JAKARTA, MENARA62.COM – Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah bersama Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memperkuat kolaborasi dalam pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) melalui Bimbingan Teknis dan Sosialisasi Penanganan Kedaruratan Pengelolaan B3 dan/atau Limbah B3, Kamis (16/7/2026), di Kantor PP ‘Aisyiyah, Jakarta.
Kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan penyerahan bantuan sarana pengelolaan sampah dari KLH berupa empat unit kendaraan angkut Viar, lima unit komposter, dan lima unit tempat sampah terpilah. Bantuan ini diharapkan mampu memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat di lingkungan ‘Aisyiyah.
Acara dihadiri Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Fraksi PAN Putri Zulkifli Hasan, Direktur Penanganan Sampah KLH Melda Mardalina, Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Kota Administrasi Jakarta Selatan Rizky Febriyanto, Koordinator Kelompok Kerja TPA, Sanitary Landfill, dan Reduksi Emisi Gas Rumah Kaca KLH Andina Novita, serta jajaran pimpinan PP ‘Aisyiyah, LLHPB PWA Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, PDA se-Jabodetabek, dan PCA Sawangan.
Ketua PP ‘Aisyiyah, Prof. Masyitoh Chusnan, menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari dakwah dan gerakan kemanusiaan yang selama ini dijalankan organisasi.
Menurutnya, melalui Lembaga Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (LLHPB), ‘Aisyiyah telah mengembangkan berbagai program pelestarian lingkungan, mulai dari penanaman pohon, pengurangan sampah, hingga peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana dan perubahan iklim.
“Kami memandang kolaborasi dengan pemerintah merupakan bagian dari ikhtiar bersama untuk mencapai tujuan yang sama, yaitu menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat. Karena itu, kami menyambut baik sinergi dengan Kementerian Lingkungan Hidup agar gerakan pelestarian lingkungan dapat menjangkau lebih banyak komunitas dan memberikan manfaat yang berkelanjutan,” ujar Masyitoh.
Direktur Penanganan Sampah KLH, Melda Mardalina, mengungkapkan bahwa Jakarta menghasilkan sekitar 9.000 ton sampah setiap hari, dengan sebagian besar masih berakhir di TPST Bantargebang tanpa melalui proses pemilahan.
Ia menekankan bahwa persoalan sampah hanya dapat diatasi apabila masyarakat membiasakan memilah sampah sejak dari rumah.
“Lebih dari separuh timbulan sampah berasal dari sisa makanan dan sampah dapur. Karena itu, pemilahan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah menjadi langkah paling mendasar untuk mengurangi beban tempat pemrosesan akhir. Sampah yang dipilah dengan baik tidak hanya mengurangi pencemaran, tetapi juga memiliki nilai ekonomi melalui bank sampah dan mitra pengelola,” jelas Melda.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Kota Administrasi Jakarta Selatan, Rizky Febriyanto, menilai tantangan pengelolaan sampah di perkotaan semakin kompleks sehingga membutuhkan sinergi antara pemerintah, organisasi masyarakat, dan warga.
Hal senada disampaikan Andina Novita, yang mengajak masyarakat membangun kebiasaan bijak dalam mengonsumsi barang dengan mempertimbangkan manfaat dan pengelolaannya setelah digunakan sebagai langkah sederhana mengurangi timbulan sampah.
Di sisi lain, Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Fraksi PAN, Putri Zulkifli Hasan, mengingatkan bahwa limbah B3 tidak hanya berasal dari industri, tetapi juga dihasilkan dari aktivitas rumah tangga. Karena itu, edukasi mengenai pemilahan sampah perlu dimulai dari lingkungan keluarga.
“Saya berharap ‘Aisyiyah dapat menjadi pelopor gerakan sedekah sampah. Mari kita mulai dari rumah, mengajak keluarga, tetangga, dan lingkungan sekitar untuk memilah sampah. Selain menjaga lingkungan, langkah sederhana ini juga dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjadi amal kebaikan,” ujarnya.
Bantuan kendaraan angkut, komposter, dan tempat sampah terpilah yang diserahkan KLH diharapkan dapat memperkuat praktik pemilahan sampah dari sumber, meningkatkan pengolahan sampah organik, serta mendukung pengembangan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat di lingkungan ‘Aisyiyah.
Melalui kolaborasi ini, PP ‘Aisyiyah dan Kementerian Lingkungan Hidup menegaskan komitmen bersama untuk membangun budaya pengelolaan lingkungan yang bertanggung jawab. Sinergi tersebut diharapkan mampu memperluas gerakan pelestarian lingkungan, mengurangi timbulan sampah, serta mewujudkan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan bagi masyarakat. (*)
