SOLO, MENARA62.COMo2 – Majelis Ekonomi, Bisnis, dan Pariwisata (MEBP) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surakarta bersama Komisi Ekonomi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Surakarta kembali menggelar Pelatihan Hidroponik Skala Dasar Sesi 2 di MA Muallimin Surakarta/Pondok Pesantren Tanwirul Fikr, Ahad (26/7/2026).
Pelatihan yang diikuti lebih dari 30 peserta dari berbagai latar belakang masyarakat ini bertujuan meningkatkan wawasan dan keterampilan budidaya sayuran hidroponik sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga.
Pembukaan kegiatan dihadiri perwakilan Komisi Ekonomi MUI Surakarta, Zaki Setiawan, serta dibuka oleh perwakilan PDM Kota Surakarta, Sumanto, M.Kes., yang juga menjabat Ketua Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Pembinaan Masjid (LPCR PM) PDM Kota Surakarta.
Pelatihan dilaksanakan dalam dua sesi, yakni penyampaian materi di dalam ruangan dan praktik lapangan agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkan teknik hidroponik secara langsung.
Dalam sambutannya, Sumanto mengatakan pelatihan tersebut merupakan bentuk kolaborasi antara MEBP PDM Surakarta, LPCR PM PDM Surakarta, Komisi Ekonomi MUI Surakarta, dan komunitas hidroponik untuk menghadirkan solusi kreatif dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
Menurutnya, kondisi saat ini menuntut masyarakat memiliki keterampilan yang mampu mendukung ketahanan pangan keluarga melalui metode yang sederhana, produktif, dan bernilai ekonomi.
“Peserta pelatihan berasal dari berbagai lapisan masyarakat. Harapannya mereka tidak hanya memperoleh wawasan, tetapi juga keterampilan untuk memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, khususnya sayuran,” ujarnya.
Sumanto menjelaskan, Muhammadiyah memiliki jaringan cabang, ranting, dan masjid yang sangat luas sehingga hasil pelatihan diharapkan dapat diteruskan hingga tingkat akar rumput.
Ia berharap ke depan terbentuk tim-tim pelatih maupun kelompok hidroponik dari unsur cabang, ranting, dan takmir masjid yang mampu mengembangkan budidaya hidroponik di lingkungan masing-masing.
“Mudah-mudahan peserta pelatihan dari cabang, ranting, dan masjid dapat menjadi penggerak sehingga hidroponik berkembang sampai ke masyarakat luas. Kami akan berusaha agar program ini terus eksis melalui sinergi Majelis Ekonomi, Majelis Wakaf, dan LPCR,” katanya.
Selain mendukung ketahanan pangan, Sumanto menilai keterampilan hidroponik dapat memberikan rasa percaya diri kepada masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sayuran secara mandiri sekaligus membuka peluang usaha baru.
Sementara itu, perwakilan Komisi Ekonomi MUI Surakarta, Zaki Setiawan, menyampaikan apresiasi atas inisiatif Muhammadiyah yang secara konsisten menyelenggarakan pelatihan hidroponik bagi masyarakat.
Ia menilai program tersebut memiliki dampak strategis karena tidak hanya meningkatkan kesejahteraan ekonomi umat, tetapi juga berkontribusi terhadap peningkatan kualitas kesehatan masyarakat.
“Kami dari Komisi Ekonomi MUI Surakarta merasa gembira dan bangga atas inisiatif Muhammadiyah dalam menyelenggarakan pelatihan hidroponik ini. Semoga kegiatan ini mampu meningkatkan kesejahteraan umat,” ujarnya.
Menurut Zaki, hasil budidaya hidroponik memiliki nilai jual yang dapat menambah pendapatan keluarga. Di sisi lain, ketersediaan sayuran segar juga membantu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat sehingga berdampak positif terhadap kesehatan.
Ia berharap kolaborasi antara Muhammadiyah dan MUI Surakarta dapat terus berlanjut melalui berbagai program pemberdayaan ekonomi umat yang berbasis ketahanan pangan.
Pelatihan Hidroponik Skala Dasar Sesi 2 ini menjadi salah satu langkah nyata memperkuat sinergi antara Muhammadiyah dan MUI Surakarta dalam membangun kemandirian pangan masyarakat. Melalui perpaduan materi dan praktik lapangan, para peserta diharapkan mampu mengembangkan budidaya hidroponik secara mandiri di rumah maupun di lingkungan masjid, cabang, dan ranting Muhammadiyah sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat. (*)


