BALI, MENARA62.COM – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan dosen Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung di kancah internasional. Ketua Program Studi Kriya Tekstil dan Fashion (KTF) UM Bandung, Ken Atik, terpilih menjadi salah satu seniman yang tampil dalam Pameran Prakriti–Pustaka–Padma 2026, ajang seni internasional bergengsi yang digelar di Museum ARMA (Anak Agung Rai Museum of Art), Ubud, Bali.
Keikutsertaan Ken bukan melalui undangan langsung, melainkan setelah lolos proses kuratorial yang diselenggarakan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Seleksi tersebut mengantarkannya menjadi salah satu seniman tekstil yang mewakili Indonesia bersama puluhan perupa dari berbagai negara.
“Saya mendapat undangan dari ISI Bali untuk mengikuti Pameran Prakriti melalui proses kuratorial. Alhamdulillah karya saya lolos dan dapat menjadi bagian dari pameran internasional tersebut sebagai artist textile,” ujar Ken.
Dalam pameran tersebut, Ken menampilkan karya tekstil berukuran 110 x 225 sentimeter yang menggabungkan berbagai teknik eksplorasi permukaan, seperti batik, lukis, art foiling, dan ikat celup menggunakan pewarna sintetis di atas kain sutra.
Karya tersebut menjadi representasi kreativitas seni tekstil Indonesia sekaligus menunjukkan perkembangan inovasi di bidang kriya dan fashion yang dikembangkan di lingkungan akademik UM Bandung.
Bawa Nama UM Bandung ke Panggung Dunia
Meski tidak dapat hadir langsung di Bali, Ken menilai partisipasi dalam pameran internasional tersebut memiliki makna yang jauh lebih besar. Baginya, karya yang dipamerkan tidak hanya mewakili dirinya sebagai seniman, tetapi juga membawa nama Program Studi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung ke panggung seni dunia.
“Ini menjadi kebanggaan bagi UM Bandung, khususnya Prodi Kriya Tekstil dan Fashion. Dosen-dosen kami terus mendapatkan kepercayaan untuk mengikuti berbagai pameran internasional. Semoga ini menjadi motivasi bagi mahasiswa untuk terus berkarya dan membangun karakter profesional sebagai perupa ataupun desainer,” katanya.
Menurut Ken, keterlibatan dosen dalam forum seni internasional merupakan implementasi nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam pengembangan karya ilmiah dan pengabdian melalui seni.
Pengalaman berinteraksi dengan seniman dari berbagai negara, lanjutnya, akan memperkaya wawasan akademik sekaligus menjadi bekal untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual dan berstandar global bagi mahasiswa.
Ajang Seniman dari Delapan Negara
Pameran Prakriti–Pustaka–Padma 2026 digagas oleh ISI Denpasar dengan Ketua Panitia I Wayan Suardana. Mengusung tema besar tentang alam, pengetahuan, dan proses kreatif, pameran ini menghadirkan dialog seni lintas budaya melalui beragam medium karya.
Prakriti dimaknai sebagai alam yang menjadi sumber inspirasi penciptaan, Pustaka melambangkan warisan pengetahuan lintas generasi, sedangkan Padma atau bunga teratai menjadi simbol lahirnya karya seni melalui proses kreatif yang terus bertumbuh.
Pameran dibuka oleh Rektor ISI Bali, Kun Adnyana, pada 5 Juli 2026 sebagai bagian dari peringatan 30 tahun Museum ARMA. Acara pembukaan juga dihadiri pendiri Museum ARMA, Anak Agung Rai, bersama para kurator Jean Couteau, Warih Wisatsana, dan Seriyoga Parta.
Sebanyak 50 seniman dari delapan negara turut berpartisipasi dalam pameran tersebut, yakni Amerika Serikat, Belanda, Jerman, Swiss, India, Kenya, Iran, dan Indonesia.
Beragam karya dipamerkan, mulai dari patung, keramik, batik, wastra, hingga seni tekstil dan seni kontemporer yang mencerminkan kekayaan budaya serta kolaborasi lintas negara.
Pameran Prakriti–Pustaka–Padma 2026 berlangsung hingga 18 Juli 2026 dan menjadi salah satu ajang bergengsi yang mempertemukan seniman, akademisi, serta pecinta seni dari berbagai belahan dunia. (*)

