31.8 C
Jakarta

Psikolog UMS: Pensiun Bukan Akhir dari Pengabdian

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Masa pensiun kerap dipandang sebagai akhir dari rutinitas dan peran seseorang. Namun, bagi para guru dan kepala sekolah yang telah puluhan tahun mengabdi, pensiun justru dapat menjadi awal dari ladang pengabdian yang baru.

 

Pesan itu disampaikan psikolog sekaligus akademisi UMS, Sholeh Amini Yahman, M.Psi., saat memberikan tausiyah dalam Silaturahmi dan Pengajian Pensiunan Perguruan Muhammadiyah Kota Surakarta di SD Muhammadiyah 1 Surakarta, Sabtu (29/8/2026).

 

Mengangkat tema “Ketika Usia Bertambah, Jangan Biarkan Makna Hidup Berkurang: Menjadi Tua dengan Sehat, Sejahtera, Bahagia, dan Tetap Bermanfaat”, Sholeh mengajak para pensiunan tidak memandang usia lanjut sebagai fase kehilangan.

 

Sebaliknya, bertambahnya usia merupakan kesempatan untuk memperbanyak amal, memperbaiki diri, dan tetap memberi manfaat bagi orang lain.

 

“Ketika kita telah memasuki usia lanjut, jangan hanya berkata, ‘Saya sudah tua.’ Tetapi katakanlah, ‘Alhamdulillah, Allah masih memberikan saya kesempatan untuk menjadi tua’,” kata Sholeh.

 

Menurut dia, menjadi tua merupakan kepastian dalam kehidupan manusia. Rambut memutih, keriput, langkah melambat, dan tenaga yang berkurang bukanlah kegagalan, melainkan bagian dari sunnatullah.

 

Karena itu, persoalan terpenting bukan seberapa panjang usia seseorang, melainkan bagaimana usia tersebut diisi dengan kehidupan yang bermakna.

 

Pensiun Bukan Pensiun dari Kehidupan

 

Sholeh menilai masa transisi menuju pensiun dapat memunculkan persoalan psikologis. Selama bertahun-tahun, seorang guru terbiasa menjalankan rutinitas, bertemu murid, berinteraksi dengan rekan kerja, mengikuti rapat, hingga memikul tanggung jawab sebagai pendidik.

 

Ketika semua aktivitas itu berhenti, seseorang dapat mempertanyakan kembali identitas dirinya.

 

“Sekarang saya siapa?” menjadi pertanyaan yang mungkin muncul setelah seseorang meninggalkan pekerjaan dan jabatan.

 

Namun, menurut Sholeh, Islam mengajarkan bahwa berakhirnya pekerjaan tidak berarti berakhir pula pengabdian.

 

“Pensiun dari pekerjaan bukan pensiun dari kehidupan, dan pensiun dari jabatan bukan pensiun dari pengabdian,” ujarnya.

 

Jika dahulu para guru mengabdi melalui sekolah, kini ruang pengabdian dapat berpindah ke keluarga dan masyarakat.

 

Mereka yang dahulu mendidik murid dapat mendidik cucu. Mereka yang dahulu memimpin guru dapat menjadi teladan bagi lingkungan.

 

“Jangan pernah mengatakan, ‘Saya sudah tidak berguna.’ Katakanlah, ‘Allah sedang memindahkan ladang pengabdian saya’,” tutur Sholeh.

 

Tetap Bergerak dan Belajar

 

Untuk menjalani masa tua dengan sehat dan bahagia, Sholeh memberikan sejumlah pesan praktis kepada para pensiunan.

 

Pertama, menjaga tubuh. Menurut dia, tubuh merupakan amanah Allah sehingga harus dirawat dengan aktivitas yang sesuai kemampuan, seperti berjalan kaki, senam, berkebun, tidur cukup, serta melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

 

Kedua, menjaga pola makan. Ia mengingatkan pentingnya menghindari makanan secara berlebihan dan memperhatikan asupan gula, garam, serta lemak.

