34.2 C
Jakarta

Mahasiswa UMS Ciptakan NECIS, Penghancur Limbah Jarum Suntik IoT

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Tim Program Kreativitas Mahasiswa Karsa Cipta (PKM-KC) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) https://www.ums.ac.id/ berhasil mengembangkan inovasi teknologi kesehatan berupa Needle Crusher Integrated System (NECIS), alat penghancur limbah jarum suntik berbasis Internet of Things (IoT). Inovasi ini dihadirkan sebagai solusi atas persoalan pengelolaan limbah medis infeksius yang masih menjadi tantangan di berbagai fasilitas kesehatan di Indonesia.

 

NECIS dikembangkan oleh tim yang diketuai Daffa Satria Nugraha, bersama Mahmudah Mufidatul Hasanah, Hengky Boyyanza, Safaila Mefia Zahra, dan Evandra Ardhy Pratama, di bawah bimbingan Ir. Dedi Ary Prasetya, S.T., M.Eng. Inovasi tersebut berhasil memperoleh pendanaan dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Program Kreativitas Mahasiswa skema Karsa Cipta (PKM-KC) 2026.

 

Ketua tim, Daffa Satria Nugraha, menjelaskan bahwa limbah jarum suntik merupakan salah satu limbah medis Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang memiliki risiko tinggi. Secara global, jumlahnya diperkirakan mencapai sekitar 16 miliar unit setiap tahun.

 

Di Indonesia, kata Daffa, banyak fasilitas kesehatan masih bergantung pada pihak ketiga untuk mengolah limbah medis. Kondisi tersebut menyebabkan limbah jarum suntik kerap menumpuk di lokasi pelayanan kesehatan sehingga meningkatkan risiko Needle Stick Injury (NSI) atau cedera akibat tertusuk jarum bagi tenaga medis.

 

“Kondisi tersebut mengakibatkan penumpukan limbah di lokasi pelayanan medis, sehingga meningkatkan risiko terjadinya Needle Stick Injury (NSI) pada tenaga kesehatan,” ujarnya, Jumat (31/7/2026).

 

Berangkat dari persoalan tersebut, tim PKM-KC UMS merancang NECIS sebagai sistem terintegrasi yang mampu melakukan penghancuran, sterilisasi, pemisahan, hingga pemantauan limbah dalam satu perangkat. Alat ini mengusung konsep point-of-care, sehingga limbah jarum suntik dapat langsung dimusnahkan di lokasi pelayanan kesehatan tanpa harus menunggu proses pengangkutan ke fasilitas pengolahan eksternal.

 

Daffa mengungkapkan, inovasi ini lahir karena teknologi yang selama ini digunakan masih memiliki keterbatasan.

 

“Fasilitas kesehatan masih bergantung pada pihak ketiga sehingga limbah jarum suntik sering menumpuk. Di sisi lain, alat seperti needle burner hanya melelehkan ujung logam jarum, sementara bagian plastiknya masih berpotensi membawa patogen. Dari celah inilah NECIS kami kembangkan,” jelasnya.

 

Secara teknis, NECIS bekerja melalui beberapa tahapan yang saling terintegrasi. Proses diawali dengan penghancuran mekanis menggunakan teknologi rotary shredder yang mampu mencacah jarum logam beserta tabung plastik secara bersamaan hanya dalam waktu sekitar 8–10 detik.

 

Serpihan hasil penghancuran kemudian disterilisasi menggunakan sinar UV-C untuk menghilangkan kontaminasi patogen. Setelah itu, sistem magnetic segregation secara otomatis memisahkan serpihan logam dan plastik ke dalam wadah berbeda sehingga memudahkan proses pengelolaan lanjutan sekaligus mendukung prinsip pengelolaan limbah berkelanjutan.

 

Keunggulan lain NECIS adalah penerapan sistem pemantauan berbasis IoT yang terhubung dengan dashboard berbasis web. Melalui fitur ini, rumah sakit dapat memantau kapasitas limbah secara real-time, sehingga proses pengelolaan menjadi lebih efisien, terukur, dan terkendali.

 

Selain itu, dari aspek keselamatan kerja, NECIS dirancang menggunakan sistem tertutup (fully enclosed) untuk mencegah paparan aerosol maupun cairan infeksius selama proses penghancuran dan sterilisasi berlangsung. Desain tersebut diharapkan mampu meningkatkan aspek Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) bagi tenaga kesehatan.

 

Tim pengembang berharap purwarupa NECIS dapat segera diuji coba di berbagai fasilitas kesehatan dan menjadi solusi inovatif dalam pengelolaan limbah medis di Indonesia.

 

“Kami berharap purwarupa NECIS dapat diuji coba di fasilitas kesehatan dan menjadi solusi nyata dalam meningkatkan keamanan pengelolaan limbah jarum suntik sekaligus melindungi tenaga kesehatan dari risiko Needle Stick Injury,” tutup Daffa. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!