BANDUNG, MENARA62.COM – Sebelas film pendek karya mahasiswa Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung sukses memikat perhatian publik dalam ajang Cinematology 3.0 yang digelar di Bandung Creative Hub, Rabu (15/7/2026). Kegiatan ini menjadi panggung apresiasi bagi mahasiswa untuk menampilkan karya sinematik yang lahir dari proses pembelajaran sekaligus mengangkat pesan dakwah, edukasi, dan kepedulian sosial.
Saat lampu ruangan dipadamkan dan layar mulai menyala, penonton diajak menyelami beragam kisah yang menghadirkan tawa, haru, ketegangan, hingga refleksi mendalam. Sebanyak 11 film ditayangkan, yakni Sink, Sunyi, Hasad, Empty Within, Rasiah, Besok Jadi Apa, Hening yang Kita Pilih, Framed Memories, Impian Tukang Bubur, Salah Tempat, dan Somnabulisme.
Berbagai tema yang diangkat mencerminkan persoalan psikologis, hubungan antarmanusia, hingga isu sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Antusiasme mahasiswa, orang tua, tamu undangan, dan masyarakat umum yang memenuhi ruang pemutaran menunjukkan karya mahasiswa tidak lagi dipandang sebagai tugas akademik semata, tetapi telah berkembang menjadi karya seni yang mampu membangun dialog dengan publik.
Ketua Program Studi KPI UM Bandung, Rahmat Alamsyah, mengatakan film merupakan media yang mampu memadukan berbagai unsur kreativitas, mulai dari sastra, visual, audio, hingga seni bertutur.
“Film bukan sekadar sarana hiburan, melainkan bisa menjadi jalan menyebarkan nilai-nilai kebaikan Islam. Selain itu, melalui film juga kita bisa berdakwah,” ujarnya.
Rahmat menilai penguatan bidang perfilman menjadi salah satu identitas khas Prodi KPI UM Bandung. Untuk mendukung hal tersebut, pihaknya akan memperkuat kurikulum dengan menambah mata kuliah yang berfokus pada produksi film.
Menurutnya, mahasiswa tidak hanya dibekali teori komunikasi, tetapi juga keterampilan mengembangkan ide, menulis skenario, menyutradarai, menguasai sinematografi, hingga mendistribusikan karya kepada publik.
“Dengan cara demikian, saya berharap mahasiswa Prodi KPI UM Bandung bisa mendapatkan pengetahuan, pengalaman, dan sekaligus kemampuan lebih banyak dalam memproduksi film yang berkualitas,” katanya.
Rahmat menegaskan, Cinematology bukan sekadar ajang belajar teknik pengambilan gambar atau penyuntingan video, melainkan laboratorium kreatif untuk membangun narasi yang bermakna serta menghadirkan nilai-nilai Islam melalui bahasa visual.
Ia berharap lulusan KPI UM Bandung mampu berkembang sebagai content creator, filmmaker, storyteller, sekaligus dai digital yang profesional, kreatif, inovatif, dan tetap berlandaskan nilai-nilai keislaman.
Sementara itu, dosen pengampu mata kuliah Sinematografi dan Produksi Film Dakwah, Kelik Nursetiyo Widianto, menjelaskan proses pembelajaran dirancang menyerupai praktik industri kreatif. Mahasiswa tidak hanya memproduksi film, tetapi juga belajar menyusun strategi promosi melalui poster, media sosial, hingga mengelola pemutaran film secara mandiri.
Menurutnya, seluruh film mahasiswa juga akan didaftarkan untuk memperoleh Piagam Lulus Sensor dari Lembaga Sensor Film (LSF) Republik Indonesia serta perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Tahun sebelumnya, sebanyak 12 film mahasiswa KPI UM Bandung berhasil memperoleh sertifikat lulus sensor.
Di antara sebelas film yang diputar, Sunyi menjadi salah satu karya yang paling menyita perhatian penonton. Film garapan sutradara muda Anadza Bilqis tersebut mengisahkan perjalanan seorang mahasiswa tunarungu yang menempuh pendidikan di bidang komunikasi.
Cerita itu terinspirasi dari pengalaman mahasiswa KPI angkatan 2023, Ziyan Shafi Nur Fadhilah, yang kemudian diolah menjadi kisah tentang empati, kesetaraan, dan keberanian mengejar mimpi.
“Melalui film ini kami ingin menyampaikan bahwa komunikasi bukan hanya tentang mendengar dan berbicara, tetapi tentang empati, penerimaan, dan saling memahami. Harapannya, penonton dapat melihat bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkarya, dan meraih impiannya,” ujar Bilqis.
Ia mengungkapkan proses produksi Sunyi diawali dengan riset mendalam, penulisan naskah, pengolahan visual, hingga pemilihan pemeran yang mampu menggunakan bahasa isyarat agar cerita terasa autentik dan menyentuh emosi penonton.
Bilqis berharap film-film mahasiswa KPI UM Bandung terus berkembang dan tidak hanya diputar di lingkungan kampus, tetapi juga mampu bersaing di berbagai festival perfilman sebagai media dakwah, edukasi, dan penyebaran nilai-nilai kemanusiaan kepada masyarakat luas. (*)

