28.6 C
Jakarta

Pendidikan Matematika UMS Integrasikan AI dalam Kurikulum

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id terus mempersiapkan kurikulum yang adaptif untuk menjawab tantangan pendidikan masa depan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Focus Group Discussion (FGD) Kurikulum yang digelar di Hotel Mercure Surakarta, Selasa (7/7/2026).

 

Forum tersebut menjadi ajang evaluasi sekaligus penyusunan arah pengembangan kurikulum yang lebih relevan dengan kebutuhan dunia pendidikan, perkembangan teknologi, dan tuntutan dunia kerja. FGD melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pakar pendidikan, dosen, tenaga kependidikan, praktisi, pengguna lulusan, alumni, hingga mahasiswa.

 

Kepala Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UMS, Rita Pramujiyanti Khotimah, M.Sc., Ph.D., mengatakan penyusunan kurikulum harus dilakukan secara kolaboratif dengan mempertimbangkan berbagai perspektif agar mampu menjawab dinamika pendidikan yang terus berubah.

 

“Perubahan yang terjadi di dunia pendidikan berlangsung sangat cepat. Karena itu, kurikulum harus terus diperbarui agar mampu menjawab tantangan dan kebutuhan masyarakat serta perkembangan teknologi,” ujarnya, Senin (13/7/2026).

 

Menurut Rita, revitalisasi kurikulum menjadi langkah strategis untuk memastikan lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan perkembangan zaman sekaligus siap menghadapi perubahan di dunia pendidikan.

 

Hadir sebagai narasumber utama, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret (UNS) sekaligus Ketua Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Ikatan Masyarakat Edukasi Sains (IMES), Dr. Imam Sujadi, M.Si., menekankan bahwa kurikulum masa depan tidak cukup hanya berorientasi pada capaian akademik.

 

Ia menjelaskan, pengembangan kurikulum perlu memberikan ruang yang lebih luas bagi mahasiswa untuk mengembangkan kompetensi sesuai minat melalui skema major dan minor.

 

“Rencana Pembelajaran Semester (RPS) ke depan perlu lebih fleksibel sehingga mahasiswa dapat mengembangkan kompetensinya sesuai dengan kebutuhan dan minat masing-masing,” katanya.

 

Salah satu isu yang menjadi perhatian dalam FGD adalah penguatan integrasi teknologi, khususnya kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI), dalam proses pembelajaran.

 

Perwakilan alumni, Ike, menilai mahasiswa pendidikan matematika perlu dibekali kemampuan memanfaatkan AI sebagai inovasi pembelajaran, bukan sekadar menguasai metode mengajar konvensional.

 

“Kita tidak lagi hanya berbicara tentang mengajar, tetapi bagaimana mahasiswa mampu membuat asisten pembelajaran berbasis AI. Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) harus menjadi ruang inovasi, bukan sekadar praktik mengajar konvensional,” ujarnya.

 

Meski demikian, menurutnya, kehadiran AI tidak menggantikan peran dosen. Dosen tetap memiliki fungsi penting sebagai fasilitator dalam membangun literasi AI yang etis, kemampuan riset, serta memastikan pemanfaatan teknologi tetap selaras dengan visi program studi.

 

Selain penguatan literasi digital, forum juga membahas pentingnya membangun jiwa kewirausahaan mahasiswa. Alumni angkatan 2012, Indah, mengusulkan agar materi entrepreneurship lebih banyak diberikan melalui pengalaman praktik sehingga mampu membentuk mentalitas bisnis lulusan.

 

Sementara itu, perwakilan mahasiswa angkatan 2024, Jabbar, mengusulkan penyederhanaan Sistem Informasi Program Studi (SIMPRO) guna meningkatkan transparansi layanan akademik dan mempercepat proses penyelesaian studi.

 

Seluruh masukan yang dihimpun dalam FGD akan menjadi dasar penyusunan kurikulum baru Program Studi Pendidikan Matematika FKIP UMS. Melalui langkah tersebut, UMS menegaskan komitmennya menghadirkan pendidikan yang adaptif, inovatif, dan responsif terhadap perkembangan teknologi serta kebutuhan masyarakat di masa depan. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!