SOLO, MENARA62.COM – Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) ums.ac.id menegaskan komitmennya memperkuat kolaborasi nasional sekaligus mendorong lahirnya inovasi di bidang kesehatan melalui Seminar Nasional Gebyar Mahasiswa Farmasi 2026 bertema Empowering Health: From Pharmaceutical Innovation to Public Awareness. Kegiatan yang digelar Selasa (14/7/2026) di Ruang Seminar Lantai 8 Gedung Ahmad Syafii Maarif Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMS itu menjadi ajang mempertemukan akademisi, organisasi profesi, dan mahasiswa farmasi dari berbagai daerah di Indonesia.
Seminar diikuti sekitar 200 peserta dari berbagai perguruan tinggi farmasi dan menjadi bagian dari rangkaian Musyawarah Nasional (Munas) Ikatan Senat Mahasiswa Farmasi Seluruh Indonesia (ISMAFARSI).
Rektor UMS, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., menegaskan bahwa mahasiswa farmasi memiliki posisi strategis dalam menjawab tantangan sektor kesehatan yang terus berkembang. Menurutnya, inovasi tidak boleh berhenti pada penelitian, tetapi harus mampu dihilirisasikan hingga memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
“Menuju revenue generating, ada tiga kata kunci yang harus diperhatikan, yaitu inovasi, hilirisasi, dan market. Ketika inovasi berhasil dihilirisasikan dan masuk ke pasar, maka akan menghasilkan dampak ekonomi sekaligus manfaat bagi masyarakat,” ujar Harun.
Ia juga mengungkapkan perkembangan pendidikan farmasi di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) yang terus bertumbuh. Salah satunya melalui pembukaan Program Studi Farmasi di Universitas Muhammadiyah Palangkaraya serta pengembangan institusi kesehatan Muhammadiyah di Medan.
Menurut Harun, perluasan ekosistem pendidikan tersebut menjadi peluang besar bagi mahasiswa untuk membangun kolaborasi dan menghasilkan inovasi yang mendukung ketahanan kesehatan nasional.
Selain itu, ia mengajak seluruh peserta memanfaatkan forum nasional tersebut sebagai ruang memperluas jejaring sekaligus memperkuat kontribusi mahasiswa dalam pengembangan ilmu kefarmasian.
Kolaborasi Hadapi Tantangan Kesehatan
Sekretaris Jenderal ISMAFARSI, Raihana Ghibtha Putri, mengatakan perkembangan teknologi, digitalisasi, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) membuka peluang besar bagi dunia farmasi. Namun, menurutnya, inovasi hanya akan bernilai apabila mampu meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan kehidupan masyarakat.
“Dunia kesehatan berkembang sangat pesat. Karena itu dibutuhkan sinergi antara akademisi, tenaga kesehatan, pemerintah, industri, organisasi profesi, hingga mahasiswa untuk menciptakan solusi yang relevan dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Ia menilai Seminar Nasional Gebyar Mahasiswa Farmasi menjadi wadah strategis bagi mahasiswa dari seluruh Indonesia untuk bertukar gagasan, memperluas jejaring, dan membangun kolaborasi menghadapi tantangan kesehatan masa depan.
Integritas Jadi Kunci Profesi Apoteker
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (PP IAI), apt. Noffendi Roestam, S.Si., menekankan bahwa integritas merupakan fondasi utama dalam menjalankan profesi apoteker.
“Integritas adalah sesuatu yang sangat mahal. Dalam praktik kefarmasian, integritas harus menjadi prioritas utama karena berkaitan langsung dengan keselamatan pasien,” tegasnya.
Senada dengan itu, Ketua Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI), Prof. Dr. apt. Yandi Syukri, M.Si., menyampaikan bahwa Indonesia memiliki banyak sumber daya manusia dan potensi inovasi. Namun, tantangan ke depan adalah melahirkan lebih banyak pemimpin yang berintegritas dan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Ia berharap ISMAFARSI terus menjadi ruang pembinaan calon pemimpin nasional di bidang farmasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, memiliki karakter kuat, serta berorientasi pada kemanfaatan publik.
Melalui Seminar Nasional Gebyar Mahasiswa Farmasi 2026, UMS menegaskan perannya sebagai perguruan tinggi yang aktif membangun kolaborasi lintas kampus dan organisasi profesi. Forum ini diharapkan menjadi katalis lahirnya inovasi farmasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan memperkuat sistem kesehatan Indonesia. (*)

