BANDUNG, MENARA62.COM – Di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), keberadaan perpustakaan dinilai semakin strategis sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang kritis, inovatif, dan berbudaya literasi. Karena itu, kebijakan efisiensi anggaran yang berdampak pada Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dinilai perlu dikaji secara cermat agar tidak menghambat pembangunan kualitas bangsa.
Kepala Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung), Muhsin Jazuli, menilai penurunan anggaran Perpusnas pada 2026 telah berdampak pada terhentinya sejumlah program penguatan literasi yang selama ini menjadi tulang punggung peningkatan budaya membaca masyarakat.
Menurut Muhsin, efisiensi anggaran memang menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam mengelola keuangan negara. Namun, perpustakaan tidak semestinya diposisikan sebagai pos belanja yang dapat dikurangi, melainkan sebagai investasi jangka panjang bagi kemajuan Indonesia.
“Saya memahami efisiensi anggaran merupakan kebutuhan negara. Namun, Perpustakaan Nasional bukanlah beban, melainkan justru infrastruktur pengetahuan yang menopang lahirnya masyarakat pembelajar, riset, dan inovasi,” ujar Muhsin di sela aktivitasnya di Kampus UM Bandung, Sabtu (1/8/2026).
Muhsin menegaskan, anggapan bahwa perkembangan AI akan mengurangi peran perpustakaan merupakan pandangan yang keliru. Menurutnya, AI dan perpustakaan justru memiliki hubungan yang saling melengkapi dalam membangun ekosistem pengetahuan.
Ia mengibaratkan AI sebagai mesin yang membutuhkan bahan bakar berupa data dan pengetahuan berkualitas, sementara perpustakaan menyediakan sumber-sumber tersebut melalui buku, jurnal ilmiah, naskah, dan berbagai referensi yang telah melalui proses kurasi.
“AI itu ibarat mesin, sedangkan perpustakaan menyediakan bahan bakarnya berupa buku, jurnal ilmiah, naskah, dan data yang telah dikurasi. AI mampu memberikan jawaban dengan cepat, tetapi perpustakaan mengajarkan kita bertanya, memverifikasi informasi, dan berpikir kritis,” katanya.
Selain menjadi pusat informasi, perpustakaan juga berperan penting dalam menjamin pemerataan akses terhadap pengetahuan. Di tengah kesenjangan akses perangkat digital dan internet, perpustakaan tetap menjadi ruang belajar yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat.
Muhsin mengingatkan, melemahnya dukungan terhadap perpustakaan dapat berdampak serius terhadap masa depan pengembangan AI dan riset di Indonesia. Menurutnya, kemajuan teknologi tidak akan tercapai tanpa budaya literasi yang kuat dan ketersediaan sumber pengetahuan yang berkualitas.
“Kalau hari ini kita mengurangi investasi pada perpustakaan, lima atau sepuluh tahun ke depan kita bisa kekurangan bahan bakar pengetahuan. SDM kita kehilangan kompas literasi, sedangkan AI tidak akan berkembang tanpa data dan sumber ilmu yang berkualitas,” tegasnya.
Ia pun mendorong pemerintah menjadikan Perpusnas sebagai pusat data dan literasi AI nasional. Selain itu, pemerintah juga diharapkan dapat mengembangkan berbagai skema pendanaan yang lebih produktif tanpa mengurangi layanan kepada masyarakat.
Menurut Muhsin, membangun infrastruktur fisik dapat diselesaikan dalam beberapa tahun, tetapi membangun peradaban membutuhkan komitmen jangka panjang melalui penguatan budaya literasi.
“Sudah saatnya kita berhenti memandang perpustakaan sebagai beban anggaran. Perpustakaan adalah investasi paling murah untuk melahirkan bangsa yang cerdas, karena bangsa yang besar selalu merawat ruang berpikirnya,” pungkasnya. (FA)
