen menjaga transmisi ilmu tersebut melalui talaqqi, musyafahah, dan sanad yang bersambung.

“Ilmu Qira’at Sab’ah merupakan disiplin ilmu yang membahas tata cara pengucapan lafaz Al-Qur’an sebagaimana dinukil secara mutawatir dari Rasulullah ﷺ melalui para imam qira’at. Perbedaan qira’at bukanlah bentuk pertentangan, melainkan bagian dari keragaman bacaan yang seluruhnya bersumber dari wahyu,” ujarnya.

Ia menegaskan, santri tidak cukup hanya mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga harus memahami ushul qira’at, wajah-wajah bacaan, serta dasar periwayatan setiap qira’at agar mata rantai keilmuan tetap terjaga dan dapat diwariskan secara otoritatif kepada generasi berikutnya.

Ketua Yayasan Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah, Ust. Wassim Ahmad Fahruddin, mengapresiasi kesungguhan para asatidz dan santri dalam mengikuti proses pendidikan hingga memasuki tahap ujian.

Menurutnya, yayasan akan terus mendukung pengembangan program berbasis turats atau kitab klasik, khususnya ilmu-ilmu Al-Qur’an yang membutuhkan proses belajar panjang, kedisiplinan tinggi, dan bimbingan guru yang memiliki sanad keilmuan jelas.

“Keberhasilan sebuah pesantren tidak hanya diukur dari banyaknya santri, tetapi juga dari kualitas ilmu, akhlak, serta keberhasilan menjaga warisan intelektual Islam agar tetap hidup sepanjang zaman,” katanya.

Sementara itu, Ketua Pondok, Ust. Muhammad Hadziq Mahfuh, menegaskan ujian tersebut bukan sekadar agenda akademik tahunan, melainkan instrumen untuk memastikan setiap santri benar-benar memiliki kompetensi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Ia menjelaskan, standar kelulusan tidak hanya menilai kemampuan menghafal materi, tetapi juga ketelitian membaca, penguasaan teori, pemahaman kaidah, adab membaca Al-Qur’an, hingga kesiapan menjadi penerus dakwah Al-Qur’an di tengah masyarakat.

“Pesantren tidak ingin meluluskan santri yang hanya mengetahui teori. Yang kami harapkan adalah lahirnya generasi yang mampu menjaga kemurnian bacaan Al-Qur’an, mengajarkannya kepada masyarakat, serta menjadi penjaga sanad keilmuan Islam,” tegasnya.

Pengajar Qira’at Sab’ah, Gus Assegaf Nasoha, menjelaskan seluruh materi ujian mengacu pada Kitab Faidhul Barokat yang selama ini menjadi pegangan utama pembelajaran di pesantren.

Materi yang diujikan meliputi penguasaan ushul qira’at, praktik bacaan para imam qira’at, ketepatan makharijul huruf, sifat-sifat huruf, hingga kemampuan menjelaskan alasan ilmiah dari setiap perbedaan bacaan.

Menurutnya, pembelajaran ilmu qira’at membutuhkan proses panjang, kesabaran, serta ketelitian sehingga ujian menjadi momentum penting untuk mengukur kesiapan santri menjadi pengajar Al-Qur’an yang memiliki kapasitas ilmiah.

Melalui penyelenggaraan Ujian Qira’at Sab’ah ini, Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta berharap terus melahirkan generasi Qur’ani yang memiliki kompetensi keilmuan, integritas moral, adab yang luhur, dan sanad keilmuan yang kuat.

Pesantren juga berkomitmen mengembangkan jenjang pembelajaran Al-Qur’an secara berkelanjutan. Setelah menguasai Qira’at Sab’ah, para santri diarahkan untuk melanjutkan pendalaman Qira’at ‘Asyarah sebagai bagian dari pelestarian khazanah ilmu qira’at yang lebih luas.

Komitmen tersebut diperkuat dengan keteladanan pengasuh pesantren, Dr. KH. Ahmad Muhammad Mustain Nasoha, yang setiap Ramadan rutin menjadi imam salat tarawih menggunakan bacaan Qira’at ‘Asyarah sebagai sarana edukasi bagi santri dan masyarakat mengenai kekayaan ragam bacaan Al-Qur’an yang bersanad.

Di tengah semakin terbatasnya lembaga yang mengajarkan ilmu qira’at secara mendalam, Pondok Pesantren Raudlatul Muhibbin Al Mustainiyyah Surakarta terus memosisikan diri sebagai salah satu pusat pengembangan ilmu-ilmu Al-Qur’an, sekaligus menjaga kesinambungan sanad dan warisan intelektual Islam bagi generasi mendatang. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!