BANDUNG, MENARA62.COM — Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung mendorong penguatan karakter, kepemimpinan, dan literasi digital generasi muda melalui program pemberdayaan remaja Karang Taruna di Kampung Talun, Desa Jelegong, Kabupaten Bandung.
Program pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pemberdayaan Remaja Karang Taruna melalui Program Literasi Islami untuk Penguatan Akhlak dan Kepemimpinan” tersebut mulai dilaksanakan sejak Juni 2026 dengan menyasar 40 anggota Karang Taruna.
Kegiatan mendapat dukungan pendanaan Basis Informasi Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (BIMA) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Tahun 2026.
Program diketuai Hernawati dengan anggota Iim Ibrohim dan Supala. Tim juga melibatkan Hikmi, praktisi digital, sebagai narasumber pelatihan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), serta empat mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI), yakni Leon, Nizma, Aldi, dan Surya.
Program tidak hanya dirancang dalam bentuk pelatihan, tetapi juga mendorong remaja Karang Taruna mengambil peran lebih besar dalam kehidupan sosial dan pendidikan di lingkungannya.
Sejumlah kegiatan yang dilakukan meliputi pelatihan kepemimpinan, penguatan akhlak, literasi Islami, pemanfaatan AI, pengembangan pojok baca, serta pengoperasian gerobak literasi.
Kepemimpinan Berbasis Akhlak
Salah satu fokus utama program adalah membentuk kapasitas kepemimpinan anggota Karang Taruna. Peserta dibekali materi mengenai tanggung jawab, komunikasi, kerja sama, pengelolaan organisasi, dan pengambilan keputusan.
Materi kepemimpinan disampaikan Supala. Menurutnya, kepemimpinan remaja tidak cukup hanya ditopang kemampuan teknis organisasi.
“Kepemimpinan yang kami dorong bukan sekadar bagaimana mengatur kegiatan atau memimpin rapat. Remaja Karang Taruna perlu memahami bahwa memimpin berarti berani mengambil tanggung jawab, mendengarkan orang lain, dan memberi teladan dalam tindakan sehari-hari,” ujar Supala.
Pelatihan juga menggunakan simulasi dan studi kasus agar peserta dapat menghadapi persoalan yang mungkin muncul dalam aktivitas organisasi.
Selain kemampuan teknis, program menempatkan karakter dan keteladanan sebagai fondasi kepemimpinan. Melalui literasi Islami, peserta didorong memahami nilai kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, kepedulian, amanah, dan gotong royong.
Penguatan akhlak disampaikan Iim Ibrohim. Ia menilai akhlak menjadi dasar dalam menentukan arah pemanfaatan ilmu dan keterampilan yang dimiliki generasi muda.
“Sepintar apa pun seseorang memimpin atau menguasai teknologi, tanpa akhlak yang baik semua itu bisa disalahgunakan. Karena itu kajian akhlak kami tempatkan sebagai dasar, bukan pelengkap, dalam program ini,” jelas Iim.
Materi akhlak juga dikaitkan dengan persoalan sehari-hari, seperti tanggung jawab dalam berorganisasi, kejujuran ketika bermedia sosial, dan kepedulian terhadap lingkungan.
Remaja Diajak Bijak Manfaatkan AI
Perkembangan teknologi digital menjadi bagian lain yang diperhatikan dalam program tersebut. Anggota Karang Taruna mendapatkan pelatihan pemanfaatan AI untuk mendukung aktivitas organisasi dan kegiatan literasi.
Pelatihan yang disampaikan praktisi digital Hikmi tersebut tidak berhenti pada pengenalan teknologi. Peserta diajak mempraktikkan penggunaan AI untuk menyusun materi kegiatan, membuat konten edukatif, hingga membantu dokumentasi Karang Taruna.
“Banyak anak muda sudah akrab dengan AI, tetapi belum tentu tahu cara memanfaatkannya secara tepat. Dalam pelatihan ini kami ajak mereka praktik langsung,” ujar Hikmi.
