JAKARTA, MENARA62.COM — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memastikan proses pembelajaran bagi murid di satuan pendidikan terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT) tetap berjalan dengan menyesuaikan kondisi di lapangan.
Kemendikdasmen menyampaikan dukacita mendalam atas bencana yang melanda sejumlah wilayah NTT serta dampaknya terhadap masyarakat, termasuk murid, guru, dan tenaga kependidikan.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan keselamatan warga sekolah menjadi prioritas utama dalam penyelenggaraan pembelajaran di daerah terdampak bencana.
“Prioritas dan komitmen Kemendikdasmen adalah keselamatan guru dan murid di wilayah bencana. Karena itu, pembelajaran yang dilakukan juga mempertimbangkan keselamatan guru dan murid. Salah satunya menggunakan sistem pembelajaran darurat dengan kurikulum darurat,” kata Abdul Mu’ti.
512 Sekolah Terdampak Bencana
Berdasarkan data Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) per 19 Agustus 2026, sebanyak 512 satuan pendidikan di tujuh kabupaten terdampak bencana di NTT.
Dampak tersebut mencakup 94.452 murid serta 8.755 guru dan tenaga kependidikan.
Bencana juga menyebabkan aktivitas pembelajaran 52.268 murid di 276 satuan pendidikan terganggu. Sebagian sekolah diliburkan sehingga pembelajaran dilakukan dari rumah masing-masing maupun di titik-titik pengungsian.
Kemendikdasmen memastikan dukungan untuk keberlangsungan pembelajaran telah mulai disalurkan ke sejumlah wilayah terdampak.
Di Labuan Bajo, tim Kemendikdasmen telah tiba membawa bantuan untuk mendukung warga sekolah selama masa darurat.
“Tim Kemendikdasmen yang sudah sampai di Labuan Bajo telah membawa bantuan yang berisi 2.000 paket bingkisan anak, 800 school kit, dan 70 family kit untuk mendukung pembelajaran di masa darurat,” ujar Abdul Mu’ti.
Pembelajaran Disesuaikan Kondisi Bencana
Kemendikdasmen melalui Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) juga menyiapkan panduan pembelajaran bagi satuan pendidikan yang terdampak bencana.
Kepala BKPDM, Toni Toharudin, mengatakan panduan tersebut disusun untuk memastikan hak belajar murid tetap terpenuhi meskipun satuan pendidikan menghadapi keterbatasan.
“Kami memastikan mereka tetap mendapatkan dukungan agar proses pembelajaran dapat terus berlangsung dan hak belajar murid tetap terpenuhi, meskipun berada dalam kondisi yang penuh keterbatasan,” ujar Toni di Jakarta, Rabu (19/8/2026).
Dalam panduan tersebut, sekolah tidak diwajibkan menerapkan pola pembelajaran seperti kondisi normal. Satuan pendidikan diberikan ruang untuk menyesuaikan kegiatan belajar berdasarkan tingkat kerusakan, ketersediaan sarana dan prasarana, kondisi murid dan guru, serta situasi lingkungan.
Materi pembelajaran juga dapat diprioritaskan pada hal-hal yang esensial dan relevan dengan kebutuhan murid.
Selain literasi dan numerasi dasar, sekolah diarahkan memperhatikan keselamatan diri, dukungan psikososial, serta pemulihan rutinitas belajar.
Metode pembelajaran dapat dilakukan melalui tatap muka terbatas, pembelajaran mandiri, maupun metode lain yang memungkinkan sesuai kondisi dan sumber daya yang tersedia.
Pemulihan Psikososial Jadi Perhatian
Kemendikdasmen juga menempatkan pemulihan psikososial sebagai bagian penting dalam keberlangsungan pendidikan pascabencana.
Bencana dapat memberikan dampak emosional terhadap murid, guru, dan tenaga kependidikan. Karena itu, lingkungan sekolah diharapkan kembali menjadi ruang aman yang membantu warga sekolah memulihkan kondisi secara bertahap.
Sekolah diharapkan dapat mendukung pemulihan rasa percaya diri sekaligus membantu murid dan guru kembali menjalankan aktivitas belajar secara perlahan sesuai kesiapan masing-masing.
Untuk membantu satuan pendidikan menerapkan pembelajaran dalam kondisi darurat, Kemendikdasmen menyediakan berbagai contoh kegiatan dan materi pendukung yang dapat menjadi inspirasi bagi sekolah.
Contoh pembelajaran tersebut dapat diakses masyarakat melalui laman Rumah Pendidikan.
Kemendikdasmen mengajak pemerintah daerah, dinas pendidikan, kepala sekolah, guru, dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan di NTT memperkuat kolaborasi untuk memastikan pembelajaran tetap berlangsung.
Dalam kondisi bencana, pelaksanaan pendidikan diarahkan tetap mengedepankan tiga prinsip utama, yakni keselamatan, fleksibilitas, dan kebutuhan murid.
Pemerintah menegaskan bahwa kondisi bencana tidak boleh menjadi penghalang bagi anak-anak untuk mendapatkan hak atas pendidikan. Dukungan bersama dari seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci agar proses belajar dapat terus berjalan hingga kondisi kembali pulih. (*)
