32.6 C
Jakarta

Kisah Ustadz Sedekah Sampah Peraih Kalpataru, Menebar Berkah dari Pengelolaan Sampah di Rumah Ibadah

Baca Juga:

BANTUL, MENARA62.COM — Pada medio Juni 2026 lalu, Ananto Isworo menjadi salah satu penerima penghargaan Kalpataru. Ini atas keberhasilannya menggerakkan warga dalam pengelolaan sampah secara mandiri. Menariknya, pengelolaan sampah dipusatkan di tempat ibadah dengan konsep sedekah.

Gerakan tersebut bermula di Masjid Al Muharram, Kampung Brajan, Tamantirto, Kasihan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Saat Ananto pertama kali menjadi warga kampung itu pada 2010, Brajan menghadapi masalah.

sampah belum dikelola dengan baik bahkan menjadi sumber penyakit, terutama demam berdarah dengue (DBD). Kampung Brajan bahkan pernah menjadi penyumbang tertinggi kasus DBD sekecamatan.

Pengurus kampung pun mencari cara mengatasi masalah itu. Ananto, yang saat itu dipercaya sebagai Ketua Takmir Masjid Al Muharram, punya usul: masjid turut mengelola sampah. Tak sekadar usul, ia pun turun tangan melaksanakan gagasannya itu.

“Yang usul biasanya juga harus mikul (melakukan), maka sejak itu saya juga kumpulkan sendiri sampah-sampah anorganik. Saya pun umumkan ke warga, siapa yang punya sampah di rumah bisa disedekahkan ke masjid,” kata Ananto saat ditemui di Brajan, Rabu (16/7/2026).

Jemaah dan warga sekitar masjid rupanya mengikuti “dakwah” Ananto itu. “Ternyata kalau yang berbicara itu pemuka agama efektif, warga mau menyedekahkan sampah,” ujar Staf Personalia Kantor Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Yogyakarta ini.

Pengumuman itu bertepatan dengan 1 Ramadan tahun 2013. Di momen bulan suci itu, umat Islam percaya amal baik akan berlipat pahalanya. Ananto pun mengonsep pengumpulan sampah itu bukan sekadar membuang, tapi mengelola dan memilah sampah sekaligus menjadikannya aktivitas sedekah.

Konsep sedekah sampah ini berbeda dengan bank sampah yang berkembang sebelumnya. Pada bank sampah pengumpulan barang sisa yang masih punya nilai ekonomi, terutama sampah anorganik, dijual dan hasilnya kembali ke si pemilik.

Sementara sedekah sampah menyerahkan sampah ke masjid dan hasilnya dikelola pihak masjid untuk membantu warga yang membutuhkan. Karena namanya sedekah, sifatnya juga sukarela. Alhasil, tak memaksa warga dan tak mengganggu pengepul sampah lain.

“Dengan hasil dari sedekah sampah itu, kami bisa membantu anak-anak yang nyaris putus sekolah, orang sakit, dan fakir miskin,” katanya.

Dengan konsep sedekah sampah pula, Ananto memperluas makna sedekah yang tak hanya bersumber dari uang. Suatu kali, ia pernah didatangi seorang nenek yang kekurangan. Nenek itu bertanya apakah bisa ikut bersedekah padahal ia tak punya uang.

“Mbah punya wajan atau sendok yang rusak? Dibawa ke masjid saja, mbah. Disedekahkan,” kata Ananto, menirukan ucapan pada si nenek. “Artinya, lewat sampah, orang miskin juga bisa bersedekah.”

Tak berhenti dengan sedekah sampah, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY ini juga mengenalkan konsep eco-masjid.

Masjid menjadi sentra pengelolaan lingkungan dan transisi energi. Salah satu wujudnya adalah pemasangan solar panel di Masjid Al Muharram yang terbukti menekan penggunaan listrik dan biayanya.

Tak serta merta semua warga bergerak. Namun dengan konsistensi, langkah Ananto menuai hasil. Sejak itu, Kampung Brajan berubah. Wajah kampung tak hanya menjadi lebih cerah karena bersih, tapi juga lebih berkah dengan teratasinya sejumlah masalah sosial berkat sedekah sampah.

Ananto pun menyebarluaskan gagasannya itu ke berbagai pihak, terutama ke pemerintah daerah hingga Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Dari situ, konsep sedekah sampah ala Ananto sang ustadz sampah menyebar ke lebih dari 500 titik di Kabupaten Bantul, 210 masjid dan 50 rumah ibadah agama lain, juga di ratusan komunitas dan lembaga.

Dalam hitungan KLH, sepanjang 2019-2025, sedekah sampah menghasilkan hampir 3000 ton sampah senilai nyaris Rp14 miliar.

“Dari konsep eco-teologi yang telah tercantum di ayat Al Quran dan Hadis Nabi, kami membangun kesadaran masyarakat bahwa sampah memiliki nilai filantropi dan kemanusiaan bahwa melakukan kebaikan an bersedekah bisa dari hal sekecil apapun, termasuk sampah,” paparnya.

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!