BANDUNG, MENARA62.COM – Lembaga Sensor Film (LSF) Republik Indonesia menggandeng Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung untuk memperkuat literasi perfilman melalui program LSF Goes to Campus. Program ini bertujuan membangun budaya sensor mandiri di kalangan generasi muda agar lebih bijak dalam memilih tontonan di tengah derasnya arus konten digital.
Kegiatan bertajuk “Literasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri: Memajukan Budaya Menonton Sesuai Usia” tersebut berlangsung di Auditorium KH Ahmad Dahlan UM Bandung, Kamis (9/7/2026). Program ini merupakan implementasi kerja sama LSF dengan sekitar 60 perguruan tinggi di Indonesia.
Ketua Komisi III LSF RI, Kuat Prihatin, mengatakan perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya memilih tontonan sesuai usia. Menurutnya, mahasiswa dapat menjadi agen literasi yang menyebarkan pemahaman tersebut kepada keluarga dan lingkungan sekitarnya.
“Kampus kami harapkan menjadi pusat edukasi literasi perfilman. Mahasiswa bisa menjadi penyambung pesan kepada keluarga, teman, dan lingkungan tentang pentingnya memilih tontonan yang tepat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tantangan literasi saat ini tidak hanya berasal dari film, tetapi juga dari melimpahnya konten di media sosial. Meski pengawasan media sosial bukan menjadi kewenangan LSF, masyarakat perlu memiliki kemampuan menyaring informasi dan hiburan secara mandiri.
“Yang ingin kami bangun adalah kesadaran agar masyarakat semakin cerdas, dewasa, dan mampu memilih konten yang sesuai dengan usia serta nilai-nilai yang baik,” tambahnya.
Sementara itu, Rektor UM Bandung, Herry Suhardiyanto, menilai literasi sensor mandiri menjadi semakin penting seiring berkembangnya industri perfilman dan media digital. Menurutnya, film bukan sekadar hiburan, tetapi juga cerminan budaya yang mampu memengaruhi pola pikir dan karakter masyarakat.
Ia mengajak mahasiswa tidak hanya menjadi penikmat film, tetapi juga berkontribusi sebagai kreator yang menghasilkan karya berkualitas dengan mengangkat nilai-nilai moderasi, kebinekaan, persatuan, dan budaya Indonesia.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UM Bandung, Rahmat Alamsyah, menyampaikan bahwa kolaborasi dengan LSF sejalan dengan penguatan kompetensi mahasiswa di bidang sinematografi dan film dakwah.
Menurutnya, mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman teknis produksi film, tetapi juga dibekali wawasan mengenai regulasi, etika, dan budaya sensor yang penting dalam industri kreatif.
“Film tidak hanya menjadi hiburan. Selama mampu mengajak kepada nilai-nilai kebaikan, kepedulian, dan kemanusiaan, film juga dapat menjadi media dakwah,” katanya.
Rahmat juga mengingatkan mahasiswa agar memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) secara bertanggung jawab. AI, menurutnya, dapat menjadi alat pendukung proses kreatif, namun orisinalitas, etika, dan tanggung jawab tetap harus menjadi fondasi utama dalam menghasilkan karya.
Melalui program LSF Goes to Campus, LSF RI dan UM Bandung berharap budaya sensor mandiri semakin mengakar di kalangan mahasiswa sehingga lahir generasi yang kritis, cerdas, dan bertanggung jawab dalam mengonsumsi maupun memproduksi konten digital. (FA)

