34.6 C
Jakarta

UMS Tekankan Revitalisasi Program Studi Hadapi Tantangan Zaman

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menegaskan bahwa revitalisasi program studi menjadi langkah strategis untuk menjawab perubahan kebutuhan masyarakat dan perkembangan dunia kerja, tanpa mengabaikan fungsi utama perguruan tinggi sebagai pusat pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

 

Pandangan tersebut disampaikan Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMS, Prof. Dr. Anam Sutopo, S.Pd., M.Hum., saat mengulas pentingnya menjaga relevansi program studi di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan lahirnya berbagai profesi baru.

 

Menurut Anam, dinamika program studi sejatinya telah berlangsung sejak lama. Perguruan tinggi selalu melakukan penyesuaian terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan masyarakat. Namun, belakangan perhatian pemerintah semakin besar terhadap keterkaitan antara lulusan perguruan tinggi dengan kebutuhan dunia kerja.

 

“Sesungguhnya yang namanya program studi itu sudah dinamis sejak dulu. Pembukaan program studi baru selalu menyertai perkembangan kehidupan akademik,” ujarnya, Selasa (7/7/2026).

 

Ia menjelaskan, anggapan bahwa suatu program studi tidak lagi relevan umumnya muncul akibat ketidakseimbangan antara jumlah lulusan dan kebutuhan tenaga kerja. Padahal, menurutnya, perguruan tinggi tidak semata-mata bertugas mencetak tenaga kerja.

 

“Kita kembali ke fungsi perguruan tinggi. Fungsinya bukan saja menjadi penyedia tenaga kerja, tetapi juga menjalankan tridharma, yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat,” tegasnya.

 

Anam menilai inovasi merupakan karakter utama perguruan tinggi. Kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, serta munculnya profesi-profesi baru akan melahirkan bidang keilmuan interdisipliner maupun multidisipliner yang berpotensi melahirkan program studi baru.

 

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pembaruan kurikulum tetap menjadi prioritas utama dibanding sekadar membuka program studi baru. Menurutnya, kurikulum harus terus disesuaikan agar lulusan memiliki kompetensi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

 

“Selagi program studi masih mampu menjawab kebutuhan masyarakat, maka yang paling penting adalah merevitalisasi kurikulumnya. Kurikulum harus mampu menjawab tuntutan zaman,” katanya.

 

Selain pembaruan kurikulum, Anam menekankan pentingnya riset berkelanjutan sebagai fondasi pengembangan pembelajaran. Hasil penelitian, menurutnya, harus terus diintegrasikan ke dalam materi perkuliahan agar mahasiswa memperoleh pengetahuan yang sesuai dengan perkembangan terbaru.

 

“Update materi dan update konten harus selalu dilakukan. Bahkan setiap semester seharusnya ada pembaruan materi pembelajaran,” ungkapnya.

 

Terkait maraknya pembukaan program studi baru di berbagai perguruan tinggi, Anam menilai langkah tersebut merupakan respons terhadap perubahan kebutuhan masyarakat dan perkembangan teknologi, bukan sekadar mengikuti tren.

 

Namun, ia mengingatkan bahwa pembukaan program studi baru harus didukung sumber daya manusia yang kompeten, fasilitas yang memadai, serta dukungan pendanaan yang kuat.

 

“Kalau tidak punya SDM yang ahli, tetapi membuka program studi baru, nanti hanya bungkusnya saja yang baru, tetapi isinya tetap sama,” ujarnya.

 

Anam juga mengimbau calon mahasiswa agar lebih cermat dalam memilih program studi. Menurutnya, keputusan tidak seharusnya didasarkan pada nama program studi semata, melainkan pada kompetensi yang akan diperoleh dan prospek pengembangan diri setelah lulus.

 

“Jangan melihat namanya saja. Cek profil alumninya, lihat kompetensi yang akan diperoleh. Kalau itu sesuai dengan cita-cita, silakan ambil program studi tersebut,” pesannya.

 

Dari perspektif Perguruan Tinggi Muhammadiyah, Anam menegaskan bahwa inovasi akademik harus berjalan beriringan dengan penguatan karakter. Di UMS, nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) menjadi pembeda yang membentuk lulusan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas moral.

 

“Di Muhammadiyah ada kompetensi dan moralitas. Moralitas itu dibangun melalui AIK. Inilah yang menjadi pembeda pendidikan tinggi Muhammadiyah,” pungkasnya.

 

Melalui revitalisasi program studi dan pembaruan kurikulum yang berkelanjutan, UMS berkomitmen menghasilkan lulusan yang adaptif terhadap perkembangan zaman, memiliki kompetensi sesuai kebutuhan masyarakat, sekaligus berkarakter kuat sebagai insan akademik yang berintegritas. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!