 

Namun, makanan juga dapat menjadi sarana memperkuat hubungan keluarga.

 

“Makan bersama keluarga, berbicara, bercanda, dan berbagi cerita dapat menjadi obat bagi kesepian,” katanya.

 

Ketiga, tidak membiarkan pikiran ikut pensiun.

 

Para pensiunan tetap dianjurkan membaca buku dan Al-Qur’an, mengikuti pengajian, berdiskusi, menulis, belajar teknologi, serta mengikuti perkembangan kehidupan anak dan cucu.

 

“Pensiun boleh, tetapi belajar jangan pensiun,” tegasnya.

 

Bagi Sholeh, pengalaman panjang para guru merupakan aset yang sangat berharga. Ia menyebut para pensiunan pendidik sebagai “perpustakaan hidup”.

 

Di dalam diri mereka tersimpan pengalaman mendidik, memimpin sekolah, menghadapi berbagai karakter siswa, menghadapi perubahan zaman, hingga perjalanan perjuangan Muhammadiyah.

 

Karena itu, pengalaman tersebut perlu diwariskan kepada generasi berikutnya.

 

“Ceritakan kepada anak dan cucu, tuliskan, ajarkan, dan wariskan,” pesannya.

 

Jangan Kehilangan Silaturahmi

 

Hal lain yang tak kalah penting adalah menjaga hubungan sosial.

 

Sholeh mengingatkan bahwa kesepian dapat dialami seseorang meski berada di tengah keluarga. Karena itu, para pensiunan perlu tetap memiliki aktivitas dan komunitas.

 

Mengikuti pengajian, kegiatan Muhammadiyah, olahraga bersama, kegiatan sosial, atau sekadar bertemu sahabat dapat menjaga seseorang tetap merasa menjadi bagian dari lingkungan.

 

Selain tubuh dan pikiran, jiwa juga perlu dirawat.

 

Semakin bertambah usia, Sholeh mendorong seseorang semakin mendekatkan diri kepada Allah melalui shalat, membaca Al-Qur’an, zikir, doa, sedekah, silaturahmi, dan menghadiri majelis ilmu.

 

“Tubuh membutuhkan makanan, pikiran membutuhkan ilmu, perasaan membutuhkan kasih sayang, manusia membutuhkan teman, dan jiwa membutuhkan Allah,” ujarnya.

 

Bahagia Tidak Harus Kaya

 

Sholeh juga mengajak para pensiunan mendefinisikan kembali arti bahagia.

 

Menurut dia, bahagia bukan berarti tidak pernah sakit. Sejahtera juga tidak selalu berarti memiliki banyak harta.

 

Kebahagiaan terletak pada kemampuan memaknai kehidupan dan mensyukuri apa yang masih diberikan Allah.

 

Ia mengajak para peserta bertanya kepada diri sendiri: masihkah saya dicintai, masih dapat mencintai, masih berguna, masih mempunyai tujuan, dan masih dekat dengan Allah?

 

“Jika jawabannya iya, insyaallah kita masih mempunyai alasan yang sangat kuat untuk bahagia,” katanya.

 

Pada akhirnya, Sholeh meminta para pensiunan tidak menyerah kepada usia.

 

Tubuh boleh tidak lagi sekuat masa muda, tetapi semangat untuk berbuat baik harus tetap dijaga. Rambut boleh memutih, tetapi hati harus semakin bersih. Waktu terus berjalan, tetapi setiap sisa usia masih dapat diisi dengan amal.

 

“Menjadi tua adalah kepastian, tetapi menjadi tua dengan baik adalah pilihan,” pungkasnya.

 

Bagi para pensiunan guru Muhammadiyah, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pengabdian tidak mengenal batas usia. Ketika satu ruang pengabdian berakhir, ruang lainnya selalu terbuka.

 

Pensiun bukan akhir perjalanan. Ia adalah kesempatan untuk mengubah pengalaman menjadi keteladanan dan menjadikan sisa usia semakin bermakna. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!