DEPOK, MENARA62.COM – Media dinilai memiliki peran strategis dalam mendorong kemajuan pendidikan nasional. Namun, pemberitaan pendidikan selama ini masih didominasi narasi persoalan, mulai dari tawuran pelajar, perundungan, persoalan penerimaan peserta didik baru (PPDB), rendahnya kesejahteraan guru, hingga keterbatasan infrastruktur sekolah.
Padahal, di balik berbagai tantangan tersebut terdapat banyak kisah inspiratif yang layak diangkat sekaligus dikawal hingga mampu melahirkan perubahan sosial. Gagasan itu mengemuka dalam diskusi dan bedah buku “Jurnalisme untuk Kemanusiaan: Panduan Praktik Jurnalisme Filantropi” karya dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung sekaligus Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. Roni Tabroni, M.Si.
Kegiatan yang berlangsung di BBPPMPV Bisnis dan Pariwisata, Bojongsari, Depok, Jawa Barat, Kamis (30/7/2026), menghadirkan akademisi, praktisi media, serta pemangku kebijakan untuk membahas pentingnya menghadirkan paradigma baru dalam praktik jurnalistik, khususnya pada isu pendidikan.
Dalam pemaparannya, Roni menjelaskan bahwa jurnalisme filantropi merupakan pendekatan jurnalistik yang tidak berhenti pada penyampaian informasi maupun fungsi kontrol sosial. Lebih dari itu, media harus mampu menjadi bagian dari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Jurnalisme filantropi merupakan paradigma baru yang sangat relevan digunakan pada isu pendidikan. Media tidak hanya menyampaikan persoalan, tetapi mengawal lahirnya solusi dan perubahan yang memberi manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurut Roni, selama ini pemberitaan pendidikan bergerak pada dua fungsi utama, yakni menyampaikan informasi dan menjalankan kontrol sosial terhadap kebijakan maupun berbagai persoalan pendidikan. Kedua fungsi tersebut tetap penting dalam sistem demokrasi, tetapi belum cukup apabila media ingin memberikan kontribusi yang lebih besar bagi kemajuan pendidikan nasional.
Ia menilai jurnalisme perlu berorientasi pada impact journalism, yakni memastikan setiap pemberitaan mampu mendorong lahirnya perubahan sosial yang nyata.
“Jurnalisme filantropi tidak berorientasi pada seberapa banyak berita pendidikan dipublikasikan atau seberapa viral pemberitaan itu. Yang jauh lebih penting adalah seberapa besar dampaknya terhadap perbaikan dunia pendidikan,” jelasnya.
Roni mencontohkan masih banyak guru di berbagai daerah yang mengabdi dengan penuh dedikasi meski menerima penghasilan yang jauh dari layak. Menurutnya, kisah-kisah pengabdian tersebut sering tertutupi oleh dominasi pemberitaan mengenai persoalan pendidikan.
“Di balik rendahnya kesejahteraan guru, ada banyak kisah pengabdian yang luar biasa. Mereka datang paling pagi, pulang paling akhir, memastikan peserta didiknya memperoleh ilmu sekaligus keteladanan. Nilai-nilai seperti inilah yang perlu diangkat media,” katanya.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa jurnalisme filantropi tidak berhenti pada penyajian kisah inspiratif. Media juga memiliki tanggung jawab moral untuk mengawal isu tersebut hingga mendorong lahirnya kebijakan, kepedulian publik, maupun kolaborasi berbagai pihak yang dapat meningkatkan kesejahteraan para pendidik.
“Tujuannya bukan membangkitkan rasa iba. Namun, bagaimana menghadirkan apresiasi publik terhadap dedikasi mereka, sekaligus mendorong solusi konkret agar kondisi mereka menjadi lebih baik,” ungkapnya.
Roni juga menyoroti pentingnya pelaporan pascakebijakan di sektor pendidikan. Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya mengetahui sebuah kebijakan telah diterbitkan, tetapi juga perlu melihat dampak nyata implementasinya terhadap guru, peserta didik, dan kualitas layanan pendidikan.
“Pelaporan pascakebijakan menjadi penting sebagai bentuk transparansi. Publik perlu mengetahui apakah sebuah kebijakan benar-benar menghadirkan perubahan sosial atau justru masih menyisakan berbagai persoalan yang perlu diperbaiki,” tuturnya.
Diskusi dan bedah buku tersebut turut menghadirkan Kepala Biro Umum dan Pengadaan Barang dan Jasa Kemendikdasmen Herdiana, Staf Khusus Menteri Bidang Komunikasi dan Media Maruf, akademisi UMJ Tria Patrianti, serta Managing Editor Detik.com Erwin Daryanto.
Melalui forum ini, para peserta menegaskan pentingnya membangun praktik jurnalistik yang lebih humanis, partisipatif, dan berorientasi pada dampak. Jurnalisme tidak hanya berfungsi menyampaikan fakta, tetapi juga menjadi penggerak kolaborasi untuk menghadirkan perubahan positif bagi dunia pendidikan Indonesia. (FA)

