31.6 C
Jakarta

KH Tafsir: Muhammadiyah Pilar Penting Menjaga Indonesia

Baca Juga:

SOLO, MENARA62.COM – Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Dr. KH Tafsir, M.Ag., mengajak warga Muhammadiyah menjadikan momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sebagai bahan refleksi untuk memperkuat kontribusi organisasi dalam menjaga dan memajukan Indonesia.

 

Pesan tersebut disampaikan KH Tafsir dalam Pengajian Spesial Hari Bermuhammadiyah yang digelar Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surakarta di Gedung Dakwah Balai Muhammadiyah Surakarta, Ahad (30/8/2026).

 

Mengangkat tema “Inspirasi HUT Kemerdekaan ke-81 RI untuk Jihad Masa Kini”, pengajian tersebut menjadi ruang refleksi mengenai perjalanan bangsa, karakter Muhammadiyah, serta tantangan yang dihadapi generasi saat ini.

 

Dalam tausyiahnya, KH Tafsir mengaitkan perjalanan Indonesia dengan pemikiran Ibnu Khaldun mengenai siklus kehidupan manusia dan negara. Ia menggunakan perspektif tersebut sebagai kerangka refleksi terhadap perjalanan Indonesia setelah merdeka selama 81 tahun.

 

Menurut Tafsir, perspektif siklus tersebut mengingatkan pentingnya regenerasi dan pewarisan nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bangsa yang tidak mampu menjaga nilai, karakter, dan semangat generasi pendirinya dinilai akan menghadapi tantangan serius dalam mempertahankan eksistensinya.

 

Muhammadiyah dan NU Dinilai Pilar Kebangsaan

 

Dalam refleksinya, Tafsir menempatkan Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) sebagai dua kekuatan masyarakat sipil yang memiliki peran penting dalam menjaga keutuhan Indonesia.

 

Ia menekankan bahwa kontribusi organisasi kemasyarakatan Islam tidak berhenti pada aktivitas keagamaan, tetapi juga mencakup pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan penguatan kehidupan kebangsaan.

 

Bagi Muhammadiyah, perjuangan tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan organisasi sejak awal berdiri.

 

Tafsir menjelaskan bahwa KH Ahmad Dahlan membangun gerakan Muhammadiyah dengan pendekatan yang konkret dan bertahap. Pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kegiatan sosial dikembangkan sebagai instrumen untuk memperkuat umat sekaligus menjawab persoalan masyarakat pada zamannya.

 

Pendekatan tersebut, menurut Tafsir, memperlihatkan karakter Muhammadiyah yang tidak mengedepankan konfrontasi, melainkan menghadirkan solusi nyata melalui amal usaha.

 

Pendidikan Jadi Strategi Membangun Peradaban

 

Salah satu hal yang ditekankan Tafsir adalah pentingnya pendidikan dalam membangun kekuatan umat dan bangsa.

 

Ia melihat pendidikan bukan hanya sebagai proses transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana membentuk karakter, identitas, dan kemampuan generasi untuk menghadapi perubahan zaman.

 

Karena itu, kader Muhammadiyah perlu memiliki fondasi keilmuan yang kuat sekaligus kemampuan menerjemahkan ilmu menjadi amal nyata.

 

Pendidikan kader juga perlu dilakukan secara berkelanjutan sejak usia dini hingga pendidikan tinggi.

 

Dalam konteks tersebut, pengembangan lembaga pendidikan Muhammadiyah menjadi bagian strategis dari proses kaderisasi dan pembangunan sumber daya manusia.

 

Muhammadiyah Pilih Jalan Kolaborasi

 

Tafsir juga menyoroti karakter Muhammadiyah dalam relasinya dengan negara. Menurut dia, Muhammadiyah memiliki tradisi untuk berkontribusi dan bekerja sama secara konstruktif dengan pemerintah.

 

Sikap tersebut tidak berarti Muhammadiyah kehilangan daya kritis. Sebaliknya, organisasi tetap menjalankan fungsi amar makruf nahi mungkar dengan cara yang santun dan konstruktif.

 

Prinsip kerja sama dinilai penting agar energi organisasi dapat diarahkan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat daripada terjebak dalam konflik politik yang kontraproduktif.

 

Komitmen terhadap Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) juga menjadi bagian dari perjalanan Muhammadiyah dalam kehidupan kebangsaan.

 

Jihad Masa Kini Hadir dalam Amal Nyata

 

Mengacu pada tema pengajian, Tafsir mengajak warga Muhammadiyah memahami jihad dalam konteks kehidupan kekinian.

 

Jihad masa kini dapat diwujudkan melalui kerja keras membangun pendidikan berkualitas, pelayanan kesehatan, penguatan ekonomi masyarakat, pengembangan ilmu pengetahuan, serta berbagai bentuk pelayanan sosial.

 

Dengan pendekatan tersebut, jihad tidak semata dipahami sebagai narasi perjuangan, tetapi sebagai energi untuk menghadirkan kemanfaatan bagi masyarakat.

 

Semangat tersebut sekaligus relevan dengan karakter Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang menggabungkan dakwah dengan amal usaha dan pengabdian sosial.

 

Regenerasi Jadi Kunci Masa Depan

 

Tafsir mengingatkan bahwa tantangan terbesar organisasi dan bangsa bukan hanya persoalan perubahan teknologi, melainkan kemampuan generasi penerus menjaga nilai-nilai yang telah dibangun para pendahulu.

 

Karena itu, kaderisasi menjadi kebutuhan strategis Muhammadiyah.

 

Kader masa depan dituntut memiliki kedalaman keagamaan, keluasan wawasan, kemampuan profesional, sekaligus kepedulian terhadap persoalan bangsa.

 

Pengajian Spesial Hari Bermuhammadiyah di Surakarta pun menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran tersebut.

 

Setelah 81 tahun Indonesia merdeka, perjuangan generasi sekarang bukan lagi merebut kemerdekaan, melainkan mengisi dan mempertahankannya melalui karya, ilmu, pelayanan, dan pengabdian.

 

Bagi Muhammadiyah, semangat tersebut menjadi bagian dari jihad masa kini: memastikan kemajuan bangsa tetap berjalan beriringan dengan penguatan moral, keadaban, persatuan, dan kemanusiaan. (*)

- Advertisement -
- Advertisement -

Terbaru!