SOLO, MENARA62.COM – Semangat belajar sepanjang hayat terpancar dari para peserta Wisuda dan Penyerahan Sertifikat Elderly School of ‘Aisyiyah (ESA) Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kota Surakarta yang digelar di Gedung Dakwah ‘Aisyiyah Kota Surakarta, Sabtu (18/7/2026). Salah satu wisudawati, Mamik Wahid Ismanto (74), mengaku memperoleh banyak manfaat selama mengikuti pendidikan di sekolah lansia tersebut.
Ditemui usai acara, Mamik menceritakan pengalaman belajar selama menempuh pendidikan dari kelas I hingga kelas III. Menurutnya, ESA tidak hanya memberikan pengetahuan agama, tetapi juga membangun kesehatan mental, keterampilan, hingga rasa percaya diri para lansia.
“Alhamdulillah, sejak kelas satu hingga kelas tiga kami mendapatkan pembelajaran yang luar biasa. Yang utama tentang keagamaan, kemudian psikologi yang menguatkan hati kami. Selain itu ada olahraga, kesenian, keterampilan, semuanya sangat bermanfaat,” ujarnya.
Wisuda ESA kali ini dihadiri jajaran Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah Kota Surakarta, pengelola ESA, pimpinan Muhammadiyah, serta perwakilan rumah sakit Muhammadiyah, di antaranya Direktur RS PKU Muhammadiyah Sampangan dan tamu undangan lainnya.
Menurut Mamik, para pengajar yang berasal dari kalangan profesor, doktor, hingga praktisi berpengalaman menjadi salah satu kekuatan utama program Elderly School of ‘Aisyiyah.
Ia mengaku meski mayoritas peserta telah berusia di atas 60 tahun, semangat untuk belajar tidak pernah surut.
“Kebanyakan kami sudah kepala enam ke atas, tetapi masih bisa mengikuti pembelajaran. Walaupun kadang sore sudah lupa, kami terus mengulang agar apa yang dipelajari bisa kami pahami,” tuturnya sambil tersenyum.
Selain materi keagamaan dan kesehatan, kegiatan seni juga menjadi bagian yang paling berkesan bagi para peserta. Mamik berharap kelompok musik angklung yang telah dibentuk ESA terus dikembangkan sebagai identitas sekaligus wadah berkarya bagi para lansia.
“Kami berharap kelompok angklung ESA bisa terus dikembangkan dan menjadi salah satu kegiatan unggulan agar ESA semakin berkembang dan dikenal masyarakat,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh dosen, pengelola, dan para donatur yang telah mendukung penyelenggaraan Elderly School of ‘Aisyiyah. Menurutnya, perhatian yang diberikan membuat para lansia merasa dihargai dan tetap memiliki ruang untuk terus berkembang.
Mamik berharap ESA dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi lansia lain untuk bergabung sehingga semakin banyak orang tua yang merasakan manfaat program tersebut.
“Kami mendoakan para dosen dan pengelola ESA selalu diberi kesehatan agar terus melanjutkan program ini. Semoga siswa baru semakin bertambah dan ESA semakin maju,” ungkapnya.
Elderly School of ‘Aisyiyah merupakan program pendidikan lansia yang dikembangkan PDA Kota Surakarta untuk mewujudkan lansia yang sehat, bahagia, mandiri, dan produktif. Selama satu tahun pembelajaran, peserta mendapatkan materi keagamaan, kesehatan, psikologi, olahraga, seni, serta keterampilan yang dibimbing para akademisi dan praktisi dari berbagai perguruan tinggi maupun rumah sakit Muhammadiyah.
Kisah Mamik menjadi bukti bahwa usia bukanlah penghalang untuk terus belajar. Di usia 74 tahun 7 bulan, ia bersama rekan-rekannya menunjukkan bahwa semangat menuntut ilmu dapat terus menyala demi menjalani masa lanjut usia yang sehat, aktif, dan bermakna. (*)

