32.8 C
Jakarta

Gerakan Ayah Mengantar Anak Perlu Jadi Budaya Pengasuhan

Baca Juga:

BANDUNG, MENARA62.COM – Gerakan Ayah Mengantar Anak di hari pertama sekolah seharusnya tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan. Dosen Program Studi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, Rizka Saputri, menilai gerakan tersebut perlu menjadi momentum membangun budaya pengasuhan yang menempatkan ayah sebagai sosok yang hadir secara utuh dalam proses tumbuh kembang anak.

 

Menurut Rizka, kehadiran ayah pada hari pertama sekolah memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar mengantar anak ke gerbang sekolah. Momen itu menjadi simbol keterlibatan ayah dalam pendidikan sejak usia dini sekaligus memperkuat ikatan emosional antara orang tua dan anak.

 

“Gerakan ini penting karena bisa menjadi salah satu upaya meminimalisasi fenomena fatherless di Indonesia. Kehadiran ayah pada hari pertama sekolah bukan sekadar mengantar, tetapi menunjukkan bahwa ayah juga memiliki peran dalam pendidikan anak,” ujarnya di sela kegiatan akademik di Kampus UM Bandung, Senin (13/7/2026).

 

Rizka mengungkapkan, isu keterlibatan ayah dalam pengasuhan masih menjadi tantangan di Indonesia. Berdasarkan data UNICEF tahun 2021, Indonesia termasuk negara dengan tingkat fenomena fatherless yang tinggi, sehingga diperlukan upaya untuk meningkatkan peran ayah dalam kehidupan anak.

 

Ia menjelaskan, berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa minimnya keterlibatan ayah dapat memengaruhi perkembangan psikologis anak. Dampaknya antara lain menurunnya rasa percaya diri, berkurangnya rasa aman, hingga kesulitan membangun kemampuan sosial.

 

Menurutnya, hari pertama sekolah merupakan masa transisi yang membutuhkan dukungan emosional dari kedua orang tua. Kehadiran ayah dinilai dapat membantu anak lebih percaya diri ketika memasuki lingkungan baru, bertemu guru, dan berinteraksi dengan teman-teman yang belum dikenalnya.

 

“Anak kita sedang memasuki lingkungan yang baru. Kehadiran ayah akan membantu menumbuhkan rasa percaya diri dan rasa aman sehingga anak lebih siap beradaptasi dengan lingkungan sekolah,” katanya.

 

Rizka menekankan bahwa gerakan ayah mengantar anak akan memberikan dampak yang lebih besar apabila diikuti perubahan pola pikir dalam pengasuhan. Menurutnya, peran ayah tidak cukup diwujudkan hanya melalui kehadiran pada hari pertama sekolah.

 

Ia menilai keterlibatan ayah seharusnya dimulai sejak masa kehamilan, seperti mendampingi pemeriksaan kehamilan, mendukung kebutuhan ibu, hingga hadir saat proses persalinan. Setelah anak lahir, peran tersebut berlanjut melalui keterlibatan aktif dalam pengasuhan, berbagi tanggung jawab dengan ibu, serta mendampingi perjalanan pendidikan anak.

 

“Bukan hanya mengantar di hari pertama sekolah. Ayah juga perlu mengetahui siapa guru anak, mengikuti perkembangan belajarnya, hadir saat pembagian rapor, dan bersama-sama mengevaluasi tumbuh kembang anak,” jelasnya.

 

Menurut Rizka, ayah dan ibu memiliki peran yang saling melengkapi dalam keluarga. Karena itu, pengasuhan ideal memerlukan kolaborasi yang konsisten sehingga anak memperoleh dukungan yang utuh dalam setiap tahap perkembangannya.

 

Ia berharap Gerakan Ayah Mengantar Anak menjadi titik awal tumbuhnya kesadaran bahwa pendidikan anak bermula dari keluarga. Semakin aktif keterlibatan ayah sejak usia dini, semakin besar peluang anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, memiliki kemampuan sosial yang baik, serta siap menghadapi berbagai tantangan di masa depan. (FA)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!