32.1 C
Jakarta

Kemendikdasmen Luncurkan Gerakan PSPB, Satukan Mitra Majukan Pendidikan

Baca Juga:

JAKARTA, MENARA62.COM – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengaktivasi Gerakan Partisipasi Semesta Pendidikan Bermutu (PSPB) sebagai wadah kolaborasi nasional yang menyatukan pemerintah, dunia usaha, dunia industri, filantropi, organisasi masyarakat, perguruan tinggi, media, komunitas, organisasi internasional, hingga individu untuk bersama-sama meningkatkan mutu pendidikan Indonesia.

 

Peluncuran gerakan tersebut menjadi langkah strategis untuk menjawab tantangan berbagai bentuk bantuan dan kolaborasi di bidang pendidikan yang selama ini masih berjalan secara terpisah sehingga belum sepenuhnya selaras dengan kebutuhan satuan pendidikan.

 

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa semangat PSPB lahir dari nilai gotong royong yang menjadi karakter bangsa Indonesia. Menurutnya, setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam memajukan pendidikan, tidak hanya melalui bantuan materi, tetapi juga gagasan, waktu, dan keahlian.

 

«”It is not about how much we give others, tidak soal seberapa banyak yang kita berikan, tetapi how meaningful, seberapa besar makna yang bisa kita berikan dari pemberian kita kepada orang lain. Karena itu kami membuka pintu lewat Rumah Pendidikan kepada siapa pun untuk berpartisipasi,” ujar Abdul Mu’ti di Jakarta, Senin (6/7/2026).»

 

Mu’ti mengungkapkan, Presiden Prabowo Subianto telah memberikan izin kepada Kemendikdasmen untuk membangun kemitraan lintas sektor dalam mendukung pelaksanaan Asta Cita melalui partisipasi masyarakat yang dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

 

Menurutnya, partisipasi semesta menjadi instrumen penting untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan pendidikan, memperluas jangkauan layanan, sekaligus meningkatkan kualitas program yang dijalankan pemerintah.

 

Ia menilai tantangan pendidikan Indonesia masih sangat kompleks, mulai dari pengembangan bakat dan minat peserta didik, peningkatan kompetensi guru, penguatan pendidikan karakter, hingga penyediaan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.

 

“Kami terus membuka diri untuk bermitra dengan berbagai pihak karena dengan cara kemitraan itulah kami bisa melakukan pemenuhan kebutuhan, percepatan, peningkatan, dan perluasan,” katanya.

 

Lebih lanjut, Mu’ti menegaskan bahwa pembangunan pendidikan tidak cukup hanya berfokus pada pembangunan fisik sekolah.

 

“Yang kita bangun adalah mindset. Yang kita bangun adalah manusia. Karena itu diperlukan sentuhan dari berbagai macam pihak,” tegasnya.

 

Ia pun mengajak seluruh elemen bangsa menghidupkan kembali semangat gotong royong dalam memajukan pendidikan nasional.

 

“DNA bangsa Indonesia adalah gotong royong. Mari kita wujudkan bersama-sama pendidikan bermutu untuk semua secara merata, membangun generasi Indonesia yang hebat dan berkualitas,” ujarnya.

 

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, menjelaskan bahwa PSPB dibangun sebagai solusi atas pola kemitraan pendidikan yang selama ini masih terfragmentasi.

 

Menurutnya, kontribusi berbagai pihak terhadap dunia pendidikan sebenarnya sudah sangat besar, namun belum terintegrasi sehingga belum selalu bertemu dengan kebutuhan prioritas nasional.

 

Ia mengungkapkan, Indonesia saat ini memiliki lebih dari 447 ribu satuan pendidikan yang melayani lebih dari 53 juta peserta didik. Namun demikian, masih terdapat sekitar 2,92 juta anak yang belum bersekolah, sementara capaian literasi dan numerasi juga masih menjadi pekerjaan rumah bersama.

 

“Kebutuhan pendidikan sangat besar dan tidak bisa dikerjakan oleh Kemendikdasmen sendiri. Pendidikan di Indonesia sejak dahulu adalah kerja gotong royong,” ujar Suharti.

 

Melalui PSPB, Kemendikdasmen menyediakan Ruang Mitra dalam Superaplikasi Rumah Pendidikan yang dapat diakses melalui pspb.pendidikan.go.id. Platform tersebut dirancang untuk mempertemukan kebutuhan satuan pendidikan dengan calon mitra melalui sistem berbasis data, mulai dari identifikasi kebutuhan, pencocokan bentuk dukungan, koordinasi pelaksanaan, pemantauan, hingga pelaporan.

 

Fokus kolaborasi meliputi digitalisasi pembelajaran, rehabilitasi sarana dan prasarana pendidikan, penyediaan beasiswa, peningkatan kompetensi guru, penguatan pendidikan karakter, hingga penanganan anak tidak bersekolah.

 

Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, turut mengapresiasi inisiatif Kemendikdasmen yang dinilai mampu membangun ekosistem kolaborasi pendidikan yang berkelanjutan.

 

“Yang akan diciptakan bukan sekadar program, tetapi ekosistem partisipasinya. Solusi bersama dan ruang-ruang partisipasi yang dibukakan bukan hanya kepada guru, kepala sekolah, satuan pendidikan, dan pemerintah daerah, tetapi juga kepada mitra-mitra pembangunan. Pendekatan inilah yang kami yakini akan memperkuat kualitas kebijakan kita,” ujarnya.

 

Peluncuran Gerakan PSPB dihadiri oleh 58 mitra pembangunan pendidikan yang berasal dari unsur dunia usaha dan industri, lembaga filantropi, organisasi masyarakat, perguruan tinggi, media, komunitas, organisasi internasional, serta berbagai lembaga lainnya.

 

Melalui gerakan ini, Kemendikdasmen berharap tercipta ekosistem kolaborasi yang lebih terarah, terukur, dan berkelanjutan sehingga seluruh potensi masyarakat dapat bersinergi dalam mewujudkan pendidikan bermutu bagi seluruh anak Indonesia. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!