Ia menekankan pentingnya kemampuan menyaring informasi secara kritis. Menurutnya, penguasaan AI harus disertai tanggung jawab dan etika agar teknologi digunakan untuk menghasilkan karya yang bermanfaat.
Peserta juga dibekali pemahaman mengenai kejujuran, ketepatan informasi, hak cipta, serta nilai moral dalam pemanfaatan AI.
Pojok Baca Hadirkan 245 Buku
Penguatan budaya membaca menjadi bagian penting dari program pemberdayaan tersebut. Tim pengabdian bersama Karang Taruna mengembangkan pojok baca yang kini memiliki 245 buku untuk anak-anak dan remaja.
Hernawati, selaku penanggung jawab sekaligus narasumber manajemen Pojok Literasi, mengatakan pengelolaan pojok baca secara bertahap diberikan kepada anggota Karang Taruna agar program dapat berkelanjutan.
“Kami tidak ingin pojok baca ini hanya ramai selama program berjalan lalu terbengkalai setelah kegiatan selesai. Karena itu remaja dilatih langsung mengelola koleksi, mencatat peminjaman, dan menyusun jadwal kegiatan,” kata Hernawati.
Jumlah 245 judul buku tersebut bahkan melampaui target awal program. Koleksi diharapkan terus bertambah melalui keterlibatan masyarakat dan jejaring donasi buku.
Pojok baca tidak hanya ditujukan sebagai tempat menyimpan buku, tetapi juga ruang interaksi, belajar, dan berbagi pengetahuan bagi anak-anak serta remaja di Kampung Talun.
Gerobak Literasi Berkeliling
Untuk memperluas akses bacaan, tim juga menghadirkan gerobak literasi yang akan berkeliling ke sejumlah RT di Kampung Talun setiap Minggu.
Konsep tersebut dirancang agar kegiatan membaca tidak terpusat di satu lokasi. Gerobak literasi diharapkan dapat mendekatkan bahan bacaan kepada lebih banyak anak dan remaja sekaligus menghidupkan aktivitas literasi di lingkungan masyarakat.
Pengelolaan gerobak melibatkan anggota Karang Taruna. Dengan demikian, remaja tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga berperan sebagai pengelola dan penggerak budaya literasi.
Ketua Karang Taruna Kampung Talun, Adi Surya, menyambut positif program tersebut. Menurutnya, kegiatan itu memberikan pengetahuan dan keterampilan baru bagi anggota Karang Taruna.
“Kami sangat senang dengan adanya kegiatan PKM ini. Selain menambah wawasan, teman-teman anggota Karang Taruna juga mendapat keterampilan baru, mulai dari cara memimpin kegiatan, mengelola pojok baca, sampai memanfaatkan AI untuk keperluan organisasi,” ujar Adi.
Ia berharap program tetap berlanjut setelah rangkaian pengabdian selesai. Karang Taruna juga berkomitmen mengembangkan pojok baca dan gerobak literasi secara mandiri dengan tetap menjalin komunikasi bersama tim UM Bandung.
Bangun Generasi Literat dan Adaptif
Perpaduan literasi Islami, penguatan akhlak, kepemimpinan, keterampilan AI, dan budaya membaca menjadi pendekatan UM Bandung dalam memberdayakan remaja Karang Taruna Kampung Talun.
Program tersebut diarahkan untuk membentuk generasi muda yang memiliki kemampuan intelektual, kecakapan teknologi, karakter, sekaligus kepedulian sosial.
Keterlibatan Karang Taruna dalam perencanaan, pelaksanaan, dan pengelolaan kegiatan menjadi kunci keberlanjutan program. Dengan rasa memiliki yang tumbuh di kalangan remaja, berbagai fasilitas dan aktivitas literasi diharapkan tetap berjalan setelah program pengabdian berakhir.
Dari Kampung Talun, UM Bandung bersama masyarakat berupaya membangun ekosistem belajar yang tidak hanya menghasilkan generasi melek teknologi, tetapi juga berakhlak, mampu memimpin, dan siap mengambil peran dalam kehidupan sosial. (*)

