JAKARTA, MENARA62.COM – Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Sadaqah Muhammadiyah (Lazismu) memperingati Milad ke-24 dengan mengusung tema “Integrasi Menguatkan Dampak”. Tema tersebut menjadi penegasan komitmen Lazismu untuk memperkuat tata kelola, menyatukan sistem kelembagaan, serta membangun ekosistem ZISKA (Zakat, Infaq, Sedekah, dan Dana Sosial Keagamaan Lainnya) yang terintegrasi, berdampak, dan berkelanjutan.
Sejak berdiri pada 4 Juli 2002, Lazismu terus mengembangkan perannya sebagai lembaga filantropi Islam yang berfokus pada pemberdayaan umat. Memasuki usia 24 tahun, Lazismu menargetkan penguatan sinergi antarlembaga sebagai strategi memperluas manfaat bagi masyarakat.
Ketua Badan Pengurus Lazismu Pusat, Ahmad Imam Mujaddid Rais, mengatakan integrasi bukan sekadar penyatuan sistem organisasi, tetapi merupakan implementasi nilai-nilai Islam yang menekankan pentingnya persatuan dalam menjalankan amanah umat.
“Integrasi adalah sunnatullah. Terinspirasi dari tauhid yang menjadi pondasi kesatuan ketuhanan, kesatuan penciptaan, dan kesatuan kemanusiaan. Integrasi menautkan setiap hierarki kelembagaan Lazismu di bawah satu kesatuan sistem,” ujarnya, Selasa (7/7/2026).
Menurut pria yang akrab disapa Pak Rais itu, tata kelola yang terintegrasi akan memperkuat koordinasi seluruh jaringan Lazismu, mulai dari tingkat pusat, wilayah, hingga daerah.
Ia menjelaskan, konsep integrasi yang diterapkan mengusung prinsip Satu Sistem, Satu Gerak, Satu Tujuan, sehingga seluruh proses penghimpunan, pengelolaan, pendistribusian, hingga pelaporan dana ZISKA berjalan dalam satu arah kebijakan nasional.
“Integrasi data dan teknologi akan mempercepat pengambilan keputusan, memudahkan pelaporan, serta meningkatkan akuntabilitas dan kepercayaan publik. Muaranya adalah menguatkan dampak pemberdayaan umat, mendorong transformasi mustahik menjadi muzakki, serta memperluas pembelaan terhadap kaum mustadh’afin,” tegasnya.
Selain memperkuat sinergi internal, Lazismu juga terus membangun kolaborasi dengan berbagai mitra strategis, baik di lingkungan Muhammadiyah maupun lembaga eksternal seperti Kementerian Agama, Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), serta berbagai organisasi nonpemerintah (NGO).
Sementara itu, Direktur Utama Lazismu, Barry Adhitya, menyampaikan bahwa arah pengembangan tersebut merupakan implementasi dari Rencana Strategis (Renstra) Lazismu 2025–2030.
“Sesuai amanat RENSTRA Lazismu 2025–2030, kami bertekad menghadirkan ekosistem ZISKA yang terintegrasi, berdampak, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Barry menuturkan, memasuki usia tiga windu, Lazismu memfokuskan pengembangan lembaga pada tiga aspek utama, yakni penguatan tata kelola organisasi, penyusunan program pemberdayaan yang memberikan dampak nyata dan berkelanjutan, serta peningkatan profesionalisme amil.
Menurutnya, pemanfaatan teknologi menjadi salah satu kunci dalam membangun sistem pengelolaan zakat modern yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat.
“Integrasi pikiran, perencanaan, dan tindakan Lazismu seluruh Indonesia berbasis teknologi akan semakin menguatkan dampak ZISKA bagi masyarakat dan mampu menghadirkan layanan terbaik,” katanya.
Peringatan Milad ke-24 menjadi momentum refleksi sekaligus penguatan komitmen Lazismu untuk terus menghadirkan inovasi dalam pengelolaan zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya.
Melalui semangat “Integrasi Menguatkan Dampak”, Lazismu berharap dapat memperluas manfaat bagi umat, memperkuat kepercayaan publik, serta berkontribusi dalam mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat, baik di tingkat nasional maupun internasional. (*)


